BRONKITIS
DEFINISI
Bronkitis adalah suatu peradangan pada saluran bronkial atau bronki. Peradangan
tersebut disebabkan oleh virus, bakteri, merokok, atau polusi udara
(Samer Qarah, 2007).
Definisi bronkitis akut adalah batuk dan kadang-kadang produksi dahak tidak lebih
dari tiga minggu (Samer Qarah, 2007).
Definisi bronkitis kronis adalah batuk disertai sputum setiap hari selama setidaknya
3 bulan dalam setahun selama paling sedikit 2 tahun berturut-turut.
ETIOLOGI
1. Merokok
merupakan satu-satunya penyebab kausal yang terpenting. Peningkatan
resiko mortalitas akibat bronkitis hampir berbanding lurus dengan jumlah
rokok yang dihisap setiap hari (Rubenstein, et al., 2007).
2. Polusi
udara yang terus menerus juga merupakan predisposisi infeksi rekuren
karena polusi memperlambat aktivitas silia dan fagositosis. Zat-zat
kimia yang dapat juga menyebabkan bronkitis adalah O2, N2O,
hidrokarbon, aldehid, ozon.
3.
Defisiensi alfa-1 antitripsin adalah gangguan resesif yang terjadi pada
sekitar 5% pasien emfisema (dan sekitar 20% dari kolestasis neonatorum)
karena protein alfa-1 antitripsin ini memegang peranan penting dalam
mencegah kerusakan alveoli oleh neutrofil elastase (Rubenstein, et al.,
2007).
4.
Terdapat hubungan dengan kelas sosial yang lebih rendah dan lingkungan
industri banyak paparan debu, asap (asam kuat, amonia, klorin, hidrogen
sufilda, sulfur dioksida dan bromin), gas-gas kimiawi akibat kerja.
5. Riwayat
infeksi saluran napas. Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada penderita bronkitis hampir selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah, serta
menyebabkan kerusakan paru bertambah.
7. Virus,
bakteri (Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae) dan
organisme lain seperti Mycoplasma pneumoniae.
EPIDEMIOLOGI
Di
Amerika Serikat, menurut National Center for Health Statistics, kira-kira
ada 14 juta orang menderita bronkitis . Lebih dari 12 juta orang menderita bronkitis akut pada tahun 1994, sama dengan 5% populasi Amerika Serikat.
Di dunia bronkitis merupakan masalah dunia. Frekuensi bronkitis
lebih banyak pada populasi dengan status ekonomi rendah dan pada kawasan
industri. Bronkitis lebih banyak terdapat pada laki-laki dibanding wanita.
Data epidemiologis di Indonesia sangat minim (Samer Qarah, 2007)
PATOLOGI
Kelainan
utama pada bronkitis kronik adalah hipertrofi dan hiperplasia kelenjar
mukus bronkus, dimana dapat menyebabkan penyempitan pada saluran bronkus,
sehingga diameter bronkus ini menebal lebih dari 30-40% dari normal.
Terdapat juga peradangan difus, penambahan sel mononuklear di submukosa
trakeo bronkial, metaplasia epitel bronkus dan silia berkurang. Yang
penting juga adalah perubahan pada saluran napas kecil yaitu sekresi
sel goblet, bukan saja bertambah dalam jumlahnya akan tetapi juga lebih
kental sehingga menghasilkan substansi yang mukopurulen, sel radang
di mukosa dan submukosa, edema, fibrosis peribronkial, penyumbatan mukus
intraluminal dan penambahan otot polos.
PATOGENESIS
Dua
faktor utama yang menyebabkan bronkitis yaitu adanya zat-zat asing yang
ada di dalam saluran napas dan infeksi mikrobiologi. Bronkitis kronik
ditandai dengan hipersekresi mukus pada saluran napas besar, hipertropi
kelenjar submukosa pada trakea dan bronki. Ditandai juga dengan peningkatan
sekresi sel goblet di saluran napas kecil, bronki dan bronkiole, menyebabkan
produksi mukus berlebihan, sehingga akan memproduksi sputum yang berlebihan.
PATOFISIOLOGI
Pada bronkitis terjadi penyempitan saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat
menyebabkan obstruksi jalan napas dan menimbulkan sesak. Pada bronkitis
kronik, disebabkan karena perubahan pada saluran pernapasan kecil, yang
diameternya kurang dari 2 mm, menjadi lebih sempit, berkelok-kelok dan
kadang-kadang terjadi obliterasi. Penyempitan lumen terjadi juga oleh
metaplasia sel goblet. Saluran pernapasan besar juga menyempit karena
hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus. Pada penderita bronkitis
saat terjadi ekspirasi maksimal, saluran pernapasan bagian bawah paru
akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Hal ini akan mengakibatkan
ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang, sehingga penyebaran udara
pernapasan maupun aliran darah ke alveoli tidak merata. Timbul hipoksia
dan sesak napas. Lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah paru dan polisitemia. Terjadi hipertensi pulmonal yang
dalam jangka lama dapat menimbulkan kor pulmonal.
MANIFESTASI
KLINIK
1.
Batuk berdahak.
Batuk biasanya
merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya pasien mengalami
batuk produktif di pagi hari dan tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian
akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau mukoid, jika ada infeksi
menjadi purulen atau mukopurulen.
2.
Sesak nafas
Bila timbul
infeksi, sesak napas semakin lama semakin hebat. Terutama pada musim
dimana udara dingin dan berkabut.
3. Sering
menderita infeksi pernafasan (misalnya flu).
4.
Wheezing (mengi).
Saluran
napas menyempit dan selama bertahun-tahun terjadi sesak progresif lambat
disertai mengi yang semakin hebat pada episode infeksi akut (McPhee,
et al., 2003).
5. Pembengkakan
pergelangan kaki dan tungkai kiri dan kanan.
6. Wajah,
telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan.
Bronkitis infeksiosa
seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler,
lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri
tenggorokan. Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya
membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa
menetap selama beberapa minggu (Anonim, 2004).
DIAGNOSIS
1. Anamnesis
: riwayat penyakit yang ditandai tiga gejala klinis utama (batuk, sputum,
sesak) dan faktor-faktor penyebabnya.
2. Pemeriksaan
fisik.
a.
Bila ada keluhan sesak, akan terdengar ronki pada waktu ekspirasi maupun
inspirasi disertai bising mengi.
b. Pasien
biasanya tampak kurus dengan barrel-shape chest (diameter anteroposterior
dada meningkat).
c.
Iga lebih horizontal dan sudut subkostal bertambah.
d. Perkusi
dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah,
pekak jantung berkurang.
e.
Pada pembesaran jantung kanan, akan terlihat pulsasi di dada kiri bawah
di pinggir sternum.
f. Pada
kor pulmonal terdapat tanda-tanda payah jantung kanan dengan peninggian
tekanan vena, hepatomegali, refluks hepato jugular dan edema kaki.
3. Pemeriksaan
penunjang.
a.
Pemeriksaan radiologi.
Ada hal
yang perlu diperhatikan yaitu adanya tubular
shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus
menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.
b.
Pemeriksaan fungsi paru.
Terdapat
VEP1 dan KV yang menurun, VR yang bertambah dan KTP yang
normal. Sedang KRF sedikit naik atau normal. Diagnosis ini dapat ditegakkan
dengan spirometri, yang menunjukkan (VEP) volume ekspirasi paksa dalam
1 detik < 80% dari nilai yang diperkirakan, dan rasio VEP1
: KVP <70% (Rubenstein, et al., 2007).
c.
Pemeriksaan gas darah.
Penderita bronkitis kronik tidak dapat mempertahankan ventilasi dengan baik sehingga
PaCO2 naik dan PO2 turun, saturasi hemoglobin
menurun dan timbul sianosis, terjadi juga vasokonstriksi pembuluh darah
paru dan penambahan eritropoeisis.
d.
Pemeriksaan EKG.
Pemeriksaan
ini mencatat ada tidaknya serta perkembangan kor pulmonal (hipertrofi
atrium dan ventrikel kanan) (Rubenstein, et al., 2007).
e.
Pemeriksaan laboratorium darah : hitung sel darah putih.
PENATALAKSANAAN
- Penyuluhan.
Harus dijelaskan
tentang hal-hal mana saja yang dapat memperberat penyakit dan harus
dihindari serta bagaimana cara pengobatan yang baik.
- Pencegahan.
Mencegah
kebiasaan merokok (dihentikan), menghindari lingkungan polusi, dan dianjurkan
vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi.
- Terapi eksaserbasi
akut.- Antibiotik, karena
biasanya disertai infeksi.
- Antibiotik, karena
- Infeksi ini umumnya
disebabkan oleh H. influenzae dan S. pneumoniae, maka
digunakan ampisilin 4 x 0,25-0,5 g/hari atau eritromisin 4 x 0,5 g/hari. - Agmentin (amoksisilin
dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman infeksinya adalah H.
influenzae dan B. catarhalis yang memproduksi b-laktamase.
Pemberian
antibiotik seperti kortrimoksasol, amoksisilin, atau doksisiklin pada
pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat pertumbuhan
dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya
dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi.
Pemberian
moxifloxacin 400 mg sekali sehari aman dan dapat ditoleransi dengan
baik, sangat efektif untuk pengobatan enfeksi saluran napas oleh bakteri,
terutama bronkitis , pneumonia komunitas dan sinusitis dengan perbaikan
gejala yang cepat (Setiawati, et al., 2005).
- Terapi oksigen.
Diberikan
jika terjadi kegagalan jalan napas karena hiperkapnia dan berkurangnya
sensitivitas terhadap CO2. Pemberian oksigen jangka panjang
(> 15 jam/hari) meningkatkan angka bertahan hidup pada pasien dengan
gagal napas kronis (Rubenstein, et al., 2007).
- Fisioterapi membantu
pasien untuk mengeluarkan sputum. - Bronkodilator.
Untuk
mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya adrenergik
b dan antikoligernik, dan gejala agonis B, pasien dapat diberikan
sulbutamol 5 mg dan atau ipratropium bromida 250 mikrogram diberikan
tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25-0,5 g iv secara perlahan.
- Terapi jangka panjang.
- Antibiotik untuk
kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4 x 0,25-0,5/hari dapat
menurunkan eksaserbasi akut. - Bronkodilator.
- Antibiotik untuk
Tergantung
tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien, maka sebelum
pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal
paru.
- Fisioterapi.
- Latihan fisik untuk
meningkatkan toleransi aktivitas fisik. - Mukolitik dan ekspektoran.
- Terapi oksigen jangka
panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2
< 7,3 kPa (55mmHg). - Rehabilitasi.
Postural
drainage, perkusi dan vibrasi dada digunakan untuk mengeluarkan
mukus. Untuk memperbaiki efisiensi ventilasi, penderita dapat berlatih
napas tipe abdominal dan purse lips. Untuk merehabilitasi fisiknya,
kepercayaan terhadap dirinya dan meningkatkan toleransi latihan,
dapat dilakukan latihan fisis yang teratur secara bertingkat dan dilatih
untuk melakukan pekerjaan secara efisien dengan energi sedikit
mungkin.
PROGNOSIS
Prognosis
jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala
klinisnya. Pada eksaserbasi akut, prognosis baik dengan terapi. Pada
pasien bronkitis kronik dan emfisema lanjut dan VEP1 <
1 liter survival rate selama 5-10 tahun mencapai 40%.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2004. Bronkitis. http://ww.medicastore.com/med. 2007
Anonim.
2004. Penyakit Paru Obstruktif Menahun . http://www.medicastore.com/med. 2007
McPhee,
S.J., et al. 2003. Pathophysiology of Disease: An Introduction to Clinical
Medicine. 4th ed. United State of America : Lange Medical
Book McGraw-Hill Companies.
Miravitlless,
Marc. 2007. Determining Factors in the Prescription of Moxifloxacin
in Exacerbations of Chronic Bronchitis in the Primary-Care Setting. http://web.ebscohost.com/ehost. 2007
Qarah,
Samer. 2007. Bronchitis. http://www.emedicine.com/med. 2007
Rubenstein,
D., et al. 2007. Lecture Notes: Kedokteran Klinis, edisi keenam. Penerbit
Erlangga. Jakarta
Setiawati,
A., Darmansjah, I., and Mangunnegoro, H. 2005. Safety and tolerability
of moxifloxacin in the treatment of respiratory tract infections a post-marketing
surveillance conducted in Indonesia. Medical Journal of Indonesia.
vol.:14, no:1, hlm. 11-19.
