OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER
DEFINISI
Obsessive Compulsive Disorder atau biasa disebut OCD adalah suatu penyakit yang menyerang bagian mental atau jiwa yang ditandai dengan adanya pemikiran yang selalu berulang-ulang (obsessive) serta tingkah laku yang sering dilakukan berulang (compulsive). Penyakit ini dapat diderita baik anak-anak maupun orang dewasa. Seseorang yang menderita penyakit ini akan melakukan tindakan yang selalu dilakukan berulang-ulang bahkan lebih dari 3 kali dalam sehari, seperti perasaan yang selalu disetir atau dikendalikan supaya melakukan aktivitas berulang-ulang. Kebanyakan penderita OCD tahu mereka mengidap OCD, Pada saat-saat tertentu penderita menyadari bahwa hal-hal yang ia lakukan adalah berlebihan. Tetapi mereka tidak berupaya untuk menghindari dan mengontrol kebiasaan tersebut. Seolah-olah kegiatan tersebut sudah menjadi bagian dari perilaku mereka sehari-hari. Namun, pada kenyataannya Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD) lebih sering dijumpai karena jika ditinjau dari segi gejalanya OCD kondisinya lebih parah daripada OCPD. Orang yang menderita OCD mempunyai pemikiran yang mendalam terhadap apapun yang ada pada pikiran penderita. Namun, hal ini tidak berlangsung setiap saat, ada saatnya penderita bersifat sederhana dan menganggap tidak ada masalah (anonim, 2007).
ETIOLOGI (sebab)
“Sebuah penelitian menyatakan bahwa OCD berkaitan dengan adanya gangguan komunikasi antara otak bagian depan (orbital cortex) dengan struktur sel saraf dalam otak yang dinamakan basal ganglia. Struktur basal ganglia ini berkaitan dengan rasa, pikiran dan pergerakan anggota tubuh. Kekurangan suplay serotonin (substansi yang menyampaikan informasi antarsel di otak) di area ini diyakini mempengaruhi terjadinya OCD, dan peningkatan konsentrasinya seringkali membantu meringankan gejala-gejala OCD. Walaupun begitu belum ada yang dapat menyimpulkan penyebab munculnya gejala OCD secara pasti (MayoClinic, 2007).”
Teori-teori utama yang menyebabkan OCD menurut sumber dari Mayo Clinic (MayoClinic, 2007):
Biologi, beberapa peneliti percaya bahwa OCD merupakan akibat dari perubahan-perubahan kimia yang terjadi didalam tubuh manusia.
Lingkungan, beberapa peneliti menyatakan bahwa OCD berasal dari kebiasaan perilaku dari waktu ke waktu.
Serotonin yang tidak cukup, yaitu bila serotono pada otak kurang maka akan menyebabkan gejala OCD.
PATOGENESIS
Kekacauan pada mental atau yang biasa disebut dengan Obsessive Compulsive Disorder dapat mempengaruhi 2 sampai 3 persen populasi di dunia ini. Penderita OCD umumnya sewaktu masa remaja atau awal masa kanak-kanak yang biasanya terjadi pada usia 10 tahun, dan pada orang dewasa pada umumnya sekitar umur 21 sampai 36 tahun. Penderita dialami oleh pria dan wanita, pada pria umumnya OCD dialami pada masa kank-kanak dan pada wanita umumnya pada usia dua puluhan. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan pengaruh OCD antara lain (MayoClinic, 2007):
Keturunan (genetik), bila terdapat salah satu bagian keluarga yang memiliki sejarah dengan OCD maka akan meningkatkan perkembangan OCD itu sendiri.
Organik, masalah-masalah tertentu pada otak.
Personality, orang yang mempunyai personality obsessif cenderung mendapat gangguan OCD, yaitu seperti keterlaluan dalam kebersihan, terlalu patuh pada peraturan, cerewet dan tidak mudah mengalah.
Konflik, mereka yang menderita OCD biasanya sedang menghadapi sebuah konflik jiwa menyangkut masalah hidup. Seperti hubungan suami istri, percaya diri, dll. Yang nantinya akan memunculkan tekanan dan akan timbul gejala dari OCD itu sendiri.
Pengalaman masa lalu, jika seseorang memecahkan suatu masalah akan nampak pula gejala OCD yang ia biarkan ada didalam dirinya yang sudah tertanam sejak lama.
Penjelasan diatas merupakan beberapa faktor –faktor yang dapat terjadi pada kehidupan sehari-hari, tanpa sadar faktor-faktor diatas yang dapat membawa kita untuk merasakan bagaimana OCD itu. Awal mula bersifat perfeksionis tapi jika lama-kelamaan sifat itu malah merugikan kita sendiri dan disekitar kita malah justru akan membahayakan kita (mandhut, 2007).
DIAGNOSIS
Umumnya gejala penderita OCD adalah sebagai berikut (MayoClinic, 2007):
Melakukan perbuatan secara berulang.
Mengingat-ingat sesuatu padahal gampang sekali diingat.
Was-was, melakukan secara perlahan.
Resah
Terkadang sulit untuk mengidentifikasi adanya OCD pada diri kita karena OCD sendiri hampir menyerupai sifat tertarik dan perfeksionis. Namun OCD merupakan tingkat yang lebih parah daripada perfeksionis itu sendiri. Perfeksionis dapat diterima di lingkungan dan bertujuan untuk hasil yang terbaik. Namun jika ke-perfeksionis-an kita mulai menyusahkan orang lain dan diri sendiri serta bertingkah yang bersifat ‘tidak penting’ maka dapat disimpulkan merupakan gejala OCD. Biasanya pasien yang mengidap OCD memperlihatkan pengertian yang mendalam dan menyadari bahwa tingkah laku mereka itu ekstrim atau ‘keterlaluan’. Karena pasien sering tidak terbuka jika mereka mengidap OCD, dokter menanyakan kepada mereka 3 hal yaitu (emedia, 2007):
Apakah anda mempunyai pemikiran yang berulang dan dapat membuat anda bersemangat?
Apakah anda menjaga kebersihan seperti mencuci tangan sesering mungkin?
Apakah anda memeriksa segala sesuatu dengan berlebihan?
Jawaban dari pertanyaan diatas dapat menjadi tolak ukur apakah pasien tersebut mengidap OCD atau tidak. Namun membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik diagnostik tersebut.
TERAPI
Jika obsesi-obsesi dalam pikiran penderita memaksa mempengaruhi hidup dan pikiran, maka segeralah bertemu dengan dokter yang bersangkutan. Itu umum bagi penderita OCD yang mempunyai sifat pemalu dan mempermalukan sekitarnya.Perawatan OCD mempunyai dua komponen utama yaitu Psikoterapi dan Pengobatan. Psikoterapi merupakan suatu jenis dari ilmu pengobatan yang melibatkan anda untuk mengarahkan pada suatu obyek atau obsesi yang ditakuti. Pendekatan psikoterapi sendiri merangkumi Psikoterapi Kognitif dan Psikoterapi Tingkah laku. Yang dimaksud dengan Psikoterapi Kognitif adalah pasien akan dibantu untuk mengatasi masalah melalui perbincangan yang rasional, sedangkan Psikoterapi Tingkah laku lebih condong kepada tindakan pencegahan (Michael, 2004).
Perawatan yang kedua yaitu dengan obat-obatan. Biasanya dokter akan memberikan obat seperti Chlomipramine dan Fluxomine. Kedua obat ini berfungsi sebagai obat penenang bagi penderita. Obat ini juga berkhasiat dapat menghapus pikiran obsesional yang diderita pasien. Namun hasil dari cara kerja obat ini tidak seketika, memerlukan waktu lama yaitu sekitar dua sampai tiga tahun sesuai dengan bagaimana penderita mengkonsumsi obat. Dalam suatu studi Klonazepam mempunyai khasiat sebagai anti obsessional yang dilakukan dalam kombinasi dengan Klomipramina atau FluxotineDespite yang efektif untuk menambahkan serotonin pada otak(MayoClinic, 2007).
PENCEGAHAN
“Tidak ada cara yang spesifik untuk mencegah kekacauan OCD selain mengembangkannya, karena penyebab dari OCD merupakan tidak dikenal luas oleh masyarakat. Bagaimanapun perawatan secepat mungkin yang dapat membantu mencegah OCD dari keadaan yang lebih parah (MayoClinic, 2007).”
Karena tidak adanya pencegahan yang jelas maka kita harus melindungi diri kita sendiri dengan mengevaluasi apakah kita sudah terkena symptom OCD apa belu, jika sudah terkena maka kita harus cepat-cepat mencegah agar symptom dari OCD itu tidak langsung menjadi suatu kebiasaan dalam hidup kita yang akhirnya nanti akan merugikan kita secara tidak langsung.
