Perdarahan Post Partum

Posted on June 26, 2008 by diyoyen.
Categories: Public Health.

Perdarahan Post Partum

post partum bleedingDefinisi :
Perdarahan Post partum (PPP) adalah perdarahan setelah bayi lahir (Kala
IV) sebelum / pada saat setelah plasenta lahir, dengan jumlah >500
cc.

Penyebab :

  • Atonia  uteri
  • Laserasi jalan lahir
  • Retensio Plasenta
  • Kelainan proses pembekuan darah.

Penatalaksanaan :

  • Pasien diinfus
  • Pasien tidur trendelenberg
  • Selimuti tubuh Pasien
  • Oksigenasi

Atonia  Uteri

  • Massage uterus melalui diding abdomen dengan cara : tangan kanan penolong melakukan gerakan memutar sambil menekan infus uteri.
  • Bersamaan dengan massage uterus ? beri methergin 0,2 mg ( Metil ergometrin ) iv
  • Bila pendarahan belum berhenti -> beri oxytosin 5-10 unit dalam 500 ml Dextrose 5% atau RL.
  • Bila tindakan di atas tidak menolong -> kompresi bimanual,
    dengan cara : satu tangan masuk uterus, tangan yang lain menahan korpus
    uteri melalui abdomen. Uterus diangkat, diantefleksikan, lalu dengan
    gerakan memutar uterus dimassage dan ditekan di antara kedua tangan.
  • Bila pendarahan belum juga berhenti -> tamponade uterus, dengan
    cara : salah satu tangan memegang dan menahan fundus uteri, tangan yang
    lain memasukan tampon kasa panjang ke dalam uterus. Tampon dipasang
    dari tepi ke tepi sampai seluruh kavum uteri terisi dan vagina juga
    terisi tampon . Pada dinding abdomen di atas fundus uteri diberi ganjal
    -> pasang stagen.
  • Tampon diangkat 24 jam kemudian.
  • Uterus yang makin membesar, tanda vital yang makin jelek ->
    rujuk dengan keterangan bahwa di dalam uterus terpasang tampon (selama
    dalam perjalanan tetap dilakukan kompresi bimanual).

Laserasi  jalan  lahir
Dengan spekulum lakukan eksplorasi, apakah ada :

  • Perlukaan jalan lahir / robekan vagina / robekan serviks
  • Luka episiotomi / robekan perineum
  • Varises pecah
  • Ruptur uteri (terutama bila riwayat persalinan sebelumnya sulit / dilakukan tindakan)

Penanganan :

  • Perlukaan -> jahitan silang yang dalam
  • Ruptur uteri -> rujuk ke RS / RSUD dengan infus terpasang didampingi seorang paramedis.

Retensio Plasenta
Lakukan manual Plasenta :

  • Satu tangan menahan fundus, tangan yang lain (dengan sikap
    obstetrik) dimasukan ke dalam vakum uteri dengan menyusuri tali pusat.
  • Pinggir plasenta ( sisa ) dicari dan dilepaskan secara tumpul dengan sisi ulnar tangan.
  • Setelah yakin semua plasenta lepas -> genggam dan keluarkan.
  • Pengeluaran ini dibarengi dengan massage uterus dari luar dan injeksi ergometrin  0,152 mg / metergin 0,2 mg iv.

Bila ditemukan plasenta akreta -> rujuk ke RS / RSUD dengan infus terpasang diserta seorang paramedis.

Kelainan proses pembekuan darah -> Rujuk

Abortus

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Abortus

Oktober 7, 2006 at 2:32 am | In ProTap

hamilAbortus imminens ( masih dapat dipertahankan )

Definisi :
Abortus imminens adalah perdarahan pada kehamilan < 28 minggu,
dengan / tanpa kontraksi uterus yang nyata, dengan hasil konsepsi dalam
uterus tanpa dilatasi servik.

Gejala dan tanda :

  • Mules-mules
  • Perdarahan pervaginam
  • Tanda-tanda kehamilan (+)
  • Status generalis ( + )
  • Status generalis: denyut bayi normal
  • Besar uterus sesuai umur kehamilan
  • Inspekulo : Ostium tertutup, Keluar darah dari ostium.

Diagnosa banding :

  • Mola hidotidosa
  • Kehamilan di luar rahim.

Penatalaksanaan :

  • Bed rest
  • Observasi perdarahan
  • Fenobarbital 3 x 30 mg / hari
  • Papaverin 3 x 40 mg / hari.

——————————————————————————————
Abortus insipiens ( sedang berlangsung )

Definisi :
Abortus insipiens adalah perdarahan pada kehamilan < 28 minggu
dengan dilatasi servik meningkat, dan hasil konsepsi masih dalam uterus.

Gejala dan tanda :

  • Amenore
  • Perdarahan pervaginam
  • Mules-mules
  • Tanda - tanda kehamilan (+)
  • Inspekulo : Ostum terbuka, Ketuban (+).

Penatalaksanaan :

  • Infus D5% = Oksitosin 10 unit ;
  • Bila abortus tidak lengkap ? lihat Abortus inkomplit

——————————————————————————————
Abortus inkomplit

Penatalaksanaan :

  • Infus NaCI / RL
  • Kuretase
  • Paska kuretase : Metil ergometrin 3 x 1 tab dan antibiotika
  • Observasi perdarahan

——————————————————————————————

Hiperemesis Gravidarum

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Hiperemesis Gravidarum

Emesis Gravidarum

Kriteria :

* Mual dan mutah selama kehamilan muda (6 - 16 minggu)
* Masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari;
* Sering timbul pada pagi hari (morning sickness).

Penatalaksaan :

* Pendekatan psikologis –>> terangkan bahwa itu merupakan gejala kehamilan muda, akan hilang sendiri setelah kehamilan 16 minggu
* Perbanyak istirahat
* Kurangi beban kerja sehari-hari dan beban psikologis
* Medikamentosa : pasang infus RL / D10% , jika KU jelek atau pre-shock –>> Antivomitus ( Primperan inj. +/ oral ) tranguliser.

Hiperemesis Gravidarum

Kreteria :

* Mual dan mutah semakin hebat
* Tidak dapat lagi melakukan aktivitas sehari-hari.

Penatalaksaan :

* Rawat inap
* Stop makan / minum dalam 24 jam pertama
* Obat-obat diberikan parenteral
* Infus D10% ( 2000 ml ) + RD5% ( 2000 ml) / hari tiap botol tambahan :
* Antiemetik ( metoklopramid hidrochlorid ) 1 amp (10 mg)
* Roborantia
* Kalau perlu Diazepam 10 mg im
* Psikoterapi
* Dalam 24 jam pertama –>> evaluasi
* Bila membaik : boleh makan / minum bertahap ;
* Bila tetap : Stop makan minum ? lanjutka R/ di atas untuk 24 jam kedua
* Bila dalam 24 jam kedua tidak membaik –>> pertimbangan rujukan
* Infus dilepas setelah 24 jam bebas mual dan mutah

Kriteria pulang :

* Mual dan mutah tidak ada lagi
* Keluhan subyektif tidak ada
* Tanda-tanda vital baik.

Demam Tifoid (Typhus Abdominalis)

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Demam Tifoid (Typhus Abdominalis)

Nopember 5, 2006 at 5:29 am | In ProTap

TyphusDefinisi :
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi dengan masa tunas 6-14 hari.

Gejala  dan  Tanda:

  • Demam > 7 hari, terutama pada malam hari, dan tidak spesifik
  • Gangguan saluran pencernaan: nyeri perut, sembelit/diare, muntah
  • Dapat ditemukan: lidah kotor, splenomegali, hepatomegali
  • Gangguan kesadaran : iritabel-delirium, apati sampai semi-koma
  • Bradikardi relatif, Rose-spots, epistaksis (jarang ditemukan)
  • Laboratorium : titer Widal 1/200 atau lebih atau 1/320 pada pemeriksaan ulangan dan klinis.  Diagnosa pasti dengan kultur.
    Titer aglutinin bisa tetap positip setelah beberapa minggu, bulan
    bahkan tahun, walau penderita sudah sehat. Kadang leukositosis, kadang
    leukopeni

Penatalaksanaan :

  • Bet rest total (tirah baring absolut) sampai minimal 7 hari bebas
    panas atau selama 14 hari, lalu mobilisasi secara bertahap -> duduk
    -> berdiri -> jalan pada 7 hari bebas panas
  • Diet tetap makan nasi, tinggi kalori dan protein (rendah serat) -> lihat Buku Ajar Penyakit Dalam jilid 1, edisi 3 cetakan ke 7, halaman 439, PAPDI, tahun 2004
  • Medikamentosa:
    1. Antipiretik (Parasetamol setiap 4-6 jam)
    2. Roborantia (Becom-C, dll)
    3. Antibiotika:
    • Kloramfenikol, Thiamfenikol : 4×500 mg, jika sampai 7 hari panas tidak turun (obat diganti)
    • Amoksilin/ampisilin : 1 gr/6 jam selama fase demam. Bila demam turun -> 750 mg/6 jam sampai 7 hari bebas panas
    • Kotrimoksasol : 2 X 960 mg Selama 14 hari atau sampai 7 hari bebas panas. Jika terjadi leukopeni (obat diganti)
    • Golongan sefalospurin generasi III (mahal)
    • Golongan quinolon (bila ada MDR)

Catatan:

Kortikosterroid: khusus untuk penderita yang sangat toksik (panas
tinggi tidak turun-turun, kesadaran menurun dan gelisah/sepsis):

  • Hari ke 1: Kortison 3 X 100 mg im atau Prednison 3 X 10 mg oral
  • Hari ke 2: Kortison 2 X 100 mg im atau Prednison 2 X 10 mg oral
  • Hari ke 3: Kortison 3 X 50 mg im atau Prednison 3 X 5 mg oral
  • Hari ke 4: Kortison 2 X 50 mg im atau Prednison 2 X 5 mg oral
  • Hari ke 5: Kortison 1 X 50 mg im atau Prednison 1 X 5 mg oral

Pada  Anak :

  • Klorampenikol : 50-100 mg/kg BB/dibagi dalam 4 dosis sampai 3 hari
    bebas panas / minimal 14 hari. Pada bayi < 2 minggu : 25 mg/kg
    BB/hari dalam 4 dosis. Bila dalam 4 hari panas tidak turun obat dapat
    diganti dengan antibiotika lain (lihat di bawah)
  • Kotrimoksasol : 8-20 mg/kg BB/hari dalam 2 dosis sampai 5 hari bebas panas / minimal 10 hari
  • Bila terjadi ikterus dan hepatomegali : selain Kloramfenikol
    diterapi dengan Ampisilin 100 mg/ kg BB/hari selama 14 hari dibagi
    dalam 4 dosis
  • Bila dengan upaya-upaya tersebut panas tidak turun juga, rujuk ke RSUD

Perhatian :

  • Jangan mudah memberi golongan quinolon, bila dengan obat lain masih
    bisa diatasi (baca ulasan penulis dalam: Booming Cyprofloxacin)
  • Jangan mudah memberi Kloramfenikol bagi kasus demam yang belum pasti Demam Tifoid, mengingat komplikasi Agranulositotis
  • Tidak semua demam dengan leukopeni adalah Demam Tifoid
  • Demam < 7 hari tanpa leukositosis pada umumnya adalah infeksi virus, jangan beri kloramfenikol

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Nopember 5, 2006 at 3:25 am | In ProTap

DBDDefinisi:
DBD adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan virus Dengue tipe
I-IV, disertai demam 5-7 hari gejala-gejala perdarahan, dan bila timbul
syok: angka kematian cukup tinggi.

Gejala dan tanda :

  • Derajat 1: panas 5-7 hari, gejala umum tidak khas, RL (+)
  • Derajat 2: seperti derajat I + perdarahan spontan (petekie,
    ekimosa, epistaksis, hematemesis, melena, perdarahan gusi, uterus,
    telinga, dll)
  • Derajat 3: ada gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah
    dan cepat (> 120 / menit), tekanan nadi sempit (< 120 mmHg),
    tekanan darah menurun dapat mencapai 0
  • Derajat4: nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur, denyut jantung > 140 / menit, acral dingin, berkeringat, kulit biru

Gejala  Lain :

  • Hati membesar, nyeri spontan dan pada perabaan
  • Asites
  • Cairan dalam roga pleura (kanan)
  • Ensepalopati: kejang, gelisah, sopor, koma

Prinsip  penatalaksanaan :

  • Memperbaiki keadaan umum
  • Mencegah keadaan yang lebih parah
  • Memperbaiki syok dan perdarahan (pen: rehidrasi sampai hari ke 7,
    namun hati-hati pada hari ke 6 dapat terjadi arus balik cairan
    intersitiel ke pembuluh darah)

Penatalaksanaan :

Penderita  Rawat Jalan:
  • Minum susu / Oralit / LGG sampai air kencing cukup banyak
  • Pesankan pada penderita : bila lemah, gelisah, kaki tangan dingin -> segera ke puskesmas
  • Kontrol tiap hari terutama hari ke 4 atau 5 -> anamnesis, pemeriksaan fisik, Hematokrit
Penderita Rawat Inap:
Tanpa syok:
  • Minum susu/oralit/LGG  sebanyak-banyaknya
  • Bila mutah / sakit perut ( infus RL dengan tetesan pemeliharaan
  • Antipiretik bila perlu (jangan beri aspirin/salisilat)
  • Antibiotika hanya diberikan jika ada infeksi sekunder
Dengan syok:
  • Infus RL 20 ml kg BB, evaluasi tiap 15 menit pada jam pertama
  • Oksigenasi bila perlu
  • Dexametason 2-5 mg/kg BB tiap 4-6 jam sampai keadaan stabil
  • Bila dalam 30 menit pertama nadi dantensi belum ada perbaikan -> rujuk keRSUD disertai oksigenasi
  • Antipiretik dan antibiotik sama dengan yang tanpa syok

Trauma Kapitis

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Trauma Capitis

Trauma CapitisPenatalaksanaan:

Anamnesa

  • Pingsan apa tidak? Jika pingsan -> berapa lama? jika > 10 menit -> rujuk ke RSUD
  • Apakah disertai mual, pusing/sakit kepala, muntah/tidak

Bila pasien tidak sadar

  • Perbaiki posisi dengan mengangkat dagu
  • Membuang benda-benda asing atau melepas gigi palsu
  • Hisap lendir

Pemeriksaan:

  • Tensi, nadi, pernafasan. Jika tensi menurun -> infus RL
  • Periksa trauma tulang belakang : bila ada tanda kelumpuhan ekstremitas -> rujuk ke RSUD
  • Tentukan nilai derajat kesadaran, periksa pupil:
    1. Isokor / anisocor dan bila midriasis > 1 mm -> rujuk ke RSUD.
    2. Reflek cahaya langsung / tidak langsung. Jika negatif -> rujuk ke RSUD
  • Periksa ekstremitas : jika ada tanda fraktur/kelumpuhan -> rujuk ke RSUD

Perawatan rawat inap di Puskesmas:

  • Istirahat baring tanpa bantal selama dalam perawatan
  • Awasi tensi, nadi, pernafasan, suhu setiap 30 menit
  • Infus D10% (kalau ada kecurigaan oedem otak). Jika KU lemah selang-seling dengan RL.
  • Pengobatan : Analgesik k/p, Diazepam (bila gelisah), Dimenhidrinat (bila muntah), Antibiotika (bila ada luka).

Perawatan di rumah

Melanjutkan istirahat baring tanpa bantal selama 1-2 minggu dan oabat-obat diteruskan sesuai kebutuhan.

Penilaian Derajat Kesadaran (Ditentukan oleh 3 variabel)

Pembukaan Mata:

  • Spontan: nilai=4
  • Dengan perintah verbal: nilai=3
  • Rangsang sakit: nilai=2
  • Tanpa reaksi: nilai=1

Respon Motorik:

  • Mengikuti perintah: nilai=6
  • Melokalisasi sakit: nilai=5
  • Gerakan fleksi: nilai=4
  • Fleksi abnormal: nilai=3
  • Ekstensi abnormal: nilai=2
  • Tanpa reaksi: nilai=1

Respon Verbal:

  • Orientasi baik: nilai=5
  • Disorientasi: nilai=4
  • Kata-kata jelas: nilai=3
  • Suara tidak berarti: nilai=2
  • Tanpa reaksi: nilai=1

Catatan:
Dari masing-masing variabel hanya diambil nilai teringgi saja, kemudian dijumlahkan.

Bila  jumlah  nilai  derajat  kesadaran:

  • Nilai 14-15 -> pasien rawat jalan
  • Nilai 10-13 -> pasien rawat inap
  • Nilai < 10  -> rujuk ke RSUD

Syok Anafilaksis

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Syok Anafilaksis

syok
Reaksi syok anafilaksis adalah terjadinya reaksi renjatan (syok) yang
memerlukan tindakan emergency karena bisa terjadi keadaan yang gawat
bahkan bisa menimbulkan kematian. Kalangan awam menerjemahkan
keracunan, padahal sesungguhnya adalah resiko dari tindakan medis atau
penyebab lain yang disebabkan faktor imunologi. Perlu diingat bahwa
reaksi alergi tidak semata ditentukan oleh jumlah alergen, namun pada
kenyataannya setiap pemberian obat tertentu (umumnya antibiotika secara
parenteral) dilakukan test kulit untuk melihat ada tidaknya reaksi
alergi. Apakah tindakan ini hanya bersifat psikologis? Perlu kajian
mendalam dari kalangan medis dan publikasi kepada publik tentang reaksi
alergi agar tidak diterjemahkan sebagai “mal praktek“.

Dikatakan “medical error” apabila nyata-nyata
seseorang yang mempunyai riwayat alergi obat tertentu tetapi masih
diberikan obat sejenis. Karena itu penting untuk memberikan penjelasan
dan cacatan kepada penderita yang mempunyai riwayat alergi, agar tidak
terjadi reaksi syok anafilaksis.
Berikut ini adalah penyebab, reaksi tubuh, derajat dan penatalaksanaan reaksi syok anafilaksis.

Penyebab:

  • Obat-obatan:

    1. Protein: Serum heterolog, vaksin,ektrak alergen
    2. Non Protein: Antibiotika,sulfonamid, anestesi lokal, salisilat.
  • Makanan: Kacang-kacangan, mangga, jeruk, tomat, wijen, ikan laut, putih telor, susu, coklat, zat pengawet.
  • Lain-lain: Olah raga, berlari, sengatan (tawon, semut)

Reaksi Tubuh:

  • Lokal: Urtikaria, angio-edema
  • Sistemik:
    1. Kulit/mukosa: konjungtivitis,rash,urtikaria
    2. Saluran napas: edema laring, spasme bronkus
    3. Kardiovaskuler: aritmia
    4. Saluran cerna: mual, muntah, nyeri perut, diare

Derajat Alergi:

Ringan:
Rasa tidak enak, rasa penuh di mulut, hidung tersumbat, edema pre-orbita, kulit gatal, mata berair.

Sedang:
Seperti di atas, ditambah bronkospasme

Berat (syok):

  • Gelisah, kesadaran menurun
  • Pucat, keringat banyak, acral dingin
  • Jantung berdebar, nyeri dada, takikardi, takipneu
  • Tekanan darah menurun, oliguri

Penatalaksanaan Reaksi Alergi:

Ringan:
Stop alergen, beri Antihistamin

Sedang:

  • Seperti di atas di tambah: aminofilin atau inj. Adrenalin 1/1000
    0,3 ml sc/im, dapat diulang tiap 10-15 menit sampai sembuh, maksimal 3
    kali.
  • Amankan jalan nafas, Oksigenasi.

Berat:

  • Seperti sedang ditambah: posisi terlentang, kaki di atas
  • Infus NaCl 0,9% / D5%
  • Hidrokortison 100 mg atau deksametason iv tiap 8 jam
  • Bila gagal: beri difenhidramin HCl 60-80 mg iv secara pelan > 3 menit
  • Jika alergen adalah suntikan, pasang manset di atas bekas suntikan
    (dilepas tiap 10-15 menit) dan beri adrenalin 0,1-0,5 ml im pada bekas
    suntikan
  • Awasi tensi, nadi, suhu tiap 30 menit
  • Setelah semua upaya dilakukan, jika dalam 1 jam tidak ada perbaikan rujuk ke RSUD.

Sesak Napas

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Sesak Nafas (Dyspneu)

Sesak NapasPenyebab:

  • Bebagai penyakit yang memerlukan penanganan cepat
  • Jika diagnosis dan terapi lerlambat -> fatal
  • Penatalaksanaan, anamnesis, pemeriksaan jasmani yang seksama -> memegang peranan sangat penting.

Penyakit-penyakit penyebab Sesak Napas:

  • Alergi: Asma Bronkiale
  • Kardiologi: Payah Jantung
  • Pulmonologi: Efusi pleura masif, Pneumonia, Pneumothoraks, Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM)
  • Penyakit dalam: Gastritis, Esofagitis
  • Psikiatri: Kesakitan atau ketegangan

Yang Harus Ditanyakan pada Anamnesa:

  • Sejak Kapan: Baru saja ? Sudah lama dan kambuh-kambuhan ? Tiba-tiba atau Perlahan-lahan?
  • Apakah timbul sesudah kegiatan fisik berat?
  • Apakah timbul bila berjalan jauh atau naik tangga?
  • Apakah disertai batuk-batuk?
  • Apakah disertai sputum : banyak? Berbuih? Mengandung darah?
  • Apakah disertai nyeri dada kiri?

Asma Bronkiale
Anamnesa:

  • Sering kambuh pada saat-saat tertentu (menjelang pagi, udara dingin, banyak debu, dll)
  • Nafas berbunyi, disertai/ tanpa sputum
  • Kadang ada riwayat alergi (makanan tertentu, Obat, dll)
  • Ada riwayat alergi/ sesak pada keluarga lain yang sedarah
  • Kadang dicetuskan oleh stres.

Payah Jantung (Decompensatio Cordis)
Anamnesa:

  • Timbul setelah aktivitas fisik berat (jalan jauh, naik tangga, dll) dan berkurang dengan istirahat
  • Lebih enak berbaring dengan bantal tinggi.

Efusi Pleura, Pneumonia, Pneumothorax, Penyakit Paru Obstruktif Menahun
Anamnesa:

Sesak napas terus-menerus dan berkepanjangan


Gastritis (Dispepsia)

Sesak nafas di hulu hati, sesaknya berhubungan
dengan kecemasan, makanan, misalnya sesudah makan makanan yang
merangsang (pedas, kecut, kopi, dll)


Penatalaksanaan  Umum Sesak Napas:

  • Diagnosis Pasti : anamnesis, pemeriksaan fisik, foto thorak,EKG.
  • Berikan O2 2-4 liter/ menit tergantung derajat sesaknya (secara intermiten)
  • Infus D5% 8 tetes/menit, jika bukan payah jantung -> tetesan dapat lebih cepat
  • Posisi setengah duduk atau berbaring dengan bantal tinggi ->
    usahakan yang paling enak buat pasien. Bila syok -> Posisi kepala
    jangan tinggi.
  • Cari penyebab -> tindakan selanjutnya tergantung penyebab.

Perhatian :

  • Pada panyah jantung -> jangan beri infus NaCl, dan tetesan harus
    pelan sekali -> agar tidak makin memberatkan beban jantung
  • Pada (riwayat) sakit dada -> jangan injeksi adrenalin -> fatal
  • Pada PPOM, jika diperlukan O2 -> aliran kecil : 1-2 liter/ menit -> dapat terjadi Apnea.

Pengobatan Spesifik:

Penatalaksanaan secara spesifik dilanjutkan sesuai dengan kausa nya.

Luka Bakar

Posted on by diyoyen.
Categories: Public Health.

Luka Bakar

Definisi
:

Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan
benda-benda yang menghasilkan panas (api,cairan panas, listrik, dll) atau
zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat).

Tindakan Terpenting :

  • Segera menghentikan paparan
         panas
  • Mencegah meluas dan
         mendalamnya kerusakan jaringan kulit
  • Mencegah dan mengatasi
         infeksi
  • Mencegah kontraktur dan
         perlengketan jari tangan/kaki
  • Segera tentukan diagnosis
         dengan mencantumkan derajat dan berat luka bakar

Derajat Luka Bakar
(berdasarkan kedalamanlapisan kulit yang terkena)

  • Derajat 1: mengenai lapisan
         luar epidermis, kulit merah, sedikit oedem, dan nyeri
  • Derajat 2: mengenai
         epidermis dan sebagian dermis, terbentuk bulla,sedikit oedem,nyeri berat.
         Bila bulla pecah tampak agak kemerahan
  • Derajat 3: mengenai seluruh
         lapisan kulit, lesi pucat, warna kecoklatan dengan permukaan lebih rendah
         dari bagian yang tidak terbakar

Beratnya Luka Bakar
(berdasar derajat dan luasnya kulit yang terkena)

  • Ringan: luka bakar derajat
         I atau derajat I atau derajat II seluas < 15% atau derajat II seluas
         < 2%
  • Sedang: luka bakar derajat
         II seluas 10-15% atau derajat II seluas 5-10%
  • Berat: luka bakar derajat
         II seluas > 20% atau derajat III seluas > 10% atau mengenai wajah,
         tangan-kaki, alat kelamin/persendian sekitar ketiak atau akibat listrik
         tegangan tinggi (> 1000 V) atau dengan komplikasi patah
         tulang/kerusakan jaringan lunak/gangguan jalan nafas

Perhitungan Luasnya Luka Bakar
Anak-anak (dihitung menurut rumus

Lund

dan Browder : dalam %), sedangkan dewasa (dihitung menurut rumus Rule of Nine)
Pertolongan Pertama (di tempat kejadian):

  • Matikan api dengan
         memutuskan hubungan (suplay) Oksigen dengan menutup tubuh penderita dengan
         selimut, handuk, seprai, karung, dll
  • Perhatikan Keadaan Umum
         penderita
  • Pendinginan:
    1. Buka pakaian
            penderita
    2. Rendam dalam air atau
            air mengalir 20 - 30 menit, derah wajah dikompres air
    3. Yang disebabkan zat
            kimia: selain air dapat dapat digunakan NaCI (untuk zat korosif) atau
            gliserin (untuk fenol)
  • Mencegah infeksi:
    1. Luka ditutup dengan
            perban/ kain kering bersih yang tidak dapat melekat pada luka
    2. Penderita ditutup
            kain bersih
    3. Jangan beri zat yang
            tidak larut dalam air seperti: mentega, menyak, kecap, pasta gigi,telor,
            dll
    4. Rujuk ke Puskesmas

Perhatian:
pendinginan tidak ada gunanya jika luka bakar > 1 Jam.

Penatalaksanaan:
Menurut derajat Luka Bakar

  • Derajat 1: cuci dengan
         larutan antiseptik dan beri analgesik. Bila mengenai daerah muka, genital
         rawat inap
  • Derajat 2: inj. TAS 1500 IU
         im atau inj. Tetanus Toksoid (TT) 1 ml im
  • Derajat 2 tidak luas tetapi
         terbuka : dicuci dengan larutan antiseptik, ditutup kasa steril, beri zalf
         levertran. Bila tidak ada tanda infeksi, kasa diganti tiap 2 minggu
  • Derajat 3: rujuk ke RSUD
         dengan infus terpasang

Menurut Beratnya Luka Bakar

  • Ringan tanpa komplikasi:
         berobat jalan
  • Sedang: sebaiknya rawat
         inap untuk observasi
  • Berat : rujuk ke RSUD
         dengan infus terpasang

Indikasi Rawat Inap

  • Luka bakar didaerah wajah
         dan leher
  • Luka bakar di daerah tangan
  • Luka bakar di daerah mata
  • Inhalasi

OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER

Posted on June 14, 2008 by diyoyen.
Categories: Uncategorized.

DEFINISI
Obsessive Compulsive Disorder atau biasa disebut OCD adalah suatu penyakit yang menyerang bagian mental atau jiwa yang ditandai dengan adanya pemikiran yang selalu berulang-ulang (obsessive) serta tingkah laku yang sering dilakukan berulang (compulsive). Penyakit ini dapat diderita baik anak-anak maupun orang dewasa. Seseorang yang menderita penyakit ini akan melakukan tindakan yang selalu dilakukan berulang-ulang bahkan lebih dari 3 kali dalam sehari, seperti perasaan yang selalu disetir atau dikendalikan supaya melakukan aktivitas berulang-ulang. Kebanyakan penderita OCD tahu mereka mengidap OCD, Pada saat-saat tertentu penderita menyadari bahwa hal-hal yang ia lakukan adalah berlebihan. Tetapi mereka tidak berupaya untuk menghindari dan mengontrol kebiasaan tersebut. Seolah-olah kegiatan tersebut sudah menjadi bagian dari perilaku mereka sehari-hari. Namun, pada kenyataannya Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) lebih sering dijumpai karena jika ditinjau dari segi gejalanya OCD kondisinya lebih parah daripada OCPD. Orang yang menderita OCD mempunyai pemikiran yang mendalam terhadap apapun yang ada pada pikiran penderita. Namun, hal ini tidak berlangsung setiap saat, ada saatnya penderita bersifat sederhana dan menganggap tidak ada masalah (anonim, 2007).

ETIOLOGI (sebab)
“Sebuah penelitian menyatakan bahwa OCD berkaitan dengan adanya gangguan komunikasi antara otak bagian depan (orbital cortex) dengan struktur sel saraf dalam otak yang dinamakan basal ganglia. Struktur basal ganglia ini berkaitan dengan rasa, pikiran dan pergerakan anggota tubuh. Kekurangan suplay serotonin (substansi yang menyampaikan informasi antarsel di otak) di area ini diyakini mempengaruhi terjadinya OCD, dan peningkatan konsentrasinya seringkali membantu meringankan gejala-gejala OCD. Walaupun begitu belum ada yang dapat menyimpulkan penyebab munculnya gejala OCD secara pasti (MayoClinic, 2007).”
Teori-teori utama yang menyebabkan OCD menurut sumber dari Mayo Clinic (MayoClinic, 2007):
Biologi, beberapa peneliti percaya bahwa OCD merupakan akibat dari perubahan-perubahan kimia yang terjadi didalam tubuh manusia.
Lingkungan, beberapa peneliti menyatakan bahwa OCD berasal dari kebiasaan perilaku dari waktu ke waktu.
Serotonin yang tidak cukup, yaitu bila serotono pada otak kurang maka akan menyebabkan gejala OCD.

PATOGENESIS
Kekacauan pada mental atau yang biasa disebut dengan Obsessive Compulsive Disorder dapat mempengaruhi 2 sampai 3 persen populasi di dunia ini. Penderita OCD umumnya sewaktu masa remaja atau awal masa kanak-kanak yang biasanya terjadi pada usia 10 tahun, dan pada orang dewasa pada umumnya sekitar umur 21 sampai 36 tahun. Penderita dialami oleh pria dan wanita, pada pria umumnya OCD dialami pada masa kank-kanak dan pada wanita umumnya pada usia dua puluhan. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan pengaruh OCD antara lain (MayoClinic, 2007):
Keturunan (genetik), bila terdapat salah satu bagian keluarga yang memiliki sejarah dengan OCD maka akan meningkatkan perkembangan OCD itu sendiri.
Organik, masalah-masalah tertentu pada otak.
Personality, orang yang mempunyai personality obsessif cenderung mendapat gangguan OCD, yaitu seperti keterlaluan dalam kebersihan, terlalu patuh pada peraturan, cerewet dan tidak mudah mengalah.
Konflik, mereka yang menderita OCD biasanya sedang menghadapi sebuah konflik jiwa menyangkut masalah hidup. Seperti hubungan suami istri, percaya diri, dll. Yang nantinya akan memunculkan tekanan dan akan timbul gejala dari OCD itu sendiri.
Pengalaman masa lalu, jika seseorang memecahkan suatu masalah akan nampak pula gejala OCD yang ia biarkan ada didalam dirinya yang sudah tertanam sejak lama.
Penjelasan diatas merupakan beberapa faktor –faktor yang dapat terjadi pada kehidupan sehari-hari, tanpa sadar faktor-faktor diatas yang dapat membawa kita untuk merasakan bagaimana OCD itu. Awal mula bersifat perfeksionis tapi jika lama-kelamaan sifat itu malah merugikan kita sendiri dan disekitar kita malah justru akan membahayakan kita (mandhut, 2007).

DIAGNOSIS
Umumnya gejala penderita OCD adalah sebagai berikut (MayoClinic, 2007):
Melakukan perbuatan secara berulang.
Mengingat-ingat sesuatu padahal gampang sekali diingat.
Was-was, melakukan secara perlahan.
Resah
Terkadang sulit untuk mengidentifikasi adanya OCD pada diri kita karena OCD sendiri hampir menyerupai sifat tertarik dan perfeksionis. Namun OCD merupakan tingkat yang lebih parah daripada perfeksionis itu sendiri. Perfeksionis dapat diterima di lingkungan dan bertujuan untuk hasil yang terbaik. Namun jika ke-perfeksionis-an kita mulai menyusahkan orang lain dan diri sendiri serta bertingkah yang bersifat ‘tidak penting’ maka dapat disimpulkan merupakan gejala OCD. Biasanya pasien yang mengidap OCD memperlihatkan pengertian yang mendalam dan menyadari bahwa tingkah laku mereka itu ekstrim atau ‘keterlaluan’. Karena pasien sering tidak terbuka jika mereka mengidap OCD, dokter menanyakan kepada mereka 3 hal yaitu (emedia, 2007):
Apakah anda mempunyai pemikiran yang berulang dan dapat membuat anda bersemangat?
Apakah anda menjaga kebersihan seperti mencuci tangan sesering mungkin?
Apakah anda memeriksa segala sesuatu dengan berlebihan?
Jawaban dari pertanyaan diatas dapat menjadi tolak ukur apakah pasien tersebut mengidap OCD atau tidak. Namun membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik diagnostik tersebut.
TERAPI
Jika obsesi-obsesi dalam pikiran penderita memaksa mempengaruhi hidup dan pikiran, maka segeralah bertemu dengan dokter yang bersangkutan. Itu umum bagi penderita OCD yang mempunyai sifat pemalu dan mempermalukan sekitarnya.Perawatan OCD mempunyai dua komponen utama yaitu Psikoterapi dan Pengobatan. Psikoterapi merupakan suatu jenis dari ilmu pengobatan yang melibatkan anda untuk mengarahkan pada suatu obyek atau obsesi yang ditakuti. Pendekatan psikoterapi sendiri merangkumi Psikoterapi Kognitif dan Psikoterapi Tingkah laku. Yang dimaksud dengan Psikoterapi Kognitif adalah pasien akan dibantu untuk mengatasi masalah melalui perbincangan yang rasional, sedangkan Psikoterapi Tingkah laku lebih condong kepada tindakan pencegahan (Michael, 2004).
Perawatan yang kedua yaitu dengan obat-obatan. Biasanya dokter akan memberikan obat seperti Chlomipramine dan Fluxomine. Kedua obat ini berfungsi sebagai obat penenang bagi penderita. Obat ini juga berkhasiat dapat menghapus pikiran obsesional yang diderita pasien. Namun hasil dari cara kerja obat ini tidak seketika, memerlukan waktu lama yaitu sekitar dua sampai tiga tahun sesuai dengan bagaimana penderita mengkonsumsi obat. Dalam suatu studi Klonazepam mempunyai khasiat sebagai anti obsessional yang dilakukan dalam kombinasi dengan Klomipramina atau FluxotineDespite yang efektif untuk menambahkan serotonin pada otak(MayoClinic, 2007).
PENCEGAHAN
“Tidak ada cara yang spesifik untuk mencegah kekacauan OCD selain mengembangkannya, karena penyebab dari OCD merupakan tidak dikenal luas oleh masyarakat. Bagaimanapun perawatan secepat mungkin yang dapat membantu mencegah OCD dari keadaan yang lebih parah (MayoClinic, 2007).”
Karena tidak adanya pencegahan yang jelas maka kita harus melindungi diri kita sendiri dengan mengevaluasi apakah kita sudah terkena symptom OCD apa belu, jika sudah terkena maka kita harus cepat-cepat mencegah agar symptom dari OCD itu tidak langsung menjadi suatu kebiasaan dalam hidup kita yang akhirnya nanti akan merugikan kita secara tidak langsung.