Gangguan Somatoform

Posted on June 1, 2008 by diyoyen.
Categories: Uncategorized.

GANGGUAN SOMATOFORM
dr. Engelberta Pardamean, SpKJ

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki
gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana
tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan
keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan
emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan
pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu
diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa
faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset,
keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak
disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

Ada
lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:

  • Gangguan somatisasi ditandai oleh
    banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
  • Gangguan konversi ditandai oleh
    satu atau dua keluhan neurologis.
  • Hipokondriasis ditandai oleh
    fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
  • Gangguan dismorfik tubuh ditandai
    oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa
    suatu bagian tubuh mengalami cacat.
  • Gangguan nyeri ditandai oleh
    gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis
    atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.

    DSM-IV juga memiliki dua kategori
    diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
  • Undiferrentiated somatoform,
    termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu
    diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
  1. Riwayat banyak keluhan fisik yang
    dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa
    tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna
    dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  2. Tiap kriteria berikut ini harus
    ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang
    waktu selama perjalanan gangguan:
    1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan
      sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya
      kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama
      menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
    2. Dua
      gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala
      gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain
      dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa
      jenis makanan)
    3. Satu gejala seksual:
      riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau
      reproduktif selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual,
      disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur,
      perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
    4. Satu
      gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit
      yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada
      nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau
      keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau
      benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya
      sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang;
      gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain
      pingsan).
  3. Salah satu (1)atau (2):
    1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B
      tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum
      yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera,
      medikasi, obat, atau alkohol)
    2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial
      atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang
      diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan
      laboratorium.
  4. Gejala tidak ditimbulkan secara
    sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
  1. Satu atau lebih gejala atau defisit
    yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan
    pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
  2. Faktor psikologis dipertimbangkan
    berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi
    gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
  3. Gejala atau defisit tidak
    ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
    buatan atau berpura-pura).
  4. Gejala atau defisit tidak dapat,
    setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh
    kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai
    perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
  5. Gejala atau defisit menyebabkan
    penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
    sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan
    pemeriksaan medis.
  6. Gejala atau defisit tidak terbatas
    pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama
    perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan
    lebih baik oleh gangguan mental lain.

    Sebutkan tipe gejala atau defisit:
    Dengan gejata atau defisit motorik

    Dengan gejala atau defisit sensorik
    Dengan kejang atau konvulsi

    Dengan gambaran campuran
Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
  1. Pereokupasi dengan ketakutan
    menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius
    didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap
    gejala­gejala tubuh.
  2. Perokupasi menetap walaupun telah
    dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
  3. Keyakinan dalam kriteria A tidak
    memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe
    somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan
    (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
  4. Preokupasi menyebabkan
    penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam
    fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  5. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
  6. Preokupasi tidak dapat diterangkan
    lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif,
    gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau
    gangguan somatoform lain.
Sebutkan jika:
Dengan
tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode
berakhir, orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang
menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan.
 
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
  1. Preokupasi dengan bayangan cacat
    dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran
    orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
  2. Preokupasi menyebabkan
    penderitaan
    yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
    pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  3. Preokupasi tidak dapat diterangkan
    lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan
    bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
  1. Nyeri pada satu atau lebih tempat
    anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk
    memerlukan perhatian klinis.
  2. Nyeri menyebabkan penderitaan yang
    bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,
    atau fungsi penting lain.
  3. Faktor psikologis dianggap memiliki
    peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau
    bertahannnya nyeri.
  4. Gejala atau defisit tidak
    ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
    buatan atau berpura-pura).
  5. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih
    baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak
    memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut:
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor
psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan,
eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.

Sebutkan jika:
Akut:
durasi kurang dari 6 bulan

Kronis:
durasi 6 bulan atau lebih
   
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun
kondisi medis umum

Sebutkan jika:
Akut:
durasi kurang dari 6 bulan

Kronis:
durasi 6 bulan atau lebih

Catatan: yang berikut
ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan
dimasukkan untuk mempermudah diagnosis banding.

 
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
  1. Satu atau lebih keluhan fisik
    (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan

    gastrointestinal atau saluran kemih)
  2. Salah satu (1)atau (2)
    1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan
      sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek
      langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau
      alkohol)
    2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik
      atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah
      melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan
      fisik, atau temuan laboratonium.
  3. Gejala menyebabkan penderitaan yang
    bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,
    atau fungsi penting lainnya.
  4. Durasi gangguan sekurangnya enam
    bulan.
  5. Gangguan tidak dapat diterangkan
    lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform,
    disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan
    tidur, atau gangguan psikotik).
  6. Gejala tidak ditimbulkan dengan
    sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
    berpura-pura)

GANGGUAN PSIKOSOMATIK

Penggunaan kata "psikosomatik "baru
digunakan pada awal tahun 1980-an. Istilah tersebut dapat ditemukan
pada abad ke-19 pada penulisan oleh seorang psikiater Jerman
Johann Christian Heinroth
dan psikiater lnggns John Charles
Bucknill.
 
Nosologi DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders)
Psikosomatis
Untuk
membuat kategori secara klinis, DSM-IV mengandung format
subkategorisasi yang membuat dokter dapat menspesifikasikan jenis
faktor psikologis atau tingkah laku yang mempengaruhi kondisi medis
pasien. Faktor-faktor tersebut dirancang sedemikian
mencakup jangkauan yang luas dari fenomena psikologis dan tingkah
laku yang tampaknya mempenganuhi kesehatan fisik.
Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis
 

  1. Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III)
  2. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu cara berikut:
    1. Faktor
      yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan oleh
      hubungan erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau
      eksaserbasi dan, atau keterlambatan penyembuhan dan, kondisi medis umum.
    2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
    3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
    4. Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala-gejala kondisi medis umum.
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat
lebih dan satu faktor, nyatakan yang paling menonjol)

Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan
depresif berat memperiambat  pemulihan dan infark miokardium)

Gejala
psikologis mempengaruhi kondisi medis
(misalnya gejala depresif
memperlambat pemulihan dan pembedahan; kecemasan mengeksaserbasi
asthma)
Sifat kepribadlan atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi
kondisi medis
(misalnya penyangkaian psikologis terhadap pembedahan
pada seorang pasien kanker, perilaku bermusuhan dan tertekan
menyebabkan penyakit kandiovaskular).

Perilaku kesehatan maladaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya
tidak olahraga, seks yang tidak aman, makan benlebihan).

Respon
fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis
umum
(misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau tension
headache yang berhubungan dengan stres).

Faktor
psikologis lain yang tidak ditentukan mempengaruhi kondisi medis
(misalnya faktor interpersonal, kultural, atau religius)
 
I.   Gangguan
Gastrointestinal
 

  1. Ulkus Peptikum
    • Merupakan ulserasi pada membran mukosa lambung atau duodenum,
      berbatas jelas, menemus ke mukosa muskularis dan terjadi di daerah
      yang terkena asam lambung dan pepsin.
    • Etiologi
      Teori spesifik
    • Alexander menghipotesiskan bahwa frustasi kronis dari kebutuhan ketergantungan yang
      kuat menyebabkan konflik bawah sadar yang spesifik.
    • Konflik
      bawah sadar tersebut menyinggung ketergantungan kuat akan keinginan
      reseptif-oral untuk disayangi dan dicintai, menyebabkan rasa lapar dan
      kemarahan bawah sadar yang regresif dan kronis.
    • Reaksi
      dimanifestasikan secara psikologis oleh hiperaktivitas vagal persisten
      yang menyebabkan hipersekresi asam lambung, yang terutama jelas pada
      orang yang memiliki predisposisi genetik. Pembentukan ulkus dapat
      terjadi.
    • Faktor genetik dan kerusakan atau penyakit organ yang telah ada sebelumnya (contohnya gastritis)adalah penyebab yang penting.
    • Terapi
    • Psikoterapi diarahkan pada konflik ketergantungan pasien.
    • Biofeedback dan terapi relaksasi berguna.
    • Terapi
      medis dengan cimetidine (Tagamet), ranitidine (Zantac), sucralfate
      (Carafate), atau famotidine (Pepcid), serta pengendalian diet
      diindikasikan dalam penatalaksanaan ulkus. Obat antimikrobial pada
      ulkus akibat H. Pylon.
  2. Kolitis Ulseratif
    • Penyakit ulseratif inflamatoris kronis pada kolon, biasanya disertai
      diare berdarah. Insidensi familial dan faktor genetik penting.
    • Tipe kepribadian: sifat kepribadian kompulsif yang menonjol. Pasien adalah seorang yang pembersih, tertib, rapi, tepat waktu,
      hiperintelektual, malu­malu, dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan.
    • Etiologi
      Teori spesifik:
    • Alexander menggambarkan kumpulan konflik spesifik
      pada kolitis ulseratif yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi suatu
      kewajiban (biasanya tidak patuh) sampai kepada inti ketergantungan.
      Ketergantungan yang mengalami frustasi menstimulasi perasaan
      agresif-oral, menyebabkan rasa bersalah dan kecemasan. Menghasilkan
      pemulihan melalui diare.
    • Terapi
    • Psikoterapi yang tidak konfrontatif dan suportif diindikasikan pada
      kolitis ulseratif.
    • Terapi medis seperti obat antikolinergik dan antidiare.
  3. Obesitas
    • Akumulasi lemak berlebihan; berat badan melebihi 20 % berat badan seharusnya.
    • Pertimbangan psikosomatik
    • Terdapat predisposisi genetik dan faktor perkembangan awal ditemukan pada obesitas masa anak-anak.
    • Faktor psikologis penting pada obesitas hiperfagik (makan berlebihan), khususnya pada makan pesta pora.
    • Faktor psikodinamika yang diajukan antara lain fiksasi oral, regresi oral, dan penilaian berlebihan terhadap makanan.
    • Pasien memiliki riwayat penghindaran terhadap citra tubuh dan kebiasaan awal yang buruk dalam asupan makanan.
    • Terapi
    • Dikendalikan melalui pembatasan diet dan penurunan asupan kalori.
    • Dukungan
      emosional dan modifikasi perilaku membantu mengatasi kecemasan dan
      depresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet.
  4. Anoreksia Nervosa
    Perilaku yang diarahkan untuk:
    • Menghilangkan berat badan.
    • Pola aneh dalam menangani makanan.
    • Penurunan berat badan.
    • Rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.
    • Gangguan citra tubuh.
    • Amenore pada wanita.

 

II.  Gangguan Kardlovaskular
 

  1. Penyakit Arteri Koroner
    • Penurunan aliran darah ke jantung. Ditandai oleh rasa nyeri, tidak nyaman, tekanan pada dada dan jantung secara episodik.
    • Biasanya ditimbuikan oleh penggunaan tenaga dan stres.
    • Tipe kepribadian
    • Flanders Dunbar: pasien penyakit koroner
      berkepribadian agresif­kompulsif, cendenung bekerja dengan waktu panjang, dan
      untuk meningkatkan kekuasaan.
    • Meyer Fiedman dan Ray Rosenman: kepriibadian tipe A dan B.
    • Kepribadian tipe A berhubungan kuat dengan penyakit jantung koroner.
      Orang yang berorientasi tindakan berjuang keras untuk mencapai tujuan dengan cara permusuhan yang kompetitif. Memiliki
      peningkatan jumlah lipoprotein densitas  rendah, kolesterol serum, trigliserida, dan 17- hidroksikolestenol.
    • Kepribadian tipe B: santai, kurang agresif, kurang aktif berjuang mencapai tujuannya.
    • Terapi:
      Jika terjadi oklusi koroner, digunakan berbagai medikasi bagi status
      jantung pasien. Untuk menghilangkan ketegangan psikis, digunakan
      psikotropika (contoh diazepam / valium). Rasa sakit diobati dengan
      analgesik (contoh morfin). Terapi medis harus suportif dengan penekanan
      psikologis untuk menghilangkan stres psikis, kompulsif, dan ketegangan.
  2. Hipertensi Esensial
    • Tipe kepribadian
    • Orang hipertensif tampak dari luar menyeriangkan, patuh, dan kompulsif; walaupun kemarahan mereka tidak diekspresikan secara
      terbuka, memiliki banyak kekerasan yang terhalangi.
    • Predisposisi genetik untuk hipertensi; yaitu bila terjadi stres
      kronis pada kepribadian kompulsif yang telah merepresi dan menekan
      kekerasan.
    • Terapi: Psikoterapi suportif dan teknik perilaku (contoh:
      biofeedback, meditasi, terapi relaksasi). Pasien harus patuh dengan
      regimen medikasi anti hipertensi.
  3. Gagal Jantung Kongestif
    • Gangguan di mana jantung gagal memompa darah secara normal,
      menyebabkan kongesti paru dan menurunkan aliran darah jaringan dengan
      penurunan curah Jantung.
    • Faktor psikologis, seperti stres dan konflik emosional nonspesifik,
      seringkali bermakna dalam mulainya atau eksaserbasi gangguan.
    • Psikoterapi suportif penting dalam pengobatannya.
  4. Sinkop Vasomotor (Vasodepresor)
    • Ditandai oleh kehilangan kesadaran (pingsan)
      secara tiba-tiba yang disebabkan oleh serangan vasovagal.
    • Menurut Franz Alexander, rasa khawatir atau takut menghambat
      impuls untuk berkelahi atau melarikan diri. Dengan demikian
      menampung darah di anggota gerak bawah, dari vasodilatasi pembuluh darah di
      dalam tungkai. Reaksi tersebut menyebabkan penurunan pengisian ventrikel,
      penurunan pasokan darah ke otak, dan akibatnya hipoksia otak dan
      kehilangan kesadaran.
    • Terapi: Psikoterapi harus digunakan untuk menentukan penyebab ketakutan atau trauma yang berhubungan dengan sinkop
  5. Aritmia Jantung
    • Aritmia yang potensial membahayakan hidup (seperti palpitasi,
      takikardi ventrikular, dan fibrilasi ventrikular), kadang-kadang
      terjadi bersama dengan luapan emosional.
    • Juga berhubungan dengan trauma emosional adalah takikardi sinus,
      perubahan gelombang ST dan gelombang T, peningkatan katekolamin
      plasma, dan konsentrasi asam lemak bebas.
    • Stres emosional tidak spesifik, dan penjelasan kepribadian yang
      berhubungan dengan gangguan.
    • Terapi: Psikoterapi dan obat penghambat beta (propanolol, dll)
  6. Fenomena Raynaud
    • Sianosis bilateral paroksismal idiopatik pada jail karena kontraksi
      arteniolan.
    • Kontraksi arteniolar seringkali disebabkan oleh stres ekstemal.
    • Terapi:
      dapat diobati dengan psikoterapi suportif, relaksasi progresif, atau
      biofeedback dengan melindungi tubuh dari dingin dan menggunakan sedatif
      ringan.
    • Merokok harus dihentikan.
  7. Jantung Psikogenik Bukan Penyakit
    • Pasien menunjukkan keprihatinan morbid tentang jantungnya dan rasa
      takut akan penyakit jantung yang meningkat.
    • Rasa takut dapat timbul dan masalah kecemasan, yang dimanifestasikan
      oleh fobia atau hipokondriasis parah, sampai keyakinan vaham bahwa
      mereka menderita penyakit jantung.
    • Banyak pasien menderita akibat sindroma yang kurang jelas ini seringkali dinamakan astenia neurosirkulatorik.
    • Astenia
      neurosirkulatonik pertama kali digambarkan tahun 1871 oleh Jacob M.
      DaCosta, yang menamakannya jantung iritabel (irritable hearth).
    • Dokter psikiatrik cenderung memandang sebagai varian klinik dari gangguan kecemasan, walaupun tidak ditemukan dalam DSM-IV.
    • >Kriteria diagnostik astenia neurosirkulatorik:
    • Keluhan pemapasan seperti pemapasan yang resah, tidak dapat menarik napas dalam, tercekik dan tersedak, dan sesak napas.
    • Palpitasi, nyeri dada, atau rasa tidak enak.
    • Kegugupan, pening, pingsan, atau rasa tidak enak di puncak kepala.
    • Kelelahan yang tidak hilang-hilang atau pembatasan aktivitas.
    • Keringat berlebihan, insomnia, dan iritabilitas.
    • Gejala biasanya mulai pada mulai masa remaja atau pada awal usia 20-an.
    • Gejala tertentu adalah dua kali lebih sering pada wanita dan cenderung kronis, dengan eksaserbasi akut rekuren.
    • Terapi:
    • Penatalaksanaan astenia neurosirkulatorik mungkin sulit. Elemen fobik adalah menonjol.
    • Psikoterapi
      ditujukan untuk mengungkapkan faktor psikodinamik-seringkali
      menghubungkan dengan permusuhan, impuls seksual yang tidak dapat
      diterima, ketergantungan, rasa bersalah, dan kecemasan akan mati.
      Tetapi mungkin efektif pada beberapa kasus, karena beberapa pasien
      mungkin menghindari bantuan psikiatrik.
    • Teknik
      perilaku lain mungkin berguna. Program latihan fisik ditujukan untuk
      mengkoreksi kebiasaan pemapasan yang buruk dan secara bertahap
      meningkatkan toleransi kerja pasien. Program ini dapat dikombinasikan
      dengan psikoterapi kelompok.

 

III.
Gangguan Pemapasan
  1. Asma Bronkialis
    • Penyakit obstruktif rekuren pada jalan napas bronkial,
      cenderung berespon terhadap berbagai stimuli dengan konstriksi bronkial,
      edema, dan sekresi yang berlebihan.
    • Faktor genetika, alergik, infeksi, dan stres akut dan
      kronis berkombinasi untuk menimbulkan penyakit.
    • Faktor psikologis: tidak ada tipe kepribadian spesifik
      yang telah diidentifikasi. Alexander mengajukan faktor
      konfliktual psikodinamika, karena ia menemukan pada banyak pasien
      asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk
      diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung
      bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis,
      berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapatkan,
      serangan asthma terjadi, karena ia menemukan pada banyak pasien asma
      adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk
      diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung
      bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis,
      berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapàtkan,
      serangan asma terjadi.
    • Terapi: beberapa pasien asma membaik dengan dipisahkan dan ibu
      (disebut parentektomi). Semua psikoterapi standar digunakan:
      individual, kelompok, perilaku(desensitisasi sistematik), dan
      hipnotik.6,8,9
  2. Hay Fever
    • Faktor psikologis yang kuatberkombinasi dengan elemen alengi.
    • Terapi: faktor psikiatrik, medis, dan alergik harus dipertimbangkan.
  3. Sindroma Hiperventilasi
    • Pasien hiperventilasi
      bennapas cepat dan dalam selama beberapa menit, merasa
      ningan, dan selanjutnya pingsan karena vasokonstriksi
      serebral dan alkalosis respiratonik.
    • Differential diagnosis pada
      psikiatrik adalah serangan kecemasan,
      panik, skizofnenia, gangguan kepribadian histnionik, dan keluhan
      fobik atau obsesif
    • Terapi: harus diberikan instruksi atau latihan ulang benhubungan
      dengan gejala tertentu dan bagaimana gejala tersebut ditimbulkan
      oleh hiperventilasi, sehingga pasien secana sadar menghindani
      pencetus gejala. Bemafas ke dalam sebuah kantong dapat menghentikan
      serangan. Psikoterapi suportif juga diindikasikan.
  4. Tuberkulosis
    • Onset dan perburukan tubenkulosis seringkali berhubungan dengan
      stres akutdan kronis.
    • Faktor psikologis mempenganuhi sistem kekebalan dan mungkin
      mempengaruhi dayatahan pasien terhadap penyakit.
    • Penanan stres pada insidensi tuberkulosis belum dipelajari secara
      menyeluruh, tetapi sebagian besan pasien AIDS memiliki komplikasi
      psikiatrik dan neunologis dan besar kemungkinannya mengalami stres.
    • Psikoterapi suportif berguna karena adanya peranan stres dan situasi
      psikososial yang rumit.
IV.
Gangguan Endokrin
  1. Hipertiroidisme
    • Suatu sindroma yang ditandai oieh perubahan biokimiawi danpalkologis
      yang terjadi sebagai akibat dan kelebihan hormon_tiroid~eñdogen atau
      eksogen yang kronis.
    • Pertimbangan psikosomatik
    • Pada orang yang terpredisposisi secara genetik, stres seringkali
      disentai dengan onset hipertiroidisme.
    • Menurut teori psikoanalitik, selama masa anak-anak, pasien
      hipertiroid memiliki penlekatan yang tidak lazim
      dan ketergantungan pada onangtua, biasanya kepada ibu. Mereka
      menjadi tidak tahan terhadap ancaman penolakan dani ibu. Sebagai
      anak-anak, pasien tersebut seringkali memiliki dukungan yang tidak
      adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak
      saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stres awal dan pemakaian
      benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
      Dukungan yang tidak adekuat karena
      stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara kandung.
      Keadaan ml menyebabkan stnes awal dan pemakaian benlebihan sistem
      endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
    • Terapi: medikasi antitiroid, tranquilizer, dan psikotenapi suportif.
  2. Diabetes Melitus
    • Gangguan metabolisme dan sistem vaskular dimanifestasikan
      gangguan pengaturan giukosa, lemak, dan protein tubuh
    • Onset yang mendadak seringkali berhubungan dengan stres
      emosional, yang mengganggu keseimbangan homeostatik pada pasien yang terpredisposisi.
    • Faktor psikologis yang
      tampaknya penting adalah faktor yang mencetuskan perasaan
      fnustnasi, kesepian, dan kesedihan.
    • Pasien diabetik biasanya mempertahankan kontnol diabetiknya.
      Jika mengalami depresi atau merasa sedih, mereka seringkaii
      makan atau ininum benlebihan yang merusak diri sendini, sehingga
      diabetes menjadi tidak terkendali.
    • Terapi: psikotenapi suportif dipenlukan untuk mencapai kerjasama
      dalam penatalaksanaan medis dani penyakit kompleks. Terapi harus
      mendorong pasien diabetik untuk menjalani kehidupan senonmal
      mungkin, dengan menyadari bahwa mereka memiliki penyakit kronis yang dapat
      ditangani.
  3. Gangguan Endokrin Wanita
    1. Sindroma pramenstruasi (Premenstrual Syndrome! PMS)
      • Merupakan gangguan disforik pramenstruasi, ditandai oleh perubahan
        subjektmfsikiis dalam mood dan rasa kesehatan fisik dan psikologis
        umum yang berhubungan dengan siklus menstruasi.
      • Gejala biasanya dimulai segera setelah ovulasi, meningkat secana
        bertahap, dan mencapai intensitas maksimum kira-kira lima han
        sebelum menstruasi dimulai.
      • Faktor psikologis, sosial, dan biologis telah terlibat di dalam
        patogenesis gangguan.
      • Perubahan kadar estrogen, progesteron, androgen, dan proiaktin telah
        dihipotesiskan berperan penting dalam penyebab.
      • Peningkatan prostaglandin tenlibat dalam
        rasa
        nyerii yang benhubungan
        dengan gangguan.
      • Gangguan disfonik paramenstruasi juga terjadi pada wanita setelah
        menopause dan setelah histerektomi.
    2. Penderltaan Menopause (Menopause Distress)
      • Peristiwa fisiologis alami, terjadi setelah tidak ada peniode
        menstnuasi selama satu tahun. Juga teijadi segera setelah pengangkatan
        ovarium.
      • Gejala psikologis tenmasuk kelelahan, kecemasan, ketegangan,
        labilitas emosional, initabilitas (mudah marah), depresi, dan
        insomnia.
      • Tanda dan gejala fisik adalah keringat malam, muka merah,
        rasa
        panas
        (hot flushes)
      • Faktor psikologis dan psikososial
      • Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan psikologis, seperti
        harga diri yang rendah dan kepuasan hidup rendah, kemungkinan
        rentan terhadap kesulitan selama menopause.
      • Respon seorang wanita terhadap menopause telah ditemukan sejalan dengan responnya  dengan peristiwa kehidupan panting di
        dalam hidupnya, seperti pubertas dan kehamilan.
      • Wanita yang tenikat pada banyak melahirkan anak dan aktivitas mengasuh anak paling rentan untuk mendenita selama
        tahun-tahun menopause.
      • Permasalahan tentang ketuaan, kehilangan kemampuan metahinkan anak, dan perubahan penampilan dipusatkan pada kepentingan
        sosial dan simbolik yang melekat pada perubahan fisik menopause.
      • Penelitian epidemiologis tidak menunjukkan peningkatan gejala gangguan mental atau depresi selama tahun-tahun menopause,
        dan penelitian tentang keluhan psikologis tidak menemukan
        adanya frekuensi yang lebih besar pada wanita menopause.
      • Terapi: gangguan psikologis
        harus dipeniksa dan diobati tenutama
        oleh tindakan psikotenapetik dan sosioterapettik yang sesuai.
        Psikoterapi harus tenmasuk penggalian stadium kehidupan dan anti
        ketuaan dan reproduksi bagi pasien. Pasien harus didorong untuk
        menenima menopause sebagai penistiwa kehidupan alami dan untuk mengembangkan aktivitas,
        ininat, dan kepuasaan baru.
        Psikoterapi juga harus memperhatikan dinamika keluarga. Sistem pendukung
        keluarga dan sosial Iainnya jika diperlukan.
    3. Amenore Idiopatik
      • Hilangnya siklus menstruasi normal pada wanita yang tidak hamil dan
        pramenopause tanpa adanya kelainan stuktural otak, hipofisis, atau
        ovarium.
      • Amenore dapat teijadi sebagai salah satu cmi sindroma
        psikiatrik
        klinis yang kompleks, seperti anoneksia nervosa dan pseudokiesis.
      • Fungsi menstruasi yang terganggu (menstruasi yang
        lebih cepat atau
        lambat) adalah respons seorang wanita sehat terhadap stres. Stres
        ringan seperti meninggalkan numah untuk masuk ke perguruan tinggi
        atau stres berat dapat berpenganuh.
      • Sebagian besar wanita, siklus menstruasi kembali normal tanpa adanya
        intervensi medis, walaupun kondisi stres terus berjalan.
      • Psikoterapi dilakukan untuk alasan psikologis, bukan hanya sebagai
        nespon terhadap gejala amenone. Jika amenore sukar diobati,
        psikoterapi dapat membantu memulihkan menstruasi yang teratur.
V.  GANGGUAN KULIT
  1. Pruritus menyeluruh
    • lstilah “pruritus psikogenik menyeluruh” (generalized psychogenic
      pruritis) menyatakan bahwa tidak ada penyebab
      organik.
    • Konflikemosional tampaknya menyebabkan terjadinya gangguan.
    • Emosi yang paling sering menyebabkan pruritus psikogenik menyeluruh
      adalah kemarahan dan kecemasan yang terepresi. Kebutuhan akan
      perhatian merupakan karakteristik umum pada pasien.
    • Menggaruk kulit memberikan kepuasaan pengganti utnuk kebutuhan yang
      mengalami frustrasi, dan menggaruk mencerminkan agresi yang
      dibalikkan kepada diri sendiri
  2. Pruritus setempat
    • Pruritus ani. Penelitian menunjukkan riwayat iritasi lokal atau
      faktor sisemik umum. Keadaan ini merupakan keluhan yang mengganggu
      pekerjaan dan aktivitas sosial. Penelitian terhadap sejumlah
      besar pasien mengungkapkan bahwa penyimpangan kepribadian seringkali
      mendahului kondisi dan gangguan emosional seringkali mencetuskan
      gejala ini.
    • Pruritus vulva. Pada beberap pasien, kesenangan yang didapat dani
      menggosok dan menggaruk adalah disadani. Mereka menyadari bahwa ml
      adalah simbolik dan masturbasi. Tetapi elemen kesenangan dinepresi.
      Sebagian besar pasien yang diteliti memberikan riwayat panjang
      frustrasi seksual, seringkali diperkuat pada saat onset pruritus.
  3. Hiperhidrosis
    • Keadaan takut, marah, dan tegang dapat menyebabkan
      meningkatnya sekresi keringat.
    • Benkeringat pada manusia memiliki dua bentuk berbeda:
      termal dan emosional.
    • Berkeringat emosional terutama pada telapak tangan,
      telapak kaki, dan aksiia.

      Berkeringat termal paling jelas pada dahi, leher, batang tubuh,
      punggung tangan, dan lengan bawah.
    • Kepekaan nespon berkeringat emosional merupakan dasan
      untuk pengukunan keringat melalui respon kulit galvanik
      (alat penting dalam penelitian psikosomatik),  biofeedback, dan poligrafi
      (tes detektor kebohongan.
    • Di bawah keadaan stres emosional, hipenhidnosis
      menyebabkan perubahan kulitsekunder, warn kulit, lepuh, dan infeksi.
    • Hiperhidrosis dapat dipandang sebagal fenomena
      kecemasan yang diperantarai oleh sistern sanafotonom.
VI.
GANGGUAN MUSKULOSKELETAL
  1. Artrltls Rematold
    • Ditandai oleh nyeri muskuloskeletal
      kronis yang disebabkan oleh
      penyakit peradangan pada sendi.
    • Memiliki faktor penyebab herediter,
      alergik, mmunologi, dan
      psikologi yang penting.
    • Stres psikologis mempredisposisikan pasien pada artritis rematoid
      dan penyakitautoimun lain melalui supresi
      kekebalan.
    • Pasien merasa tenkekang, terikat, dan terbatas. Mereka seringkali
      memiliki rasa marah yang terepresi karena
      terbatasnya fungsi otot-otot mereka, sehingga memperberatkekakuan
      dan imobilitas mereka.
    • Terapi: psikoterapi suportif selama serangan kronis. Istirahat dan
      latihan harus terstnuktur, dan pasien harus didorong untuk tidak
      menjadi tenikat pada tempat tidur dan kembali ke aktivitas mereka
      sebelumnya.
  2. LowBackPain
    • Nyeri punggung bawah seringkali dilaponkan pasien bahwa nyerinya
      dimulai pada saat trauma psikologis atau stres.
    • Reaksi pasien terhadap nyeri tidak sebandmng secara emosional,
      dengan kecemasan dan depresi yang berlebihan.
    • Terapi berupa psikotenapi suportif tentang trauma emosional
      pencetus, terapi relaksasi, dan biofeedback. Pasien harus didorong
      kembali ke aktivitas mereka segera mungkin.
VII
.PSIKO-ONKOLOGI

Karena kemajuan pengobatan telah
mengubah bahwa kanker dari tidak dapat disembuhkan menjadi penyakit
yang seringkali kronis dan sering dapat diobati, aspek psikiatrik
dan kanker (reaksi terhadap diagnosis dan terapi) semakin penting.
 

Masalah Paslen

Jika pasien mengetahui bahwa mereka
menderita kanken, reaksi psikologis mereka adalah rasa takut akan
kematian, cacat, ketidakmampuan, rasa takut ditelantarkan dan
kehilangan kemandirian, rasa takut diputuskan dan hubungan, fungsi
peran, dan finansial; dan penyangkalan, kecemasan, kemarahan, dan
rasa bersalah. Kira-kira separuh pasien kanken
menderita gangguan mental. Di antaranya gangguan penyesuaian (68%).
Dengan gangguan depresif berat (13%) dan delirium (8%) merupakan
diagnosis selanjutnya yang tersering. Walaupun pikiran dan keinginan bunuh
diri sering ditemukan pada pasien kanker, insidensi bunuh din
sebenarnya hanya 1.4 sampai 1.9 kali dari yang ditemukan pada
populasi umum
 

Faktor
Kerentanan Bunuh Diri pada Paslen Kanker
  • Depresi dan putus asa

  • Nyeri yang tidakterkendali baik

  • Delirium ringan (disinhibisi)

  • Perasaan hilang kendali

  • Kelelahan

  • Kecemasan

  • Psikopatologi yang telah ada
    sebelumnya (penyalahgunaan zat, patologi karakter, gangguan
    psikiatrik utama)

  • Masalah keluarga

  • Ancaman dan riwayat usaha bunuh
    din sebelumnya

  • Riwayat positif bunuh diri pada
    keluarga

  • Faktor risiko lain yang biasanya
    digambarkan pada pasien psikiatrik

CONSULTATION - LIAISON PSYCHIATRY (PSIKIATRI KONSULTASI­PENGHUBUNG)

Dalam
psikiatri konsultasi-penghubung (consultation-liaison I C-L
psychiatiy), yaitu suatu bidang keahlian yang berkembang dengan
cepat dan semakin diperhatikan. Dokter psikiatrik berperan sebagai
konsultan bagi sejawat kedokteran atau profesional kesehatan mental
lainnya. Pada umumnya, psikiatnl C-L adalah berhubungan dengan semua
diagnosis, terapetik, riset, dan pelayanan pendidikan yang dilakukan
dokter psikiatrik di rumah sakit umum dan berperan sebagaijembatan
antara psikiatrik dan spesialisasi lainnnya.

Dokter psikiatrik C-L harus mengerti banyak penyakit medis yang dapattampak
dengan gejala psikiatrik. Alat yang dimiliki oleh dokter psikiatrik
C-L adalah wawancara dan observasi klinis serial. Tujuan diagnosis
adalah untuk mengidentifikasi gangguan mental dan respon psikologis
tenhadap penyakit fisik, mengidentifikasi diri kepribadian pasien,
dan mengidentifikasi teknik mengatasi masalah yang karakteristik
dari pasien..

Rentang
masalah yang dihadapi dokter psikiatrik C-L adaiah luas. Penelitian
menunjukkan bahwa sampal 65 % pasien nawat map medis memiliki
gangguan psikiatrik. Gejala paling sering adalah kecemasan, depresi,
dan diorientasi.
   

Masalah konsultasl-penghubuñg
yang serlng:
  • Usaha atau ancaman bunuh din

  • Depresi

  • Agitasi

  • Halusinasi

  • Gangguantidur

  • Gejala tanpa dasar onganmk

  • Disonientasi

  • Ketidakpatuhan atau menolak
    menyetujui suatu prosedur

TERAPI
GANGGUAN PSIKOSOMATIS

Konsep
penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan
yang menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala
dan gangguan, memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai
profesi. Permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi
adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik. Kedokteran
psikosomatik terutama mempermasalahkan penyakit-penyakit tersebut
yang menampakkan manifestasi somatik.

Terapi
kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani
aspek psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter
spesialis lain menangani aspek somatik. Tujuan terapi medis adalah
membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan dengan
berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan
akhirnya adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural
dan reorganisasi kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi
keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam
hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis
dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
   

KESIMPULAN
  • Gangguan psikosomatis
    merupakan
    gangguan yang melibatkan antara pikiran dan tubuh. Hal ini berarti
    bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
  • Komponen emosional memainkan
    penanan penting pada gangguan psikosomatis.
  • Manifestasi penyakit fisik juga
    sering diturunkan dan kepnibadian seseorang.
  • Gangguan psikosomatis dapat
    rnelibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh sehingga
    memerlukan
    penanganan secara terintegrasi dari ahli medis dan ahli psikiatri.
  • Pengobatan gangguan psikosomatik
    dani sudut pandang psikiatrik adalah tugas yang sulit.
  • Tujuan terapi haruslah mengerti
    motivasi dan mekanisme gangguan fungsi dan untuk membantu pasien
    mengerti sifat penyakitnya.
  • Tilikan tersebut harus
    menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.
  • Terapi kombinasi sangat
    bermanfaat untuk mencapai resolusi gangguan struktural dan
    reorganisasi gangguan kepribadian.

TRIASE: A Life Saving System

Posted on by diyoyen.
Categories: Healthy.

    

Kejadian,
situasi atau musibah yang menyebabkan jatuhnya korban dalam jumlah
banyak (multiple casualty incidents) memerlukan suatu metode penanganan
yang cepat, tepat dan akurat untuk meminimalkan jatuhnya korban jiwa
dan timbulnya kecacatan. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang baik
antara first responder sebagai penolong pertama di
tempat kejadian dan pihak rumah sakit sebagai tempat perawatan
definitif korban, selain itu juga perlu adanya kesamaan metode
penanganan antara kedua pihak agar tindakan yang telah dilakukan first responder


misalnya, tidak menjadi sia-sia karean pihak rumah sakit memakai metode
yang berbeda. Selain itu, pihak rumah sakit sebagai pihak yang menerima
korban akan dapat memberikan perawatan yang lebih baik dan lebih akurat.

 

 

 

Suatu metode yang banyak digunakan dalam suatu multiple casualty incident disebut Triase, yang berasal dari bahasa Perancis, trier,
yang berarti memilah. Konsep ini diperkenalkan di Perancis pada awal
1800-an yang ditujukan untuk memprioritaskan pasien dan memberikan
perawatan segera kepada korban yang terluka parah. Adalah Baron
Dominique Jean Larrey, seorang ahli bedah pada pasukan Napoleon, yang
merancang suatu metode evaluasi dan kategorisasi yang cepat pada
pasukan yang terluka di

medan

pertempuran dan kemudian mengevakuasi mereka secepatnya. Jadi, Triase merupakan
suatu sistem yang digunakan dalam mengidentifikasi korban dengan cedera
yang mengancam jiwa untuk kemudian diberikan prioritas untuk dirawat
dan dievakuasi ke fasilitas kesehatan.

 

Tujuan dari Triase adalah:

 

1. Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera (perawatan di lapangan)

 

2. Identifikasi korban yang hanya dapat diselamatkan dengan pembedahan (life-saving surgery)

 

Triase dilakukan berdasarkan observasi terhadap tiga hal, yaitu:

 

1. Pernapasan (respiratory)

 

2. Sirkulasi (perfusion); dan

 

3. Status mental (mental state)

 

 

 

START
(Simple Triage And Rapid Assessment) merupakan sistem triase sederhana
yang dapat dilakukan oleh orang yang dilatih walaupun tidak mendalam (lightly trained) dan petugas paramedik yang dapat secara cepat dan akurat memilah korban dan membaginya ke kelompok-kelompok perawatan.

 

 

 

START membagi korban menjadi empat kelompok.

Ada

yang memulai membagi dari korban yang memiliki cedera paling ringan,
tapi ada juga yang membagi dari korban yang telah meninggal. Sistem ini
sangat sederhana untuk dipelajari dan sangat berguna pada keadaan
dimana sumber daya medis yang ada kurang sampai datangnya bantuan
tambahan. Triase akan lebih baik jika penolong memiliki triage tag, jika tidak ada dapat digunakan marker, spidol atau lipstick yang ditulis di dahi korban berupa ‘D’ untuk deceased, ‘I’ untuk immediate, ‘DEL’ untuk delayed atau ‘M’ untuk minor.

 

Triase 1

 

Dengan
jelas dan keras, perintahkan para korban yang terlihat sadar untuk
bangun dan berjalan ke tempat yang lebih aman dimana tim medis berada
dan dimana mereka akan mendapat pertolongan lebih lanjut. Seseorang
yang dapat berjalan, dianggap tidak memerlukan pertolongan segera
walaupun mengalami cedera, walaupun begitu kategori/kriteria mereka
dapat berubah. Orang-orang ini biasa disebut ‘walking wounded’,
merekalah yang dapat diberdayakan untuk membantu tim medis dalam
mengevakuasi ataupun merawat korban yang lebih berat. Orang-orang ini
biasa diberi green tag atau diberi tanda ‘M’. Korban
yang termasuk dalam kategori ini adalah korban dengan luka ringan,
fraktur ringan atau luka bakar minor.

 

 

 

Triase 2

 

Pada korban yang tersisa, periksa keadaan, secara berturut-turut, respirasi, perfusi dan status mental.

 

 

 

Respiratory Assessment

 

Jika
terdapat seorang korban yang tidak bernapas, perbaiki posisi kepala dan
bebaskan jalan napas. Jika pernapasan spontan tidak juga muncul beri
korban tanda black tag atau tanda ‘D’. Jangan coba
untuk melakukan RKP, karena banyak pasien yang mungkin meninggal
sementara kita menolong korban ini.

 

 

 

Perfusion Assessment

 

Jika
korban bernapas, periksa frekuensinya, apabila lebih dari 30
kali/menit, dengan ujung kaki dan tangan dingin, basah dan pucat,
kemungkinan kotban akan mengalami syok. Beri tanda red tag
atau tanda ‘I’, kemudian baringkan korban, tinggikan tungkai bawah
(posisi syok) dan selimuti dengan jaket, selimut atau pakaian yang
kering.

 

Jika
korban yang didapatkan bernapas dengan frekuensi kurang dari 30
kali/menit, periksa perfusinya (sirkulasi darah) dengan menekan dan
lalu melepas ujung kuku, jika ujung kuku kembali merah muda dalam waktu
lebih dari dua detik, beri korban red tag atau tanda ‘I’. Kontrol perdarahan yang signifikan dengan melakukan direct pressure dapat dilakukan pada tahap ini.

 

 

 

Mental State Assessment

 

Jika korban bernapas kurang dari 30 kali/menit, dengan capillary refill
kurang dari dua detik, kemudian periksa status mentalnya. Tanyakan nama
dan apa yang telah terjadi. Jika korban tidak dapat menjawab, atau
menjawab dengan tidak jelas (meracau), tanyakan lagi, katakan bahwa
Anda bertanya untuk memastikan apakah status mental korban baik. Jika
korban bingung, itu mungkin pertanda dari kerusakan/cedera pada otak,
beri red tag atau tanda ‘I’. Korban yang termasuk
dalam kategori ini yaitu korban trauma capitis dengan pupil anisokor,
gangguan pernapasan, atau korban dengan perdarahan eksternal massif.
Jika korban dapat menjawab dengan baik dan memiliki orientasi yang baik
beri tanda ‘

DEL

’ atau beri yellow tag
yang menandakan bahwa korban cukup stabil dan dapat mentoleransi
penundaan ke rumah sakit. Korban yang termasuk dalam kategori ini yaitu
korban dengan resiko syok, korban dengan fraktur multipel, korban
dengan fraktur femur/pelvis, korban dengan luka bakar luas, korban
dengan gangguan kesadaran serta korban dengan status tidak jelas.

 

 

 

Triase 3

 

Lakukan evaluasi pada korban dengan red tag
untuk memberikan pertolongan pertama. Beri pertolongan pertama pada
korban, jika jumlah paramedis tidak memadai, latih dengan cepat korban
dengan minor injuries ataupun orang di sekitar tempat kejadian untuk melakukan tindakan resusitasi/pertolongan pertama pada korban.

 

 

 

Triase 4

 

Lakukan evaluasi pada korban dengan yellow tag untuk memberikan pertolongan. Beri pertolongan kepada korban dengan memberdayakan korban dengan minor injuries,
orang di sekitar tempat kejadian ataupun korban sendiri untuk melakukan
tindakan pengobatan dengan mengajarkan kepada mereka apa yang harus
dilakukan.

 

 

 

Triase 5

 

Tempatkan beberapa orang paramedis, jika paramedis kurang, latih beberapa korban minor injuries
untuk mengawasi korban ringan lain dari tanda-tanda syok. Jika waktu
memungkinkan, periksa semua korban untuk tanda-tanda syok. Periksa akan
adanya pernapasan yang cepat, wajah pucat dengan ujung kaki dan tangan
dingin yang merupakan tanda awal syok. Usahakan agar semua korban
berada dalam keadaan hangat dan kering untuk menghindari kemungkinan
terjadinya syok karena hipotermia.

 

 

 

Evacuation Triage

 

Selain on-site triage, terdapat pula evacuation triage yang dilakukan dalam memprioritaskan korban yang akan dievakuasi ke rumah sakit.

 

  • Korban ‘D’ ditinggalkan di tempat      mereka jatuh, ditutupi seperlunya.
  • Korban
    ‘I’ merupakan prioritas utama dalam ecakuasi karena korban ini
    memerlukan perawatan medis lanjut secepatnya atau paling lambat dalam
    satu jam (golden hour).
  • Korban ‘

    DEL

    ’ dapat menunggu evakuasi sampai      seluruh korban ‘I’ selesai ditranspor.

  • Jangan evakuasi korban ‘M’ sampai      seluruh korban ‘I’ dan ‘

    DEL


    selesai dievakuasi. Korban ini dapat menunda perawatan medis lanjut
    sampai beberapa jam lamanya. Re-triase korban tetap dilakukan untuk
    melihat apakah keadaan korban memburuk.

 

 

 

Reverse Triage

 

Sebagai
tambahan pada standar triase yang dijalankan, terdapat beberapa kondisi
dimana korban dengan cedera ringan didahulukan daripada korban dengan
cedera berat. Situasi yang memungkinkan dilakukan reverse triage yaitu pada keadaan perang dimana dibutuhkan prajurit yang terluka untuk kembali ke

medan

pertempuran secepat mungkin. Selain itu, hal ini juga mungkin dilakukan
bila terdapat seumlah besar paramedis dan dokter yang mengalami cedera,
dimana akan merupakan suatu keuntungan jika mereka lebih dulu
diselamatkan karena nantinya dapat memberikan perawatan medis kepada
korban yang lain.