DIX-HALLPIKE MANUVER

Posted on March 15, 2009 by diyoyen.
Categories: Syaraf.

Dix-Hallpike Manuver
Nistagmus vestibular yang bangkit pada posisi kepala tertentu dikenal sebagai nistagmus posisional. Nistagmus selalu menunjuk kepada lesi di utrikulus. Cara membangkitkan nistagmus tersebut ialah sebagai berikut. Pertama pasien diperiksa dalam posisi telentang. Kepala dimiringkan ke kanan selama 30 sampai 60 detik dan si pemeriksa mengamat-¬amati timbulnya nistagmus ritmik, Kemudian nistagmus posisional diamati-amati pada posisi kepala miring ke kiri, dalam posis kepala ke depan dan ke belakang. Pada posisi kepala ke belakang, kepala harus di te¬ngadahkan jauh ke belakang sehingga kepala berada di bawah bidang lan¬dasan badan.

STATUS SARAF

Posted on by diyoyen.
Categories: Syaraf.

SMF PENYAKIT SARAF
RSUD dr. SOEBANDI JEMBER

NAMA DM :
TANGGAL PEMERIKSAAN :
TANGGAL MRS/ JAM :
DOKTER PENGUJI :

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Status Marital :
Suku :
Agama :
Pekerjaan :
Alamat :

II. AUTO/ HETEROANAMNESA
A. KELUHAN UTAMA

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

D. RIWAYAT PENGOBATAN

E. KERACUNAN

F. PENYAKIT KELUARGA

G. KEADAAN PSIKOSOSIAL

III. STATUS INTERNA SINGKAT
A. KEADAAN UMUM
 Kesadaran :
 Tensi :
 Nadi :
 Suhu :
 RR :
 TB :
 BB :
B. KEPALA
 Bentuk :
 Mata
 Sklera : icteric ( )
 Konjungtiva : anemis ( )
 Telinga/ Hidung : sekret ( ), perdarahan ( ), PCH ( )
 Mulut : perdarahan ( )
 Lain-lain :

C. LEHER
 Struma :
 Bendungan vena :
 Lain-lain :

D. THORAK
 Jantung
- Inspeksi :
- Palpasi :
- Auskultasi :
 Paru-paru
- Inspeksi :
- Palpasi :
- Perkusi :
- Auskultasi :
 Lain-lain :

E. ABDOMEN
 Hepar :
 Limpa :
 Lain-lain :
F. EKSTREMITAS
 Superior :
 Inferior :

IV. STATUS PSIKIATRI SINGKAT
 Emosi dan Afek :
 Proses berfikir
• Bentuk :
• Arus :
• Isi :
 Kecerdasan :
 Pencerapan :
 Kemauan :
 Psikomotor :
 Ingatan :

V. STATUS NEUROLOGIK
A. KEADAAN UMUM
 Kesadaran
- Kwalitatif :
- Kuantitatif : GCS :
 Pembicaraan
- Disartria :
- Monoton :
- Scanning :
- Afasia : Motorik :
Sensorik :
Amnestik/ anomik :
 Kepala
- Asimetri :
- Sikap Paksa :
- Tortikolis :
- Lain-lain :

 Muka
- Mask :
- Myopatik :
- Full Moon :
- Lain-lain :

B. PEMERIKSAAN KHUSUS
1. A. RANGSANGAN SELAPUT OTAK
- Kaku kuduk :
- Kernig :
- Brudzinski I :
- Brudzinski II :
B. LASEQUE TEST :

2. SARAF OTAK
 N. I Kanan Kiri
 Hypo/ Anosmia :
 Parosmia :
 Halusinasi :
 N. II Kanan Kiri
 Visus :
 Yojana Penglihatan :
 Melihat warna :
 Funduskopi :
 N. III, N. IV, N. VI Kanan Kiri
 Kedudukan bola mata :
 Pergerakan bola mata :
- Ke nasal :
- Ke temporal atas :
- Ke bawah :
- Ke atas :
- Ke temporal bawah :
 Eksophtalmus :
 Celah mata (Ptosis) :
 Pupil Kanan Kiri
- Bentuk :
- Lebar :
- Perbedaan lebar :
- Refleks cahaya langsung :
- Refleks cahaya konsensual :
 N. V Kanan Kiri
 Cabang Motorik
- Otot masseter :
- Otot temporal :
- Otot Pterygoideus int/ ext :
 Cabang Sensorik
- I :
- II :
- III :
 Refleks kornea langsung :
 Refleks kornea konsensual :
 N. VII
 Waktu diam
- Kerutan dahi :
- Tinggi Alis :
- Sudut mata :
- Lipatan nasolabial :
 Waktu gerak
- Mengerutkan dahi :
- Menutup mata :
- Mencucu – bersiul :
- Memperlihatkan gigi :
- Pengecapan ⅔ depan lidah :
- Hyperakusis :
- Sekresi air mata :
- Refleks kornea langsung :
- Refleks kornea konsensual :

 N. VIII
 Vestibular Kanan Kiri
- Vertigo :
- Nistagmus ke :
- Tinitus aureum :
- Tes Kalori :
 Kochlear Kanan Kiri
- Weber :
- Rhinne :
- Schwabach :
- Tuli konduktif :
- Tuli perseptif :
 N. IX, N. X
 Bagian Motorik
- Suara biasa/ parau/ tak bersuara :
- Kedudukan arcus pharynx :
- Kedudukan uvula :
- Pergerakan arcus pharynx/ uvula :
- Detak jantung :
- Menelan :
- Bising usus :
 Bagian Sensorik
- pengecapan ⅓ belakang lidah :
- Refleks oculo-cardiac :
- Refleks carotico-cardiac :
- Refleks muntah :
- Refleks pallatum molle :
 N. XI Kanan Kiri
 Mengangkat bahu :
 Memalingkan kepala :
 N. XII
 Kedudukan lidah
- Waktu istirahat :
- Waktu gerak :
 Atrofi : Kanan: Kiri:
 Fasikulasi/ tremor : Kanan: Kiri:
 Kekuatan lidah pada bagian dalam pipi:

3. EXTREMITAS
A. SUPERIOR
 Inspeksi :
 Palpasi :
 Perkusi :
 Motorik
 Kekuatan otot
• Lengan Ka Ki
- M. Deltoid (abduksi lengan atas) :
- M. Biceps (flexi lengan bawah) :
- M. Triceps (ekstensi lengan bawah) :
- Flexi sendi pergelangan tangan :
- Extensi sendi pergelangan tangan :
- Membuka jari-jari tangan :
- Menutup jari-jari tangan :
 Tonus otot :
 Refleks fisiologis : BPR :
TPR :
 Refleks patologis : Hoffman :
Tromner :
 Sensibilitas Ka Ki
 Eksteroseptik
- Rasa nyeri superfisial :
- Rasa suhu (panas/ dingin) :
- Rasa raba ringan :
 Propioseptik
- Rasa getar :
- Rasa tekan :
- Rasa nyeri tekan :
- Rasa gerak dan posisi :
 Enteroseptik
- Referred pain :

 Rasa kombinasi
- Stereognosis :
- Barognosis :
- Graphestesia :
- Sensory extinction :
- Loss of body image :
- Two point tactile discrimination :

B. INFERIOR
 Inspeksi :
 Palpasi :
 Perkusi :
 Motorik
 Kekuatan otot
• Tungkai Ka Ki
- Flexi artic coxae (tungkai atas) :
- Extensi artic coxae (tungkai atas) :
- Flexi sendi lutut (tungkai bawah) :
- Extensi sendi lutut (tungkai bawah) :
- Flexi plantar kaki :
- Extensi dorsal kaki :
- Gerakan jari-jari :
 Tonus otot :
 Refleks fisiologis : KPR :
APR :
 Refleks patologis : Babinsky :
Chaddock :
Oppenheim :
Gordon :
Gonda :
Schaeffer :

Sensibilitas Ka Ki
 Eksteroseptik
- Rasa nyeri superfisial :
- Rasa suhu (panas/ dingin) :
- Rasa raba ringan :
 Propioseptik
- Rasa getar :
- Rasa tekan :
- Rasa nyeri tekan :
- Rasa gerak dan posisi :
 Enteroseptik
- Referred pain :
 Rasa kombinasi
- Stereognosis :
- Barognosis :
- Graphestesia :
- Sensory extinction :
- Loss of body image :
- Two point tactile discrimination:

4. BADAN
 Inspeksi :
 Palpasi
 Otot perut :
 Otot pinggang :
 Kedudukan diafragma : Gerak :
Istirahat :
 Perkusi :
 Auskultasi :
 Motorik
 Gerakan cervical vertebrae
- Fleksi :
- Ekstensi :
- Rotasi :
- Lateral deviation :
 Gerakan dari tubuh
- Membungkuk :
- Ekstensi :
- Lateral deviation :
 Refleks-refleks
- Refleks dinding abdomen :
- Refleks interskapula :
- Refleks gluteal :
- Refleks cremaster :
- Refleks anal :

5. GAIT DAN KESEIMBANGAN
 Jari tangan – jari tangan :
 Jari tangan – hidung :
 Ibu jari kaki – jari tangan :
 Tapping dengan jari-jari tangan :
 Tapping dengan jari-jari kaki :
 Jalan di atas tumit :
 Jalan di atas jari kaki :
 Tandem walking :
 Jalan lurus lalu putar :
 Jalan mundur :
 Hopping :
 Berdiri dengan satu kaki :
 Romber test, jatuh ke :

6. FUNGSI LUHUR
 Apraksia :
 Alexia :
 Agraphia :
 Acalculia :
 Finger agnosia :
 Membedakan kanan dan kiri :
7. REFLEKS PRIMITIF
 Grasp refleks :
 Snout refleks :
 Sucking refleks :
 Palmo-mental refleks :

8. SISTEM VEGETATIF
 Miksi :
 Defekasi :
 Sekresi keringat :

VI. KESIMPULAN

VII. DIFFERENTIAL DIAGNOSA

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

IX. DIAGNOSA
 DIAGNOSA KLINIK :
 DIAGNOSA TOPIKAL :
 DIAGNOSA ETIOLOGI :

X. TERAPI
 TERAPI UMUM

 TERAPI KHUSUS

XI. PROGNOSA

THE BIG TEN

Posted on by diyoyen.
Categories: Syaraf.

THE BIG TEN :
1. EPILEPSI
2. TETANUS
3. CEREBRAL PALSY
4. STROKE
5. BELL’S PALSY
6. MENINGITIS
7. HNP
8. CEPHALGIA
9. GBS
10. MIASTENIA GRAVIS

TETANUS
DEFINISI : Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri clostridium tetani yang bersifat anaerobic, yang menghasilkan toksin yang menggangu system saraf.
PATOFISIOLOGI :
Clostridium tetani menghasilkan eksotoksin
Diserap oleh system saraf sistemik dan serabut saraf perifer
Melalui bagian tepi susunan saraf eksotoksin menuju motoneuron (terut.interneuron Renshaw)
Menghilangkan inhibisi sel α motoneuron
Sehingga α motoneuron selalu dalam keadaan hipereksitasi
Kejang tonik pada otot-otot skeletal dan wajah
KRITERIA DIAGNOSA:
1. Ada gambaran klinik atau riwayat luka
2. Organisme dari luka ditemukan / tdk
3. Rekam EMG : hilangnya periode diam yang terjadi 50-100 ms setelah kontraksi reflex.
4. Serum CK : agak meningkat
GEJALA & TANDA KLINIK
1. Hipertoni dan Spasme otot
a. Trismus, Risus sardonicus, otot leher kaku & nyeri, opistotonus, dinding perut tegang (defence musculer), anggota gerak spastic.
b. Spasme otot faring, laring dan otot-otot pernafasan  Asfiksia, sianosis, apneu
2. Kejang klonik dengan kesadaran tidak terganggu
3. Umumnya ada luka / riwayat luka
4. Hiperpireksia (demam ringan)
5. Tetanus Lokal
 Kekakuan, kencang, nyeri pada otot sekitar luka, diikuti kejang dan spasme dr otot yg terkena
 Berlangsung beberapa minggu – beberapa bulan
6. Sefalik tetanus
 Terjadi karena luka disekitar kepala dan muka. Inkubasi 1-2 hari, otot sekitar mata, muka lemah.
 Spasme lidah & tenggorok  disartri, disfoni, disfagi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Lab darah : tdk spesifik, mgk leukositosis ringan, serum CK agak me↑
2. Px bakteriologik : ditemukan C.tetani
3. Rekam EMG : hilangnya periode diam pada 50-100 ms setelah kontraksi reflex.
DIAGNOSA BANDING
1. Kejang karena hipokalsemi
2. Rabies
3. Meningitis
4. Epilepsi / kejang tonik klonik umum
TATA LAKSANA
1. Cairan IV = Dekstrose 5% : RL = 1 : 1 / 6 jam  4 : 4 / 24 jam
2. Terapi kausal :
a. Anti Toksin Tetanus
a.1 ATS 20.000 IU/hari/im selama 3-5 hari (skin test)
a.2 HTIG 500 – 3.000 IU/im tergantung beratnya penyakit (SINGLE DOSE)
b. Antibiotik
b.1 Metronidazol infuse 500 mg/8 jam drips IV
c. Penanganan Luka
Dilakukan cross incision dan irigasi dengan H2O2
3. Simtomatis & Supportif
a. Diazepam
- Setelah MRS diazepam 10 mg iv, jika kejang beri diazepam 1 amp iv 3-5 mnt, dapat diulang max 3x
- Dosis maintenance : 10 amp = 100 mg / 500 ml cairan infuse diberikan secara drips.
- Bila px bebas kejang selama ±48 jam, maka diazepam di ↓scr btahap 10% tiap 1-3 hari
b. O2, bila tdp tanda-tanda hipoksia, sianosis, distress nafas
c. Nutrisi
d. Menghindari faktor2 pencetus terjadinya kejang
e. Pertahankan airway dan bebaskan jalan nafas : suction aktif
f. Posisi Px diubah-ubah secara periodic
g. Pemasangan kateter
PENYULIT
1. Asfiksia akibat depresi nafas, spasme jalan nafas
2. Aspirasi Pneumonia
PROGNOSIS
1. Angka kematian ↑ jika :
- Usia tua
- Masa inkubasi singkat
- Onset periode singkat
- Demam ↑↑
- Spasme yang tidak cepat teratasi

CEREBRAL PALSY
DEFINISI : Cerebral Palsy adalah gangguan sel-sel motorik SSP yang bersifat kronik, tidak progresif, terjadi pada suatu saat dalam perkembangan anak.
= SDMD = Significant Development Motor Dissability

ETIOLOGI :
1. Pranatal
Gangguan terjadi mulai saat terjadinya konsepsi sampai masa gestasi 28 mgg (7 bulan)
a) Faktor Bayi : - Kelainan bawaan - Zat toksik
- Kelainan kromosom - Kelainan metabolik
- Anomali congenital - Kehamilan ganda
- Asfiksia - Radiasi
b) Faktor Ibu : - Ibu dgn DM - Ibu 35 thn
- Ibu dgn Rwyt abortus - Inkompabilitas Ibu-Anak
- Perdarahan
2. Perinatal
Mulai gestasi 28 mgg – 7 hari sesudah kelahiran
- Anoksia
- Perdarahan otak
- Kern Ikterus
- Infeksi SSP
3. Post Natal
Saat kelahiran – Usia 1 thn / 3 thn / 5 thn
- Trauma - Inflamasi Imunologik
- Infeksi - gangguan metabolism
- Gangguan vaskuler - Malnutrisi
- Anoksia
KLASIFIKASI CP
Klasifikasi berdasarkan gambaran klinis :
1. Tipe Piramidal / Spastis 3. Tipe Campuran
2. Tipe Ekstrapiramidal
GAMBARAN KLINIS
1. Tipe Piramidal / spastis
• Terdapat bbrp Gx yang hampir selalu ada :
o Hipertoni (claps-knife type)
o Hiperrefleksi yang disertai klonus
o Kadang timbul kontraktur
o Reflek patologis (babinski sign)
• * Hemiplegi, double hemiplegic
* Kuadriplegi : anggota gerak bawah sedikit lebih berat drpd atas
* neck control jelek
* G3 bicara & G3 koordinasi mata
• * Anggota gerak bawah jelas lebih berat drpd atas = DIPLEGIA
* Tidak ada gangguan bicara
* Strabismus, kejang (grandmal)
• Monoplegi, paraplegi

2. Tipe Ekstrapiramidal
- Umumnya mengenai ke-4 anggota gerak
- G3 Gx motorik + G3 perkembangan intelektual
• Gejala yang sering :
a) Hipertoni (Lead Pipe Type)
Jika Px tidur, kaku jadi lemas (Floopy) DD : Piramidal !!!
b) Hiperrefleksi ringan, jarang klonus
c) Refleks plantar fleksor
d) Terdapat gerakan2 seperti khorea, atetosis, ataksia, tremor, distonia
e) Reflek primitive MENETAP : kemampuan menghisap, makan, control lidah buruk.

3. Tipe Campuran
- Retardasi Mantal (+)
- Gangguan pendengaran, penglihatan, kesulitan belajar, gangguan bicara.
PATOFISIOLOGI
• Hipoksic Ischemic Encephalopathy
1. Neuronal necrosis
2. Status marmuratus
3. Watershead infarct
4. Periventrikuler telencephalic-Leukoencephalopathy
5. Focal Ischemic Lesions
PEMERIKSAAN
1. Anamnesa : Prenatal, natal. Post natal
2. Inspeksi : - Terlentang - Tengkurap - Rangsangan
3. Traksi Lengan
 Sewaktu bayi didudukan, pemeriksa menarik kedua tangan :
Normal : bayi menegakkan kepala saat didudukan ATAU
Normal : leher ga ikut ngangkat (masih lemas). Khas pada bayi 8 mgg ATAU
Normal : masih lemes > diatas balita
- Didahului aura
- Mendadak Px jatuh pingsan, otot2 mjd kaku, tonik ¼ - ½ mnt diikuti kejang kelotot.
- Setelah kejang berhenti, Px tidur beberapa saat.
F. Epilepsi Atonik
- Seluruh badan mendadak melemas  Px terjatuh

III. Epilepsi yang Tidak Tergolongkan

PENYEBAB EPILEPSI
1. Trauma lahir
2. Kongenital
3. Gangguan metabolism
4. Infeksi
5. Degenerasi Otak
6. Tumor
7. Gangguan Vaskuler
8. Kejang Demam
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Px EEG
2. Px Neuroradiologik
a. Tanpa Kontras : Fotothorax, Foto Skull, CT-Scan
b. Dengan kontras : Arteriografi, CT-Scan, Ventrikulografi.
TERAPI

No. Bangkitan Pilihan Pertama Pilihan Kedua
a. Epilepsi PArsial KBA, PB, PHT, PRM LB, KNZ, VAL
b. Epilepsi Umum
- Absence
- Mioklonik
- Tonik Klonik
ESM, VAL
KNZ, VAL
KBA, PB, PHT, PRM, VAL
KNZ
ESM, KLB, NTZ
KLB, KNZ
c. Epilepsi Tdk Tergol. KBA,PB, PHT, PRM
Karbamazepine : 20 mg/kgbb/hr Nitrazepam Klobazam
Valium : 30-80 mg/kgbb/hr
Primidone : 10-25 mg/kgbb/hr
Ethosuksemide : 20-40 ug/ml
Klonazepam : I. 0,05 – 0,03 mg/kgbb/hr
II. 0,1 – 0,2 mg/kgbb/hr
TATA LAKSANA EPILEPSI
Tujuan : Membebaskan px dari serangan epilepsy tanpa menggangu fungsi normal SSP, agar Px dapat menjalani kehidupannya tanpa gangguan.
(1) Terapi Kausal
a. Infeksi SSP : Antibiotik
b. Neoplasma / Perdarahan : evakuasi
c. Gangguan peredaran darah otak : 02
(2) Terapi Medikamentosa Anti Kejang
a. Use dose serendah mungkin dgn efek Tx sebaik mungkin, dgn efek smpg serendah mungkin
b. Bila 1 obat (-) ampuh  2 obat / 3 obat
c. Cek [Obat] dlm plasma : I : 3 bln pada tahun I
II: 6 bln pada tahun II
d. Terapi : jangan distop sebelum Px bebas serangan
- Minimal : 2-3 tahun
- Stop tx harus Tapp Off.
OBAT ANTI EPILEPSI (OAE) ada 5 Golongan !!!! :
1. Golongan Hidantoin
Fenitoin
• Cara Kerja : penghambatan penjalaran rangsangan dari focus ke bagian lain otak
• Indikasi : - Grand Mal (tidur)
- Epilepsi Fokal
• Dosis : Dewasa : 5-8 mg/kgBB/hr
Anak : 4-8 mg /kgBB/hr
• E/S : tremor, ataksia, anoreksia, vomit, ruam morbiliform
2. Golongan Barbiturat
Fenobarbital
• Merupakan golongan barbiturate yang long acting
• Cara Kerja : Membatasi penjalaran aktivitas serangan dengan menaikkan ambang rangsang

• Indikasi : - Grand Mal (sadar)
- Epilepsi fokal
• Dosis : 2-4 mg/kgbb/hr
• E/S : Hiperaktif
3. Golongan Benzodiazepam
Diazepam
• Dosis : Dewasa : 5-20 mg (iv) MAX 500 mg/hr
Anak : 0,5 mg / kgbb/hr (iv/rectal)
• E/S : - Obstruksi saluran nafas akibat relaksasi otot lidah
- Depresi nafas
4. Golongan Suksinimid
Etosuksimid
• Indikasi : Epilepsi Petit mal murni
• Dose : 20-30 mg / kgbb/hr
• E/S : nyeri kepala, agranulositosis, pansitopeni
5. Anti epilepsy Lain
Sodium Valproat
• Indikasi : - Epilepsi Petit mal murni
- Epilepsi 10 lobus temporalis
• Dose : Dewasa : 0,8 – 1,4 gr/hr
Anak : 20-30 mg/kgBB/hr
• E/S : mual, ataksik, teratogenik (hwn coba)
Azetazolamide
• Cara Kerja : Menstabilkan keluar masuknya Na pada sel otak
• Indikasi : Grand/petit mal dmn serangan berhub.dgn menstruasi
• Dose ???
• E/S : Obat cepat refrakter krn cepat toleransi

Karbamazepine
• Indikasi : Epilepsi Grand Mal, Ep. Lobus temporalis
• Dosis : 800-1200 mg /hr
• Anak : 6 thn 200 mg/hr
E/S : G3 jantung, fungsi hati, ginjal
PENYEBAB GAGAL TERAPI :
1. Pilihan obat tdk tepat
2. Dosis (-) tepat
3. Terlalu cepat ganti obat
4. Motivasi
5. Ketaatan
6. Penghentian obat
7. Kehidupan yang tidak teratur & serasi

GBS
= AIDP = Acute Inflamatory Demyelinating Poliradiculoneuropathy
DEFINISI : Suatu sindrom klinik, dengan etiologi yang tidak diketahui secara pasti, ditandai dengan onset yang akut, menyeluruh, melibatkan radiks dan saraf tepid an kadang2 saraf otak.
CAUSA : Infeksi virus / proses imunologik
KRITERIA DIAGNOSA :
a. Keluhan Utama : - Kedua anggota gerak bawah lumpuh, secara mendadak.
- Kebanyakan didahului panas beberapa hari sebelumnya.
- Kelemahan menjalar ascenderen
b. Kriteria Dx :
Tanda yang dibutuhkan untuk menegakkan Diagnosa :
1. Kelemahan progresif pada kedua lengan dan tungkai
2. Arefkleksia

Tanda yang menyokong diagnose :
1. Progresifitas gejala dalam bbrp hr-mgg
2. Gejala relative simetris
3. G3 sensorik ringan
4. G3 saraf cranial, t.u saraf fasialis bilateral
5. Perbaikan dlm 2-4mgg setelah masa progresif
6. Disfungsi autonomic
7. Saat awitan tanpa panas
8. Peningkatan protein dlm CSS, tanpa kenaikan sel
9. G3 elektrofisiologis
GEJALA & TANDA KLINIS
a. Px Panas (demam bbrp hari = Gx prodormal, mgk infeksi virus 2-4 mgg sblmnya)
b. Kemudian terjadi kelemahan pd anggota gerak bawah , menjalar ke atas (ascenderen) terjadi tetraparesis, dapat melibatkan otot2 pernafasan.
c. G3 sensibilitas distribusi glove & stocking
d. Urutan Gx tidak selalu berurutan seperti itu.
PEMERIKSAAN
1. Kelemahan tipe LMN : Anggota gerak flaksid
2. G3 sensibilitas = glove & stocking
3. N. cranialis yang sering terlibat : n. VII
4. If otot pernafasan ikut : baernafas dangkal & tidak adekuat  suara sengau, disarthria
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Px CSS : - Disosiasi sitoalbuminik
- Virologik
- Elektroforesis (IgG, IgM, IgA ↑)
b. Px darah : Leko N, LED N
c. ENMG : Kadang Nampak fibrilasi
TERAPI
a. Tidak ada terapi adekuat
b. Kortikosteroid :
- Prednisolon 30- 50 mg / hr (iv)
- Methylprednisolon 500 mg (iv) 1 dd 1 selama 5 hari ATAU
- Kombinasi methylprednisolon 500 mg/hr selama 5 hr
+ Imunoglobulin (iv) 400 mg/Kgbb/hr selama 5 hari
DD
1. Poliomielitis
2. Neuropati krn keracunan timah, air raksa.
3. Mielitis transversa akibat virus.

BELL’S PALSY
DEFINISI : Paralisis akut pada wajah yang berhubungan dengan reaksi inflamasi dari n. fasialis
PENYEBAB : Vasospasmus di daerah kanalis facialis. Vasospasmus  edema dalam kanalis facialis. Vasospasmus dipermudah oleh adanya angin yang meniup.
ETIOLOGI : Viral infection. Missal herpes simpleks / varicella
GEJALA :
1. Nyeri dengan berbagai intensitas pada bagian mastoid ipsilateral.
2. Terjadinya elemahan > 48 jam
3. Bell’s phenomenon : - Mata Tidak dapat tertutup
- Bola mata bergerak keatas dan keluar
4. Px tidak mampu meringis
5. Px tidak dapat bersiul dengan baik
6. Unilateral >>>, Jarang bilateral
7. Family history (+)
GEJALA KLINIS :
1. Bell’s Phenomenon
2. Lipat dahi menghilang
3. Celah kelopak mata yang lebar (lagophtalmus)
4. Hidung & mulut tertarik ke sisi yang sehat
5. Sulcus nasolabialis lebih datar drpd sisi yang sehat
6. Ujung bibir di sisi yang sakit adalah lebih rendah daripada sisi yang sehat.

PENGOBATAN :
- Kortikosteroid : Prednisolon dosis tinggi : 40 – 60 mg /hr selama 5 hr (u/ masa akut)
- Vitamin B1
PROGNOSA :
- 85 % pulih dalam beberapa minggu, 15% lumpuhaksonotmesis
DD :
1. Otogenik : Otitis media dan mastoiditis  paralisis n.VII
2. Lues : Paralisis n.VII
3. Herpes Zoster optikus
4. Poliomielitis : Lesi di nucleus n. facialis.
[Observasi n. VII :] Ctt tambahan
1. Obs. Otot2 wajah saat istirahat
2. Obs. Waktu mengerutkan dahi
3. Obs. Waktu menutup mata
4. Obs. Waktu meringis
5. Obs. Waktu bersiul
6. Gerakan involunter