ENDOMETRIOSIS DAN ADENOMIOSIS

Posted on December 25, 2008 by diyoyen.
Categories: Obstetric and gynecology.

ENDOMETRIOSIS

Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelanjar stroma yang terdapat didalam miometrium ataupun diluar uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium disebut dengan adenomiosis dan bila diluar uterus disebut dengan endometriosis.

Epidemiologi

Endometriosis paling sering terjadi pada usia reproduksi. Insidensi yang pasti belum diketahui, namun prevalensinya pada kelompok tertentu cukup tinggi. Misalnya, pada wanita yang dilakukan laparaskopi diagnostik, ditemukan endometriosis sebanyak 0-53%; pada kelompok wanita dengan infertilitas yang belum diketahui penyebabnya ditemukan endometriosis sebanyak 70-80%; sedangkan pada wanita dengan infertilitas sekunder ditemukan endometriosis sebanyak 25%. Diperkirakan prevalensi endometriosis akan terus meningkat dari tahun ketahun. Meskipun endometriosis dikatakan penyakit wanita usia reproduksi, namun telah ditemukan pula endometriosis pada usia remaja dan pasca menopause. Oleh karena itu, untuk setiap nyeri haid baik pada usia remaja, maupun pada usia menopause perlu dipikirkan adanya endometriosis 1.
Endometriosis selama kurang lebih 30 tahun terakhir ini menunjukkan angka kejadian yang meningkat. Angka kejadian antara 5-15% dapat ditemukan di semua operasi pelvik. Endometriosis jarang didapatkan pada orang-orang negro, dan lebih sering didapatkan pada wanita-wanita yang berasal dari golongan sosio-ekonomi yang kuat. Yang menarik perhatian adalah bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak mempunyai banyak anak. Ternyata fungsi ovarium secara siklis yang terus menerus tanpa diselingi kehamilan, memegang peranan penting di dalam terjadinya endometriosis 2.
Angka kejadian endometriosis yang terjadi pada infertilitas menurut Ali Badziad, 1992, adalah sebesar antara 20-60 %. Pada infertilitas primer angka kejadian endometriosis yang terjadi sebesar 25%, sedangkan pada infertilitas sekunder angka kejadiannya sebesar 15%. Sedangkan angka kejadian endometriosis yang dilaporkan oleh Speroff adalah 3-10% terjadi pada wanita usia produktif, dan antara 25-35 terjadi pada wanita infertil. Sedangkan di Indonesia endometriosis ditemukan kurang lebih 30% pada wanita infertil. Menurut William dan Pratt kejadian Endometriosis pada seluruh laparatomi dari berbagai indikasi ditemukan sebesar 11,87% 7.

ADENOMIOSIS

Adenomiosis secara klinis lebih banyak persamaannya dengan mioma uteri. Adenomiosis lebih sering ditemukan pada multipara dalam masa premenopouse. Menurut kepustakaan frekuensi adenomiosis berkisar antara 10-47 %.

Patologi

Pembesaran uterus pada adenomiosis umumnya difus. Didapat penebalan dinding uterus dengan dindingposterior biasanya lebih tebal. Uterus biasanya berbentuk simetrik dengan konsistensi padat dan tidak menjadi lebih besar dari tinjuatau uterus gravidus 12 minggu.

Gambaran mikroskopik

Gambaran mikroskopik yang khas pada adenomiosis adalah terdapatnya pulau-pulau jaringan endometrium di tengah-tengah otot uterus. Pulau-pulau ini dapat menunjukan perubahan siklik. Akan tetapi umumnya reaksi terhadap hormon-hormon ovarium tidak begitu sempurna seperti endometrium.

Jaringan otot di sekitar pulau-pulau tersebut mengalami hiperplasia dan hipertrofi. Tidak terdapat kapsul seperti pada mioma uteri.

Gambaran klinik

Gejala klinis yang sering ditemui pada adenomiosis adalah menoragia, Dismenorea sekunder dan Uterus yang makin membesar. Kadang-kadang terdapat disamping menoragia, dispareunia, dan rasa berat di perut bagian bawah terutama di masa pra haid.

Diagnosis

Diagnosis adenomiosis dapat diduga bila pada wanita berumur sekitar 40 tahun dengan banyak anak, keluhan menoragia dan dismenorea makin menjadi dan ditemukaanya uterus yang membesar simetrik dan berkonsistensi padat.

Akan tetapi diagnosis pasti baru bisa dibuat setelah pemeriksaan uterus pada waktu operasi atau sesudah diangkat pada operasi tersebut.

Pengobatan

Pada wanita berumur lanjut, dengan keluhan menoragia dan dismenorea yang menjadi bertambah berat, histerektomi merupakan pengobatan yang tepat. Terapi hormon tidak banyak gunanya.

ENDOMETRIOSIS

Pada endometriosis jaringan endometrium ditemukan di luar kavum uteridan di luar miometrium. Menurut urutan yang tersering endametrium ditemukan ditempat-tempat sebagai berikut: 1). Ovarium, 2) Peritoneum dan ligamentum sakro uterine,kavum douglasi,dinding belakang uterus, tuba fallopii,plika vesiko uterina, ligamentumrotundum,dan sigmoid, 3.) Septum rektovaginal, 4 ) Kanalis inguinalis, 5) Apendiks, 6) Umbilicus, 7) Serviks uteri ,vagina , kandung kencing vulva, perineum 8) Parut laparatomi, 9) Kelenjar limfe, 10) Lengan ,paha,pleura dan pericardium.

Histogenesis

Sampai saat ini belum ada satupun yang dapat memastikan semua pihak tentang asal muasal terjadinya endometriosis. Namun demikian beberapa ahli mencoba menerangkan kejadian endometriosis dengan macam-macam teori, yakni teori implantasi dan regurgitasi; metaplasia; hormonal; serta imunologik.
Teori implantasi dan regurgitasi menjelaskan adanya darah haid yang dapat menjalar dari kavum uteri melalui tuba Falopii, tetapi teori ini tidak dapat menerangkan kasus endometriosis di luar pelvis. Adapun teori metaplasia menjelaskan terjadinya metaplasia pada sel-sel coelom yang berubah menjadi endometrium. Menurut teori ini, perubahan itu terjadi akibat iritasi dan infeksi atau hormonal pada epitel coelom. Secara endokrinologis hal ini benar juga sih, karena epitel germinativum dari ovarium, endometrium, dan peritoneum berasal dari epitel coelom yang sama.
Yang paling memungkinkan, yakni teori hormonal bermula dari kenyataan bahwa kehamilan dapat menyembuhkan endometriosis. Rendahnya kadar FSH, LH, dan E2 dapat menghilangkan endometriosis. Pemberian steroid seks dapat menekan sekresi FSH, LH, dan E2. Pendapat yang sudah lama dianut ini mengemukakan bahwa pertumbuhan endometriosis sangat tergantung dari kadar estrogen dalam tubuh. Namun sayang, akhirnya pendapat ini mulai diragukan. Tahun 1989 Baziad dan Jacoeb dari FKUI pun menemukan kadar E2 yang cukup tinggi pada kasus-kasus endometriosis. Jacoeb pada tahun 1990 pun menemukan kadar E2 serum pada setiap kelompok derajat endometriosis dalam batas normal dan hampir semuanya tinggi. Keadaan ini juga tidak bergantung pada beratnya derajat endometriosis. Wah, makin bingung saja kan, apa penyebabnya.
Kalau memang dianggap perkembangan endometriosis bergantung pada kadar estrogen dalam tubuh, seharusnya terdapat hubungan bermakna antara beratnya derajat endometriosis dengan kadar E2 di lain pihak, apabila kadar E2 tinggi dalam tubuh maka senyawa ini akan diubah kembali menjadi androgen melalui proses aromatisasi. Akibatnya, kadar testosteron (T) pun akan meninggi. Tetapi kenyataannya pada penelitian ini, kadar T tidak berubah secara bermakna menurut beratnya penyakit. Bahkan dalam zalir peritoneal terlihat kadarnya cenderung menurun seirama dengan E2. Nah loh, berdasarkan kenyataan tadi, maka dapat dikatakan bahwa memberatnya endometriosis bukanlah murni estrogen dependent. Hanya Allah yang tahu patogenesis yang sebenarnya.
Sedangkan teori terakhir, endometriosis dikaitkan dengan aktivitas imun. Teori imunologis menerangkan bahwa secara embriologis, sel epitel yang membungkus peritoneum parietal dan permukaan ovarium memiliki asal yang sama, oleh karena itu sel-sel endometriosis akan sejenis dengan mesotel. Telah diketahui bahwa CA-125 merupakan suatu antigen permukaan sel yang semula diduga khas untuk ovarium. Karena endometriosis merupakan proses proliferasi sel yang bersifat destruktif, maka lesi jinak yang ganas ini tentu akan meningkatkan kadar CA-125 dong. Jadilah antigen ini sebagai penanda kimiawi.

Menurut teori Sampson, endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Dalam darah haid terdapat sel-sel endometrium yang masih hidup dan mengadakan implantasi.

Angka kejadian

Angka kejadian berkisar antara 5-15 %. Sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan tidak mempunyai banyak anak lebih jarang dijumpai pada wanita Negro.

Patologi

Pada ovarium yang mengalami endometriosis tampak kista-kista biru kecil sampai kista besar. Berisi darah tua menyerupai coklat. tuba pada endometriosis biasanya normal.

Gambaran mikroskopik

Ciri-ciri khas bagi endometriosis yakni : kelenjar-kelenjar dan stroma endometrium, perdarahan bekas dan baru berupa eritrosit, pigmen hemosiderin dan sel-sel makrofage berisi hemosiderin. Disekitarnya tampak sel-sel radang dan jaringan ikat.

Secaramikroskopik merupakan kelainan yang jinak kadang-kadang sifatnya seperti tumor ganas dapat terjadi penyebaran endometriosis ke lengan, paru-paru, ke bawah kearahkavum douglasi, rekto sigmoid dan lain-lain.

Gejala klinik

Gejala yang sering ditemukan adalah : 1. Dismenorhea, 2. Dispareunia, 3. Nyeri waktu defekasi khususnya pada waktu haid, 4. Poli dan hipermenorea, 5. Infertilitas.

30 - 40 % wanita dengan endometriosis mengalami infertilitas. Faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada endometriosis adalah : apabila mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlengketan jaringan sekitarnya.

Diagnosis

Diagosis biasanya dibuat atas dasar anemesis dan pemeriksaan fisik dipastikan dengan pemeriksaan laparaskopi. Kuldoskopi kurang bermanfaat terutama jika kavum Douglas ikut serta dalam endometriosis. Sigmoidoskopi dan sistoskopi dapat memperlihatkan tempat perdarahan pada waktu haid, Laparaskopi berguna untuk membedakan endometrioisis dengan kelaianan lain dipelvis.

Diagnosis Diferensial

Adenomiosis uteri, radang pelvik dengan tumor adneksa dapat menimbulkan kesukaran dalam diagnosis.

Penanganan

Terdiri dari pencegahan, pengawasan saja, terapi hormonal, pembedahan, radiasi.

Pencegahan

Kehamilan adalah pencegahan yang paling baik untuk endometriosis. Gejala endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dansesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang endometrioisis selain itu jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan pada waktu haid yang akanenyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan ke rongga panggul.

Observasi dan pemberian analgetik

Pengobatan ekspektatif ini sksn berguna bagi wanita-wanita dengan gejala dan kelainan fisik yang ringan. pada wanita yang sudah agak berumur, pengawasan bisa dilanjutkan sampai menopouse, karena sesudah itu gejala endometriosis hilang sendiri.

Pengobatan hormonal

Sebagai dasar dan prinsip terapi

Sebagai dasar pengobatan hormonal endometriosis ialah bahwa pertumbuhan dan fungsi jaringan endometriosis, seperti jaringan endometrium yang normal, di kontrol oleh hormon-hormon steroid. Hal ini didukung oleh data klinik maupun laboratorium.

Data klinik tersebut adalah :

a.Endometriosis sangat jarang timbul sebelum menars,

b.Menopouse, baik alami maupun pembedahan biasanya menyebabkan kesembuhan.

c.Sangat jarang terjadi kasus endometriosis baru setelah menopouse, kecuali jika ada pemberian estrogen eksogen.

Data laboratorium menunjukan bahwa jaringan endometriosis pada umunya mengandung reseptor estrogen, progesterone, dan androgen.

Estrogen merangsang pertumbuhan jaringan endometriosis, androgen menyebabkan atrofi sedang pengaruh progestoren kontroversial. Progestoren sendiri mungkin merangsang pertumbuhan endometriosis. Progesteron sintetik yang umumnya mempunyai efek androgenik nampaknya menghambat pertumbuhan endometriosis. Atas dasar tersebut diatas, prinsip pengobatan hormonal terdiri dari dua :

1.Menciptakan lingkungan hormon rendah estrogen dan asiklik.

2.Menciptakan lingkungan hormon tinggi androgen atau tinggi progestogen (progesteron sintetik). Yang secara langsung menyebabkan atrofi jaringan endometriosis.

Pengobatan dengan pembedahan

Sebaiknya dalam melakukan pengobatan endometriosis kita bersifat konservatif berdasarkan atas fakta-fakta sebagai berikut :

  1. Endometriosis umumnya berjalan lambat dan memerlukan waktu bertahun-tahun.
  2. Endometriosis bukanlah penyakit ganas dan jarang sekali menjadi ganas.
  3. Endometriosis mengalami regresi pada waktu monopouse.

Pada terapi pembedahan yang konservatif, sarang endometriosis diangkat dengan meninggalkan uterus dan jaringan ovarium yang sehat dan perlekatan sedapat-dapatnya dilepaskan.

Pembedahan konservatifini dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan yakni laparatomi atau laparoskopi operatif.

Pembedahan radikal dilakukan pada wanita dengan endometriosis yang umurnya hampir 40 tahun atau lebih, dan menderita penyakit yang luas disertai dengan banyak keluhan. Operasi yang paling radikal adalah Histerektomi total, Salpingo ooforektomi bilateral dan pengangkatan semua sarang endometriosis yang ditemukan.

Pengobatan dengan radiasi

Pengobatan ini yang bertujuan menghentikan fungsi ovarium tidak dilakukan lagi, kecuali jika ada kontra indikasi terhadap pembedahan.

Zalir Peritoneal
Pada keadaan tanpa perlekatan atau kelainan anatomi dan endometriosis yang ada cuma susukan sangat kecil di kavum Douglas, laju kehamilan spontan pun sangat baik. Tandanya, infertitilas akibat endometriosis murni disebabkan faktor mekanis yang membuat ovum atau sperma mengalami hambatan pasase. Dalam kasus ini, tidak perlu repot-repot dibedah atau dikasih obat ini itu, kita lihat saja perkembangannya.
Pada endometriosis ringan yang tidak melibatkan ovarium dan terbatas pada peritoneum pelvis, lebih diutamakan pengobatan hormonal selama 6 bulan. Kalau fibrosis dan perlekatan mengakibatkan fiksasi ovarium ke ligamentum latum posterior, ya sudah, kerusakan arsitektur tiba tidak dapat dikembalikan hanya dengan pengobatan hormonal. Jika penderita tidak tahan terhadap pengobatan hormonal atau gejalanya kambuh, tentu diperlukan pembedahan konservatif. Jika penderita belum hamil dalam waktu yang diperkirakan, pembedahan knservatif mudah-mudahan memberikan harapan yang lebih besar untuk kehamilan lah. Bagaimana jika endometriosis tidak dapat dibuang? Ya sudah, terapi medikamentosa mesti dikerjakan penuh selama satu tahun pascabedah.

Dengan teknik pendekatan yang lebih oke dan rasional, dengan memperhatikan interaksi faktor lokal (zalir peritoneal) dan faktor sistemik secara imunoendokrinologik dan selular, telah ditemukan bentuk baru endometriosis yang tak terdeteksi dengan laparoskopi. Bentuk ini dikenal dengan istilah endometriosis biokimiawi. Karenanya, harusnya sampai sekarang perlu dipikirkan pengobatan terhadap zalir peritoneal karena susukan peritoneal dari endometriosis berhubungan langsung secara bebas dengan rongga peritoneal dan mensekresikan produknya secara langsung pula ke dalam zalir peritoneal. Hmm, tantangan tersendiri bagi dunia kedokteran agar nyeri haid dan infertilitas di kalangan wanita dapat kita kurangi.

SOAL OSCE SENIOR THE X

Posted on by diyoyen.
Categories: Obstetric and gynecology.

dr. R

-. P.I (pencegahan infeksi KB)

-. Penanganan benda tajam

dr.G

-. Perubahan sekunder mioma

-. Penatalaksanaan mola

-. Konservatif dan operatif mioma

-. Gejala dan tanda Kr prognosis jelek

-. Adenomiosos dan endometriosis

dr.E

-. Penatalaksanaan atonia

-. Def induksi dan stimulasi

-. Syarat induksi

-. Penanganan dan komplikasi induksi

dr.F

G3P2-2 kiriman bidan, keluhan keluar cairan jernih 3 jam yll, anak sblmnya 5 tahun, riwayat persalinan terdahulu N, TFU 32 cm, HPHT…… 37-38 mg, djj N, VT buka 1, eff 25%, ket (-) jernih, UPD N, presbo H1

a. Planning dx dan tindakan obs

b. Setelah 12 jam buka 5, kekuatan his B (+), dit DX dan penatalaksanaan

c. Kemacetan persalinan, DX dan Penatalaksanaan

dr.B

Wanita 26 tahun, flek2 4 hari, terlambat haid 8 hari, G2P1-1, TD 90/60, ke dukun, dipijat, cavum douglas menonjol, massa adneksa tidak jelas, fluxus (+), slinger pain (+) -> pemeriksaan lanjutan? dan hasil yang didapat?