Pencitraan pada Meningioma

Posted on April 5, 2009 by diyoyen.
Categories: Syaraf.

dr. Dian Ibnu Wahid, Sp.PD (Title in progres =] )

Fakultas Kedokteran, Universitas Jember

Diagnosis tumor otak telah banyak mengalami kemajuan semenjak dunia pencitraan berkembang dengan pesat. Dalam hal ini tentunya termasuk diagnosis meningioma yang merupakan tumor otak jinak terbanyak, sekitar 15-20% dari seluruh tumor otak primer. Berikut ini akan dibahas beberapa tehnik pencitraan yang dapat dipergunakan untuk menunjang diagnosis meningioma.

Foto Polos Kranium

Dengan semakin meluasnya pemakaian CT dan MRI kepala pemeriksaan ini semakin jarang dilakukan untuk membantu mendiagnosis tumor otak. Umumnya pemeriksaan ini bermanfaat untuk memperlihatkan kalsifikasi, erosi tulang ataupun hiperostosis (gambar-lihat laporan kasus). Adanya kalsifikasi tulang menandakan adanya pertumbuhan tumor yang lambat. Kalsifikasi ditemukan pada meningioma sebanyak 10%.

CT (Computed tomography) Scanning

Mayoritas meningioma dapat dideteksi dengan modalitas ini. Pada CT prekontras gambaran yang tampaknya umumnya isodens sampai sedikit hiperdens dengan densitas yang homogen dapat berlobulasi dan kadang-kadang disertai area yang berkalsifikasi. Setelah pemberian kontras area tumor tampak menyangat kontras homogen, berbatas tegas dan umumnya terlihat jelas basis tumor yang lebar yang menempel pada tulang atau batas dura (gambar 1)

Dengan CT, perubahan pada tulang tengkorak juga dapat terdeteksi. Keterlibatan tulang dapat berupa hiperostosis ataupun lisis tulang. Kemampuan CT dalam menilai tulang ini sangat bermanfaat untuk tumor di basis kranii baik untuk tujuan diagnosis maupun untuk rencana operasi reseksi untuk mencegah munculnya kembali meningioma.

Lima belas persen meningioma memperlihatkan gambaran CT yang tidak biasa yang dapat berupa area hiperdens, hipodens, penyangatan kontras yang tidak homogen, degenerasi kistik, perdarahan ataupun nekrosis. Meningioma maligna dapat terlihat sebagai area yang berbatas ireguler ataupun seperti jamur yang tumbuh dari massa tumornya (mushroom-like projection) (gambar 2).

Angiografi

Dengan semakin melesatnya kemajuan CT dan MRI peranan angiografi dalam mendiagnosis meningioma semakin tergeser. Perananya menjadi terbatas pada: 1) Evaluasi anatomi vaskular preoperatif pada kasus tertentu seperti meningioma sfenoid yang mengitari arteri karotis; 2) Analisa patensi dari sinus venosus pada tumor ekstraserebral seperti meningioma falks; 3) Bagian dari prosedur untuk embolisasi tumor yang berukuran besar dan 4) Menyingkirkan arteri-vena malformasi dan aneurisma pada pasien dengan perdarahan. Sebagian dari indikasi tersebut telah dapat diambil alih oleh MR angiography dengan pengecualian pada embolisasi. (gambar 3)

Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pada T1, 60-90% meningioma tampak isointens dan 10-30% sedikit hipointens bila dibandingkan dengan substansia grisea. Sedangkan pada T2 30-45% memperlihatkan intensitas signal yang meningkat dan 50 % isointens dengan area grisea. Setelah penyuntikan materi kontras paramagnetik akan terlihat penyangatan yang homogen. Gambaran “dural tail” yang berupa penyangatan kontras pada dura yang meluas jauh dari batas area tumor merupakan ciri khas dari meningioma (gambar 4), meskipun demikian gambaran ini dapat juga terlihat pada lesi-lesi lain yang melibatkan duramater. Dural tail ini merepresentasikan perluasan tumor dan reseksi area ini penting dilakukan untuk mengurangi resiko rekurensi.

Pemeriksaan MRI pasca operasi ternyata cukup sensitif dan spesifik dalam mendeteksi residu tumor ataupun rekurensi. Penyangatan dengan area yang tebal dan noduler berkorelasi kuat dengan rekurensi ataupun residual neoplasma.

Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS)

Pemeriksaan MRS pada meningioma memperlihatkan peningkatan signal choline dan reduksi dari N-acetylaspartate (NAA) dan phosphocreatine/creatine (PCr/Cr) (gambar 5).

Peningkatan cholin menggambarkan biosintesis membran yang aktif yang terjadiselama proliferasi sel. Akan tetapi peningkatan signal choline ini ternyata ditemukan juga pada kebanyakan neoplasma sehingga menjadi tidak spesifik untuk meningioma. Sedangkan NAA yang menurun merepresentasikan kerusakan neuron pada area tumor. MRS selain bermanfaat untuk diagnosis, berguna juga dalam menentukan stadium tumor dan membedakan pertumbuhan tumor dari efek radiasi. (Red/Esti. Disadur dari: Kaye AH, Briggs RJ. Brain Tumors. An encyclopedic approach. 2nd ed. London: Churchill Livingstone; 2001)

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>