|
|
|
|
GANGGUAN SOMATOFORM
dr. Engelberta Pardamean, SpKJ
|
|
|
|
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki
gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana
tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan
keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan
emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan
pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu
diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa
faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset,
keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak
disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.
Ada
lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
|
- Gangguan somatisasi ditandai oleh
banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
- Gangguan konversi ditandai oleh
satu atau dua keluhan neurologis.
- Hipokondriasis ditandai oleh
fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
- Gangguan dismorfik tubuh ditandai
oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa
suatu bagian tubuh mengalami cacat.
- Gangguan nyeri ditandai oleh
gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis
atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori
diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
- Undiferrentiated somatoform,
termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu
diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
|
| Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi |
- Riwayat banyak keluhan fisik yang
dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa
tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
- Tiap kriteria berikut ini harus
ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang
waktu selama perjalanan gangguan:
- Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan
sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya
kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama
menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
- Dua
gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala
gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain
dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa
jenis makanan)
- Satu gejala seksual:
riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau
reproduktif selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual,
disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur,
perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
- Satu
gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit
yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada
nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau
keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau
benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya
sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang;
gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain
pingsan).
- Salah satu (1)atau (2):
- Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B
tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum
yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera,
medikasi, obat, atau alkohol)
- Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial
atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang
diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan
laboratorium.
- Gejala tidak ditimbulkan secara
sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).
|
| Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi |
- Satu atau lebih gejala atau defisit
yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan
pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
- Faktor psikologis dipertimbangkan
berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi
gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
- Gejala atau defisit tidak
ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura).
- Gejala atau defisit tidak dapat,
setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh
kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai
perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
- Gejala atau defisit menyebabkan
penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan
pemeriksaan medis.
- Gejala atau defisit tidak terbatas
pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama
perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan
lebih baik oleh gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau defisit:
Dengan gejata atau defisit motorik
Dengan gejala atau defisit sensorik
Dengan kejang atau konvulsi
Dengan gambaran campuran
|
| Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis |
- Pereokupasi dengan ketakutan
menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius
didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap
gejalagejala tubuh.
- Perokupasi menetap walaupun telah
dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
- Keyakinan dalam kriteria A tidak
memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe
somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan
(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
- Preokupasi menyebabkan
penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
- Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
- Preokupasi tidak dapat diterangkan
lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif,
gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau
gangguan somatoform lain.
|
| Sebutkan jika: |
Dengan
tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode
berakhir, orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang
menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan.
|
| Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh |
- Preokupasi dengan bayangan cacat
dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran
orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
- Preokupasi menyebabkan
penderitaan
yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
- Preokupasi tidak dapat diterangkan
lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan
bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).
|
| Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri |
- Nyeri pada satu atau lebih tempat
anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk
memerlukan perhatian klinis.
- Nyeri menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,
atau fungsi penting lain.
- Faktor psikologis dianggap memiliki
peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau
bertahannnya nyeri.
- Gejala atau defisit tidak
ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura).
- Nyeri tidak dapat diterangkan lebih
baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak
memenuhi kriteria dispareunia.
|
| Tuliskan seperti berikut: |
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor
psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan,
eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.
Sebutkan jika:
Akut:
durasi kurang dari 6 bulan Kronis:
durasi 6 bulan atau lebih
|
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun
kondisi medis umum Sebutkan jika:
Akut:
durasi kurang dari 6 bulan Kronis:
durasi 6 bulan atau lebih Catatan: yang berikut
ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan
dimasukkan untuk mempermudah diagnosis banding.
|
| Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan |
- Satu atau lebih keluhan fisik
(misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
- Salah satu (1)atau (2)
- Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek
langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau
alkohol)
- Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik
atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah
melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik, atau temuan laboratonium.
- Gejala menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,
atau fungsi penting lainnya.
- Durasi gangguan sekurangnya enam
bulan.
- Gangguan tidak dapat diterangkan
lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform,
disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan
tidur, atau gangguan psikotik).
- Gejala tidak ditimbulkan dengan
sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
berpura-pura)
|
|
|
|
|
GANGGUAN PSIKOSOMATIK
|
Penggunaan kata "psikosomatik "baru
digunakan pada awal tahun 1980-an. Istilah tersebut dapat ditemukan
pada abad ke-19 pada penulisan oleh seorang psikiater Jerman
Johann Christian Heinroth dan psikiater lnggns John Charles
Bucknill.
|
Nosologi DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders)
Psikosomatis
|
Untuk
membuat kategori secara klinis, DSM-IV mengandung format
subkategorisasi yang membuat dokter dapat menspesifikasikan jenis
faktor psikologis atau tingkah laku yang mempengaruhi kondisi medis
pasien. Faktor-faktor tersebut dirancang sedemikian
mencakup jangkauan yang luas dari fenomena psikologis dan tingkah
laku yang tampaknya mempenganuhi kesehatan fisik. |
| Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis |
- Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III)
- Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu cara berikut:
- Faktor
yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan oleh
hubungan erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau
eksaserbasi dan, atau keterlambatan penyembuhan dan, kondisi medis umum.
- Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
- Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
- Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala-gejala kondisi medis umum.
|
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat
lebih dan satu faktor, nyatakan yang paling menonjol)
Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan
depresif berat memperiambat pemulihan dan infark miokardium)
Gejala
psikologis mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala depresif
memperlambat pemulihan dan pembedahan; kecemasan mengeksaserbasi
asthma)
Sifat kepribadlan atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi
kondisi medis (misalnya penyangkaian psikologis terhadap pembedahan
pada seorang pasien kanker, perilaku bermusuhan dan tertekan
menyebabkan penyakit kandiovaskular).
Perilaku kesehatan maladaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya
tidak olahraga, seks yang tidak aman, makan benlebihan).
Respon
fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis
umum (misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau tension
headache yang berhubungan dengan stres).
Faktor
psikologis lain yang tidak ditentukan mempengaruhi kondisi medis (misalnya faktor interpersonal, kultural, atau religius)
|
I. Gangguan
Gastrointestinal |
- Ulkus Peptikum
- Merupakan ulserasi pada membran mukosa lambung atau duodenum,
berbatas jelas, menemus ke mukosa muskularis dan terjadi di daerah
yang terkena asam lambung dan pepsin.
- Etiologi
Teori spesifik
- Alexander menghipotesiskan bahwa frustasi kronis dari kebutuhan ketergantungan yang
kuat menyebabkan konflik bawah sadar yang spesifik.
- Konflik
bawah sadar tersebut menyinggung ketergantungan kuat akan keinginan
reseptif-oral untuk disayangi dan dicintai, menyebabkan rasa lapar dan
kemarahan bawah sadar yang regresif dan kronis.
- Reaksi
dimanifestasikan secara psikologis oleh hiperaktivitas vagal persisten
yang menyebabkan hipersekresi asam lambung, yang terutama jelas pada
orang yang memiliki predisposisi genetik. Pembentukan ulkus dapat
terjadi.
- Faktor genetik dan kerusakan atau penyakit organ yang telah ada sebelumnya (contohnya gastritis)adalah penyebab yang penting.
- Terapi
- Psikoterapi diarahkan pada konflik ketergantungan pasien.
- Biofeedback dan terapi relaksasi berguna.
- Terapi
medis dengan cimetidine (Tagamet), ranitidine (Zantac), sucralfate
(Carafate), atau famotidine (Pepcid), serta pengendalian diet
diindikasikan dalam penatalaksanaan ulkus. Obat antimikrobial pada
ulkus akibat H. Pylon.
- Kolitis Ulseratif
- Penyakit ulseratif inflamatoris kronis pada kolon, biasanya disertai
diare berdarah. Insidensi familial dan faktor genetik penting.
- Tipe kepribadian: sifat kepribadian kompulsif yang menonjol. Pasien adalah seorang yang pembersih, tertib, rapi, tepat waktu,
hiperintelektual, malumalu, dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan.
- Etiologi
Teori spesifik:
- Alexander menggambarkan kumpulan konflik spesifik
pada kolitis ulseratif yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi suatu
kewajiban (biasanya tidak patuh) sampai kepada inti ketergantungan.
Ketergantungan yang mengalami frustasi menstimulasi perasaan
agresif-oral, menyebabkan rasa bersalah dan kecemasan. Menghasilkan
pemulihan melalui diare.
- Terapi
- Psikoterapi yang tidak konfrontatif dan suportif diindikasikan pada
kolitis ulseratif.
- Terapi medis seperti obat antikolinergik dan antidiare.
- Obesitas
- Akumulasi lemak berlebihan; berat badan melebihi 20 % berat badan seharusnya.
- Pertimbangan psikosomatik
- Terdapat predisposisi genetik dan faktor perkembangan awal ditemukan pada obesitas masa anak-anak.
- Faktor psikologis penting pada obesitas hiperfagik (makan berlebihan), khususnya pada makan pesta pora.
- Faktor psikodinamika yang diajukan antara lain fiksasi oral, regresi oral, dan penilaian berlebihan terhadap makanan.
- Pasien memiliki riwayat penghindaran terhadap citra tubuh dan kebiasaan awal yang buruk dalam asupan makanan.
- Terapi
- Dikendalikan melalui pembatasan diet dan penurunan asupan kalori.
- Dukungan
emosional dan modifikasi perilaku membantu mengatasi kecemasan dan
depresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet.
- Anoreksia Nervosa
Perilaku yang diarahkan untuk:
- Menghilangkan berat badan.
- Pola aneh dalam menangani makanan.
- Penurunan berat badan.
- Rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.
- Gangguan citra tubuh.
- Amenore pada wanita.
|
| II. Gangguan Kardlovaskular |
- Penyakit Arteri Koroner
- Penurunan aliran darah ke jantung. Ditandai oleh rasa nyeri, tidak nyaman, tekanan pada dada dan jantung secara episodik.
- Biasanya ditimbuikan oleh penggunaan tenaga dan stres.
- Tipe kepribadian
- Flanders Dunbar: pasien penyakit koroner
berkepribadian agresifkompulsif, cendenung bekerja dengan waktu panjang, dan
untuk meningkatkan kekuasaan.
- Meyer Fiedman dan Ray Rosenman: kepriibadian tipe A dan B.
- Kepribadian tipe A berhubungan kuat dengan penyakit jantung koroner.
Orang yang berorientasi tindakan berjuang keras untuk mencapai tujuan dengan cara permusuhan yang kompetitif. Memiliki
peningkatan jumlah lipoprotein densitas rendah, kolesterol serum, trigliserida, dan 17- hidroksikolestenol.
- Kepribadian tipe B: santai, kurang agresif, kurang aktif berjuang mencapai tujuannya.
- Terapi:
Jika terjadi oklusi koroner, digunakan berbagai medikasi bagi status
jantung pasien. Untuk menghilangkan ketegangan psikis, digunakan
psikotropika (contoh diazepam / valium). Rasa sakit diobati dengan
analgesik (contoh morfin). Terapi medis harus suportif dengan penekanan
psikologis untuk menghilangkan stres psikis, kompulsif, dan ketegangan.
- Hipertensi Esensial
- Tipe kepribadian
- Orang hipertensif tampak dari luar menyeriangkan, patuh, dan kompulsif; walaupun kemarahan mereka tidak diekspresikan secara
terbuka, memiliki banyak kekerasan yang terhalangi.
- Predisposisi genetik untuk hipertensi; yaitu bila terjadi stres
kronis pada kepribadian kompulsif yang telah merepresi dan menekan
kekerasan.
- Terapi: Psikoterapi suportif dan teknik perilaku (contoh:
biofeedback, meditasi, terapi relaksasi). Pasien harus patuh dengan
regimen medikasi anti hipertensi.
- Gagal Jantung Kongestif
- Gangguan di mana jantung gagal memompa darah secara normal,
menyebabkan kongesti paru dan menurunkan aliran darah jaringan dengan
penurunan curah Jantung.
- Faktor psikologis, seperti stres dan konflik emosional nonspesifik,
seringkali bermakna dalam mulainya atau eksaserbasi gangguan.
- Psikoterapi suportif penting dalam pengobatannya.
- Sinkop Vasomotor (Vasodepresor)
- Ditandai oleh kehilangan kesadaran (pingsan)
secara tiba-tiba yang disebabkan oleh serangan vasovagal.
- Menurut Franz Alexander, rasa khawatir atau takut menghambat
impuls untuk berkelahi atau melarikan diri. Dengan demikian
menampung darah di anggota gerak bawah, dari vasodilatasi pembuluh darah di
dalam tungkai. Reaksi tersebut menyebabkan penurunan pengisian ventrikel,
penurunan pasokan darah ke otak, dan akibatnya hipoksia otak dan
kehilangan kesadaran.
- Terapi: Psikoterapi harus digunakan untuk menentukan penyebab ketakutan atau trauma yang berhubungan dengan sinkop
- Aritmia Jantung
- Aritmia yang potensial membahayakan hidup (seperti palpitasi,
takikardi ventrikular, dan fibrilasi ventrikular), kadang-kadang
terjadi bersama dengan luapan emosional.
- Juga berhubungan dengan trauma emosional adalah takikardi sinus,
perubahan gelombang ST dan gelombang T, peningkatan katekolamin
plasma, dan konsentrasi asam lemak bebas.
- Stres emosional tidak spesifik, dan penjelasan kepribadian yang
berhubungan dengan gangguan.
- Terapi: Psikoterapi dan obat penghambat beta (propanolol, dll)
- Fenomena Raynaud
- Sianosis bilateral paroksismal idiopatik pada jail karena kontraksi
arteniolan.
- Kontraksi arteniolar seringkali disebabkan oleh stres ekstemal.
- Terapi:
dapat diobati dengan psikoterapi suportif, relaksasi progresif, atau
biofeedback dengan melindungi tubuh dari dingin dan menggunakan sedatif
ringan.
- Merokok harus dihentikan.
- Jantung Psikogenik Bukan Penyakit
- Pasien menunjukkan keprihatinan morbid tentang jantungnya dan rasa
takut akan penyakit jantung yang meningkat.
- Rasa takut dapat timbul dan masalah kecemasan, yang dimanifestasikan
oleh fobia atau hipokondriasis parah, sampai keyakinan vaham bahwa
mereka menderita penyakit jantung.
- Banyak pasien menderita akibat sindroma yang kurang jelas ini seringkali dinamakan astenia neurosirkulatorik.
- Astenia
neurosirkulatonik pertama kali digambarkan tahun 1871 oleh Jacob M.
DaCosta, yang menamakannya jantung iritabel (irritable hearth).
- Dokter psikiatrik cenderung memandang sebagai varian klinik dari gangguan kecemasan, walaupun tidak ditemukan dalam DSM-IV.
- >Kriteria diagnostik astenia neurosirkulatorik:
- Keluhan pemapasan seperti pemapasan yang resah, tidak dapat menarik napas dalam, tercekik dan tersedak, dan sesak napas.
- Palpitasi, nyeri dada, atau rasa tidak enak.
- Kegugupan, pening, pingsan, atau rasa tidak enak di puncak kepala.
- Kelelahan yang tidak hilang-hilang atau pembatasan aktivitas.
- Keringat berlebihan, insomnia, dan iritabilitas.
- Gejala biasanya mulai pada mulai masa remaja atau pada awal usia 20-an.
- Gejala tertentu adalah dua kali lebih sering pada wanita dan cenderung kronis, dengan eksaserbasi akut rekuren.
- Terapi:
- Penatalaksanaan astenia neurosirkulatorik mungkin sulit. Elemen fobik adalah menonjol.
- Psikoterapi
ditujukan untuk mengungkapkan faktor psikodinamik-seringkali
menghubungkan dengan permusuhan, impuls seksual yang tidak dapat
diterima, ketergantungan, rasa bersalah, dan kecemasan akan mati.
Tetapi mungkin efektif pada beberapa kasus, karena beberapa pasien
mungkin menghindari bantuan psikiatrik.
- Teknik
perilaku lain mungkin berguna. Program latihan fisik ditujukan untuk
mengkoreksi kebiasaan pemapasan yang buruk dan secara bertahap
meningkatkan toleransi kerja pasien. Program ini dapat dikombinasikan
dengan psikoterapi kelompok.
|
III.
Gangguan Pemapasan |
- Asma Bronkialis
- Penyakit obstruktif rekuren pada jalan napas bronkial,
cenderung berespon terhadap berbagai stimuli dengan konstriksi bronkial,
edema, dan sekresi yang berlebihan.
- Faktor genetika, alergik, infeksi, dan stres akut dan
kronis berkombinasi untuk menimbulkan penyakit.
- Faktor psikologis: tidak ada tipe kepribadian spesifik
yang telah diidentifikasi. Alexander mengajukan faktor
konfliktual psikodinamika, karena ia menemukan pada banyak pasien
asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk
diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung
bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis,
berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapatkan,
serangan asthma terjadi, karena ia menemukan pada banyak pasien asma
adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk
diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung
bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis,
berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapàtkan,
serangan asma terjadi.
- Terapi: beberapa pasien asma membaik dengan dipisahkan dan ibu
(disebut parentektomi). Semua psikoterapi standar digunakan:
individual, kelompok, perilaku(desensitisasi sistematik), dan
hipnotik.6,8,9
- Hay Fever
- Faktor psikologis yang kuatberkombinasi dengan elemen alengi.
- Terapi: faktor psikiatrik, medis, dan alergik harus dipertimbangkan.
- Sindroma Hiperventilasi
- Pasien hiperventilasi
bennapas cepat dan dalam selama beberapa menit, merasa
ningan, dan selanjutnya pingsan karena vasokonstriksi
serebral dan alkalosis respiratonik.
- Differential diagnosis pada
psikiatrik adalah serangan kecemasan,
panik, skizofnenia, gangguan kepribadian histnionik, dan keluhan
fobik atau obsesif
- Terapi: harus diberikan instruksi atau latihan ulang benhubungan
dengan gejala tertentu dan bagaimana gejala tersebut ditimbulkan
oleh hiperventilasi, sehingga pasien secana sadar menghindani
pencetus gejala. Bemafas ke dalam sebuah kantong dapat menghentikan
serangan. Psikoterapi suportif juga diindikasikan.
- Tuberkulosis
- Onset dan perburukan tubenkulosis seringkali berhubungan dengan
stres akutdan kronis.
- Faktor psikologis mempenganuhi sistem kekebalan dan mungkin
mempengaruhi dayatahan pasien terhadap penyakit.
- Penanan stres pada insidensi tuberkulosis belum dipelajari secara
menyeluruh, tetapi sebagian besan pasien AIDS memiliki komplikasi
psikiatrik dan neunologis dan besar kemungkinannya mengalami stres.
- Psikoterapi suportif berguna karena adanya peranan stres dan situasi
psikososial yang rumit.
|
IV.
Gangguan Endokrin |
- Hipertiroidisme
- Suatu sindroma yang ditandai oieh perubahan biokimiawi danpalkologis
yang terjadi sebagai akibat dan kelebihan hormon_tiroid~eñdogen atau
eksogen yang kronis.
- Pertimbangan psikosomatik
- Pada orang yang terpredisposisi secara genetik, stres seringkali
disentai dengan onset hipertiroidisme.
- Menurut teori psikoanalitik, selama masa anak-anak, pasien
hipertiroid memiliki penlekatan yang tidak lazim
dan ketergantungan pada onangtua, biasanya kepada ibu. Mereka
menjadi tidak tahan terhadap ancaman penolakan dani ibu. Sebagai
anak-anak, pasien tersebut seringkali memiliki dukungan yang tidak
adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak
saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stres awal dan pemakaian
benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
Dukungan yang tidak adekuat karena
stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara kandung.
Keadaan ml menyebabkan stnes awal dan pemakaian benlebihan sistem
endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
- Terapi: medikasi antitiroid, tranquilizer, dan psikotenapi suportif.
- Diabetes Melitus
- Gangguan metabolisme dan sistem vaskular dimanifestasikan
gangguan pengaturan giukosa, lemak, dan protein tubuh
- Onset yang mendadak seringkali berhubungan dengan stres
emosional, yang mengganggu keseimbangan homeostatik pada pasien yang terpredisposisi.
- Faktor psikologis yang
tampaknya penting adalah faktor yang mencetuskan perasaan
fnustnasi, kesepian, dan kesedihan.
- Pasien diabetik biasanya mempertahankan kontnol diabetiknya.
Jika mengalami depresi atau merasa sedih, mereka seringkaii
makan atau ininum benlebihan yang merusak diri sendini, sehingga
diabetes menjadi tidak terkendali.
- Terapi: psikotenapi suportif dipenlukan untuk mencapai kerjasama
dalam penatalaksanaan medis dani penyakit kompleks. Terapi harus
mendorong pasien diabetik untuk menjalani kehidupan senonmal
mungkin, dengan menyadari bahwa mereka memiliki penyakit kronis yang dapat
ditangani.
- Gangguan Endokrin Wanita
- Sindroma pramenstruasi (Premenstrual Syndrome! PMS)
- Merupakan gangguan disforik pramenstruasi, ditandai oleh perubahan
subjektmfsikiis dalam mood dan rasa kesehatan fisik dan psikologis
umum yang berhubungan dengan siklus menstruasi.
- Gejala biasanya dimulai segera setelah ovulasi, meningkat secana
bertahap, dan mencapai intensitas maksimum kira-kira lima han
sebelum menstruasi dimulai.
- Faktor psikologis, sosial, dan biologis telah terlibat di dalam
patogenesis gangguan.
- Perubahan kadar estrogen, progesteron, androgen, dan proiaktin telah
dihipotesiskan berperan penting dalam penyebab.
- Peningkatan prostaglandin tenlibat dalam
rasa
nyerii yang benhubungan
dengan gangguan.
- Gangguan disfonik paramenstruasi juga terjadi pada wanita setelah
menopause dan setelah histerektomi.
- Penderltaan Menopause (Menopause Distress)
- Peristiwa fisiologis alami, terjadi setelah tidak ada peniode
menstnuasi selama satu tahun. Juga teijadi segera setelah pengangkatan
ovarium.
- Gejala psikologis tenmasuk kelelahan, kecemasan, ketegangan,
labilitas emosional, initabilitas (mudah marah), depresi, dan
insomnia.
- Tanda dan gejala fisik adalah keringat malam, muka merah,
rasa
panas (hot flushes)
- Faktor psikologis dan psikososial
- Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan psikologis, seperti
harga diri yang rendah dan kepuasan hidup rendah, kemungkinan
rentan terhadap kesulitan selama menopause.
- Respon seorang wanita terhadap menopause telah ditemukan sejalan dengan responnya dengan peristiwa kehidupan panting di
dalam hidupnya, seperti pubertas dan kehamilan.
- Wanita yang tenikat pada banyak melahirkan anak dan aktivitas mengasuh anak paling rentan untuk mendenita selama
tahun-tahun menopause.
- Permasalahan tentang ketuaan, kehilangan kemampuan metahinkan anak, dan perubahan penampilan dipusatkan pada kepentingan
sosial dan simbolik yang melekat pada perubahan fisik menopause.
- Penelitian epidemiologis tidak menunjukkan peningkatan gejala gangguan mental atau depresi selama tahun-tahun menopause,
dan penelitian tentang keluhan psikologis tidak menemukan
adanya frekuensi yang lebih besar pada wanita menopause.
- Terapi: gangguan psikologis
harus dipeniksa dan diobati tenutama
oleh tindakan psikotenapetik dan sosioterapettik yang sesuai.
Psikoterapi harus tenmasuk penggalian stadium kehidupan dan anti
ketuaan dan reproduksi bagi pasien. Pasien harus didorong untuk
menenima menopause sebagai penistiwa kehidupan alami dan untuk mengembangkan aktivitas,
ininat, dan kepuasaan baru.
Psikoterapi juga harus memperhatikan dinamika keluarga. Sistem pendukung
keluarga dan sosial Iainnya jika diperlukan.
- Amenore Idiopatik
- Hilangnya siklus menstruasi normal pada wanita yang tidak hamil dan
pramenopause tanpa adanya kelainan stuktural otak, hipofisis, atau
ovarium.
- Amenore dapat teijadi sebagai salah satu cmi sindroma
psikiatrik
klinis yang kompleks, seperti anoneksia nervosa dan pseudokiesis.
- Fungsi menstruasi yang terganggu (menstruasi yang
lebih cepat atau
lambat) adalah respons seorang wanita sehat terhadap stres. Stres
ringan seperti meninggalkan numah untuk masuk ke perguruan tinggi
atau stres berat dapat berpenganuh.
- Sebagian besar wanita, siklus menstruasi kembali normal tanpa adanya
intervensi medis, walaupun kondisi stres terus berjalan.
- Psikoterapi dilakukan untuk alasan psikologis, bukan hanya sebagai
nespon terhadap gejala amenone. Jika amenore sukar diobati,
psikoterapi dapat membantu memulihkan menstruasi yang teratur.
|
| V. GANGGUAN KULIT |
- Pruritus menyeluruh
- lstilah “pruritus psikogenik menyeluruh” (generalized psychogenic
pruritis) menyatakan bahwa tidak ada penyebab
organik.
- Konflikemosional tampaknya menyebabkan terjadinya gangguan.
- Emosi yang paling sering menyebabkan pruritus psikogenik menyeluruh
adalah kemarahan dan kecemasan yang terepresi. Kebutuhan akan
perhatian merupakan karakteristik umum pada pasien.
- Menggaruk kulit memberikan kepuasaan pengganti utnuk kebutuhan yang
mengalami frustrasi, dan menggaruk mencerminkan agresi yang
dibalikkan kepada diri sendiri
- Pruritus setempat
- Pruritus ani. Penelitian menunjukkan riwayat iritasi lokal atau
faktor sisemik umum. Keadaan ini merupakan keluhan yang mengganggu
pekerjaan dan aktivitas sosial. Penelitian terhadap sejumlah
besar pasien mengungkapkan bahwa penyimpangan kepribadian seringkali
mendahului kondisi dan gangguan emosional seringkali mencetuskan
gejala ini.
- Pruritus vulva. Pada beberap pasien, kesenangan yang didapat dani
menggosok dan menggaruk adalah disadani. Mereka menyadari bahwa ml
adalah simbolik dan masturbasi. Tetapi elemen kesenangan dinepresi.
Sebagian besar pasien yang diteliti memberikan riwayat panjang
frustrasi seksual, seringkali diperkuat pada saat onset pruritus.
- Hiperhidrosis
- Keadaan takut, marah, dan tegang dapat menyebabkan
meningkatnya sekresi keringat.
- Benkeringat pada manusia memiliki dua bentuk berbeda:
termal dan emosional.
- Berkeringat emosional terutama pada telapak tangan,
telapak kaki, dan aksiia.
Berkeringat termal paling jelas pada dahi, leher, batang tubuh,
punggung tangan, dan lengan bawah.
- Kepekaan nespon berkeringat emosional merupakan dasan
untuk pengukunan keringat melalui respon kulit galvanik
(alat penting dalam penelitian psikosomatik), biofeedback, dan poligrafi
(tes detektor kebohongan.
- Di bawah keadaan stres emosional, hipenhidnosis
menyebabkan perubahan kulitsekunder, warn kulit, lepuh, dan infeksi.
- Hiperhidrosis dapat dipandang sebagal fenomena
kecemasan yang diperantarai oleh sistern sanafotonom.
|
VI.
GANGGUAN MUSKULOSKELETAL |
- Artrltls Rematold
- Ditandai oleh nyeri muskuloskeletal
kronis yang disebabkan oleh
penyakit peradangan pada sendi.
- Memiliki faktor penyebab herediter,
alergik, mmunologi, dan
psikologi yang penting.
- Stres psikologis mempredisposisikan pasien pada artritis rematoid
dan penyakitautoimun lain melalui supresi
kekebalan.
- Pasien merasa tenkekang, terikat, dan terbatas. Mereka seringkali
memiliki rasa marah yang terepresi karena
terbatasnya fungsi otot-otot mereka, sehingga memperberatkekakuan
dan imobilitas mereka.
- Terapi: psikoterapi suportif selama serangan kronis. Istirahat dan
latihan harus terstnuktur, dan pasien harus didorong untuk tidak
menjadi tenikat pada tempat tidur dan kembali ke aktivitas mereka
sebelumnya.
- LowBackPain
- Nyeri punggung bawah seringkali dilaponkan pasien bahwa nyerinya
dimulai pada saat trauma psikologis atau stres.
- Reaksi pasien terhadap nyeri tidak sebandmng secara emosional,
dengan kecemasan dan depresi yang berlebihan.
- Terapi berupa psikotenapi suportif tentang trauma emosional
pencetus, terapi relaksasi, dan biofeedback. Pasien harus didorong
kembali ke aktivitas mereka segera mungkin.
|
VII
.PSIKO-ONKOLOGI |
|
Karena kemajuan pengobatan telah
mengubah bahwa kanker dari tidak dapat disembuhkan menjadi penyakit
yang seringkali kronis dan sering dapat diobati, aspek psikiatrik
dan kanker (reaksi terhadap diagnosis dan terapi) semakin penting.
|
| Masalah Paslen |
|
Jika pasien mengetahui bahwa mereka
menderita kanken, reaksi psikologis mereka adalah rasa takut akan
kematian, cacat, ketidakmampuan, rasa takut ditelantarkan dan
kehilangan kemandirian, rasa takut diputuskan dan hubungan, fungsi
peran, dan finansial; dan penyangkalan, kecemasan, kemarahan, dan
rasa bersalah. Kira-kira separuh pasien kanken
menderita gangguan mental. Di antaranya gangguan penyesuaian (68%).
Dengan gangguan depresif berat (13%) dan delirium (8%) merupakan
diagnosis selanjutnya yang tersering. Walaupun pikiran dan keinginan bunuh
diri sering ditemukan pada pasien kanker, insidensi bunuh din
sebenarnya hanya 1.4 sampai 1.9 kali dari yang ditemukan pada
populasi umum
|
Faktor
Kerentanan Bunuh Diri pada Paslen Kanker |
-
Depresi dan putus asa
-
Nyeri yang tidakterkendali baik
-
Delirium ringan (disinhibisi)
-
Perasaan hilang kendali
-
Kelelahan
-
Kecemasan
-
Psikopatologi yang telah ada
sebelumnya (penyalahgunaan zat, patologi karakter, gangguan
psikiatrik utama)
-
Masalah keluarga
-
Ancaman dan riwayat usaha bunuh
din sebelumnya
-
Riwayat positif bunuh diri pada
keluarga
-
Faktor risiko lain yang biasanya
digambarkan pada pasien psikiatrik
|
| CONSULTATION - LIAISON PSYCHIATRY (PSIKIATRI KONSULTASIPENGHUBUNG) |
|
Dalam
psikiatri konsultasi-penghubung (consultation-liaison I C-L
psychiatiy), yaitu suatu bidang keahlian yang berkembang dengan
cepat dan semakin diperhatikan. Dokter psikiatrik berperan sebagai
konsultan bagi sejawat kedokteran atau profesional kesehatan mental
lainnya. Pada umumnya, psikiatnl C-L adalah berhubungan dengan semua
diagnosis, terapetik, riset, dan pelayanan pendidikan yang dilakukan
dokter psikiatrik di rumah sakit umum dan berperan sebagaijembatan
antara psikiatrik dan spesialisasi lainnnya.
Dokter psikiatrik C-L harus mengerti banyak penyakit medis yang dapattampak
dengan gejala psikiatrik. Alat yang dimiliki oleh dokter psikiatrik
C-L adalah wawancara dan observasi klinis serial. Tujuan diagnosis
adalah untuk mengidentifikasi gangguan mental dan respon psikologis
tenhadap penyakit fisik, mengidentifikasi diri kepribadian pasien,
dan mengidentifikasi teknik mengatasi masalah yang karakteristik
dari pasien.. Rentang
masalah yang dihadapi dokter psikiatrik C-L adaiah luas. Penelitian
menunjukkan bahwa sampal 65 % pasien nawat map medis memiliki
gangguan psikiatrik. Gejala paling sering adalah kecemasan, depresi,
dan diorientasi.
|
Masalah konsultasl-penghubuñg
yang serlng: |
-
Usaha atau ancaman bunuh din
-
Depresi
-
Agitasi
-
Halusinasi
-
Gangguantidur
-
Gejala tanpa dasar onganmk
-
Disonientasi
-
Ketidakpatuhan atau menolak
menyetujui suatu prosedur
|
TERAPI
GANGGUAN PSIKOSOMATIS |
|
Konsep
penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan
yang menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala
dan gangguan, memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai
profesi. Permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi
adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik. Kedokteran
psikosomatik terutama mempermasalahkan penyakit-penyakit tersebut
yang menampakkan manifestasi somatik.
Terapi
kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani
aspek psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter
spesialis lain menangani aspek somatik. Tujuan terapi medis adalah
membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan dengan
berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan
akhirnya adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural
dan reorganisasi kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi
keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam
hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis
dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
|
| KESIMPULAN |
- Gangguan psikosomatis
merupakan
gangguan yang melibatkan antara pikiran dan tubuh. Hal ini berarti
bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
- Komponen emosional memainkan
penanan penting pada gangguan psikosomatis.
- Manifestasi penyakit fisik juga
sering diturunkan dan kepnibadian seseorang.
- Gangguan psikosomatis dapat
rnelibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh sehingga
memerlukan
penanganan secara terintegrasi dari ahli medis dan ahli psikiatri.
- Pengobatan gangguan psikosomatik
dani sudut pandang psikiatrik adalah tugas yang sulit.
- Tujuan terapi haruslah mengerti
motivasi dan mekanisme gangguan fungsi dan untuk membantu pasien
mengerti sifat penyakitnya.
- Tilikan tersebut harus
menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.
- Terapi kombinasi sangat
bermanfaat untuk mencapai resolusi gangguan struktural dan
reorganisasi gangguan kepribadian.
|