KERATOKONJUNGTIVITIS VERNALIS

Posted on May 22, 2009 by diyoyen.
Categories: Mata.

Pendahuluan

Keratokonjungtivitis vernalis merupakan suatu peradangan konjungtiva dan kornea yang bersifat dwipihak, mempunyai dasar reaksi hipersensitivitas tipe l dan IV, serta mudah terjadi kekambuhan yang dipengaruhi oleh iklim. Gejala yang spesifik berupa rasa gatal yang hebat, sekret mukus yang kental dan lengket, serta hipertropi papil konjungtiva. Penyakit ini pada umumnya tidak mengancam penglihatan, namun dapat menimbulkan rasa tidak enak. Mata sering berkedip, mata tampak kemerahan, serta meresahkan penderita. Pada anak-anak jelas akan mengganggu aktivitas belajar dan secara umum dapat mengganggu kualitas kehidupan. Pada beberapa kasus dapat menimbulkan gejala sisa. Misalnya, mikropanus, astigmatisme miop, keratokonus, dan keratoglobus1.

Insidensi keratokonjungtivitis vernalis relatif kecil, yaitu sekitar 0,l%–0,5% dari pasien dengan masalah mata yang berobat, dan hanya 2% dari semua pasien yang diperiksa di klinik mata Mediterania. Penyakit ini perlu mendapatkan penekanan khusus. Hal ini karena penyakit ini sering kambuh dan menyerang anak-anak usia 4–20 tahun, dengan frekuensi pada anak lelaki tiga kali lebih banyak. Dengan demikian, memerlukan pengobatan jangka panjang dengan obat yang aman. Pemakaian steroid tetes mata jangka panjang atau lebih dari 4 minggu terus-menerus dapat menimbulkan beberapa penyulit. Penyulit tersebut antara lain steroid glaukoma, katarak, serta reaktivasi infeksi virus dan jamur2. Penggunaan antihistamin pada umumnya juga menimbulkan efek samping mengantuk. Dengan demikian, akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Di samping itu, keratokonjungtivitis vernalis juga memiliki risiko terjadinya ulkus kornea (shield ulcer), khususnya pada penderita ras kulit hitam seperti yang terjadi di Afrika Selatan.3

Permasalahan yang terjadi adalah bagaimana mengatasi kasus-kasus keratokonjungtivitis ini secara memuaskan. Artinya, memiliki daya guna penyembuhan maksimal, termasuk mengurangi kekambuhan dan tidak mengurangi kualitas kehidupan serta efek samping minimal. Untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan tersebut, akan dikaji beberapa hal, meliputi patofisiologi, gambaran klinik, dan yang terpenting adalah hasil kajian beberapa obat yang pernah dilaporkan. Diharapkan makalah ini dapat menjadi bahan pertimbangan para klinisi untuk menetapkan langkah yang tepat dalam menangani kasus keratokonjungtivitis vernalis.

Pembahasan
Patofisiologi Keratokonjungtivitis Vernalis

Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang insterstitial yang banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV. Pada konjungtiva akan dijumpai hiperemia dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobblestone4. Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau5. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal, oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsaltidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik dan dalam kasus yang berat akan disertai keratitis serta erosi epitel kornea6.

Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertropi yang menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun kuantitas stem cells limbus. Kondisi yang terakhir ini mungkin berkaitan dengan konjungtivalisasi pada penderita keratokonjungtivitis dan di kemudian hari berisiko timbulnya pterigium pada usia muda7. Di samping itu, juga terdapat kista-kista kecil yang dengan cepat akan mengalami degenerasi.

Sekresi mukus yang kental dan melekat pada penderita keratokonjungtivitis vernalis, menurut Neumann dan Krantz, mengandung banyak mukopolisakarida serta asam hyaluronat. Dalam hal ini memungkinkan timbulnya tarikan sel epitel kornea dan gesekan dari papil tarsal pada kornea akan mengakibatkan kerusakan kornea yang meluas ke tepi8. Kerusakan kornea diduga juga berkaitan dengan infiltrasi sel radang yang berasal dari konjungtiva8. Menyusul kerusakan kornea ini dapat menjadi difus, pembentukan ulkus, dan perubahan degeneratif lainnya seperti pseudogerontoxon. Pembentukan ulkus epitelial non-infeksi yang berbentuk oval atau perisai dapat terjadi yang mendasari timbulnya kekeruhan stroma kornea di sentral maupun superior9. Lebih jauh, kurvatura kornea juga akan memperlihatkan perubahan disertai astigmatisme miopik dan pada tahap lanjut dapat terjadi keratokonus serta keratoglobus8.

Gambaran Histopatologik

Tahap awal keratokonjungtivitis vernalis ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini, akan tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta pseudomembran milky white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel-sel PMN, eosinofil, basofil, dan sel mast. Tahap berikutnya akan dijumpai sel-sel mononuklear seperti limfosit makrofag. Sel mast dan eosinofil yang dijumpai dalam jumlah besar dan terletak superficial. Dalam hal ini, hampir 80% sel mast dalam kondisi terdegranulasi. Temuan ini sangat bermakna dalam membuktikan peran sentral sel mast dalam kasus keratokonjungtivitis vernalis3,8. Keberadaan eosinofil dan basofil, khususnya di dalam konjungtiva, sudah cukup menandai adanya abnormalitas jaringan.

Hasil penelitian histopatologik terhadap 675 konjungtivitis vernalis mata yang dilakukan oleh Wang dan Yang menunjukkan infiltrasi limfosit dan sel plasma pada konjungtiva. Prolifertasi limfosit akan membentuk beberapa nodul limfoid10. Sementara itu, beberapa granula eosinofilik dilepaskan dari sel eosinofil, menghasilkan bahan sitotoksik yang berperan dalam kekambuhan keratokonjungtivitis. Dalam penelitian tersebut juga ditemukan adanya reaksi hipersensitivitas. Tidak hanya di konjungtiva bulbi dan tarsal, tetapi juga di fornix, serta pada beberapa kasus melibatkan reaksi radang pada iris dan badan siliar10.

Fase vaskular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase, peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan. Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasia jaringan ikat meluas ke atas membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Kolagen maupun pembuluh darah akan mengalami hialinisasi. Epiteliumnya berproliferasi menjadi 5–10 lapis sel epitel yang edematous dan tidak beraturan. Seiring dengan bertambah besarnya papil, lapisan epitel akan mengalami atrofi di apeks sampai hanya tinggal satu lapis sel yang kemudian akan mengalami keratinisasi.

Pada limbus juga terjadi transformasi patologik yang sama berupa pertumbuhan epitel yang hebat meluas, bahkan dapat terbentuk 30-40 lapis sel (acanthosis). Horner-Trantas dot`s yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri atas eosinofil, debris selular yang terdeskuamasi, namun masih ada sel PMN dan limfosit. Di dalam ulkus kornea non-infeksi pada kasus keratokonjungtivitis vernalis dapat ditemukan kristal Charcot Leyden yang merupakan granula eosinofil dan plak mukoid11.

Membuat Diagnosis Keratokonjungtivitis Vernalis

Keluhan utama adalah gatal yang menetap, disertai oleh gejala fotofobia, berair, dan rasa mengganjal pada kedua mata. Adanya gambaran spesifik pada konjungtivitis ini disebabkan oleh hiperplasi jaringan konjungtiva di daerah tarsal, daerah limbus, atau keduanya. Selanjutnya, gambaran yang tampak akan sesuai dengan perkembangan penyakit yang memiliki 3 bentuk, yaitu palpebra, limbal, dan campuran3,8. Bentuk palpebra hampir terbatas pada konjungtiva tarsalis superior dan terdapat cobble stone. Ini banyak terjadi pada anak yang lebih besar. Cobble stone ini dapat demikian berat sehingga timbul pseudoptosis. Bentuk limbal disertai hipertrofi limbus yang dapat disertai bintik-bintik yang sedikit menonjol keputihan dikenal sebagai Horner-Trantas dot`s. Ini banyak terjadi pada anak-anak yang lebih kecil. Penebalan konjungtiva palpebra superior akan menghasilkan pseudomembran yang pekat dan lengket, yang mungkin bisa dilepaskan tanpa timbul perdarahan. Penebalan ini disertai pertumbuhan papil. Papil akan tumbuh lebih besar secara perlahan, kemudian bersatu menjadi papil raksasa. Jika semula hanya elevasi 0,l mm, dalam perkembangannya papil dapat berbentuk deposit poligonal yang tidak beraturan, berwarna merah muda keabuan, dan dapat mencapai diameter 7-8 mm. Papil yang besar memiliki puncak yang datar dan dipisahkan satu dengan lainnya oleh celah-celah berisi mukus12.

Eksudat konjungtiva pada keratokonjungtivitis sangat spesifik, berwarna putih susu kental, lengket, elastik, dan fibrinous. Peningkatan sekresi mukus yang kental pada tear film dan adanya peningkatan jumlah asam hyaluronat, mengakibatkan eksudat menjadi lengket. Hal ini memberikan keluhan adanya sensasi seperti tali atau cacing pada matanya.

Lesi limbal yang meluas ke tepi kornea akan menimbulkan keratitis pungtata superfisialis. Pada yang lebih berat akan menjadi difus, dan biasanya terletak setengah di bagian atas kornea. Kadang-kadang epitelnya terkelupas, kemudian membentuk ulkus dwipihak tanpa vaskularisasi. Ulkus ini mempunyai permukaan kasar keputihan dan tampaknya berhenti pada m Bowman. Pada perkembangan selanjutnya, bila sembuh akan menyisakan daerah oval abu-abu. Biasanya, dalam keadaan ini terjadi keratokonus dan pada tahap akhir terjadi keratoglobus8.

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa kerokan konjungtiva untuk mempelajari gambaran sitologi. Hasil pemeriksaan menunjukkan banyak eosinofil dan granula-granula bebas eosinofilik. Di samping itu, terdapat basofil dan granula basofilik bebas.

Diagnosis banding pada umumnya tidak sulit, kecuali yang dihadapi penderita dewasa muda, karena mungkin suatu keratokonjungtivitis atopik. Kelainan mata pada keratokonjungtivitis atopik berupa kelopak mata yang tebal, likenisasi, konjungtiva hiperemi dan kemosis, disertai papil-papil di konjungtiva tarsalis inferior. Kadang-kadang, papil ini bisa besar mirip cobble stone, dan dapat dijumpai pada konjungtiva tarsalis superior. Trantas dot’s juga bisa dijumpai pada atopik meskipun tidak sesering pada konjungtivitis vernalis. Seperti pada konjungtivitis vernalis, pada atopik bisa didapatkan keratitis epitel, ulserasi, dan kekeruhan stroma. Pada atopik cepat terjadi neovaskularisasi. Pada pemeriksaan kerokan konjungtiva jarang dijumpai eosinoil dan tidak dijumpai granula-granula eosinofilik yang bebas.

Selain keratokonjungtivitis atopik, perlu juga dipikirkan kemungkinan adanya Giant Papillary Conjunctivitis pada pemakaian lensa kontak, baik yang hard maupun yang soft. Gejalanya mulai dengan gatal disertai banyak mukus serta timbulnya atau ditemukannya papil raksasa di konjungtiva tarsalis superior. Kelainan ini dapat timbul baik satu minggu sesudah pemakaian lensa kontak maupun setelah lama pemakaian. Pada kelainan ini, tidak ada pengaruh musim. Pemeriksaan sitologi hanya menunjukkan sedikit eosinofil. Dengan dilepasnya lensa kontak, gejala-gejalanya akan berkurang. Konjungtivitis vernalis kadang-kadang perlu didiagnosis banding dengan trakhoma stadium II yang disertai folikel-folikel yang besar mirip cobble stone.

Penatalaksanaan Keratokonjungtivitis Vernalis

Seperti halnya semua penyakit alergi lainnya, terapi keratokonjungtivitis vernalis bertujuan mengidentifikasi alergen dan bahkan bila mungkin mengeliminasi atau menghindarinya. Untuk itu, anamnesis yang teliti baik pada pasien maupun orang tuanya akan dapat membantu menggambarkan aktivitas dan lingkungan mana yang harus dihindari. Dengan demikian, penatalaksanaan pada pasien ini akan terbagi ke dalam tiga bentuk yang saling menunjang untuk dapat memberikan hasil yang optimal. Ketiga bentuk penatalaksanaan tersebut meliputi: (1) tindakan umum, (2) terapi medikasi, dan (3) pembedahan.

1. Tindakan Umum

Dalam hal ini mencakup tindakan-tindakan konsultatif yang membantu mengurangi keluhan pasien berdasarkan informasi hasil anamnesis tersebut di atas. Beberapa tindakan tersebut antara lain:
Pemakaian mesin pendingin ruangan berfilter;
Menghindari daerah berangin kencang yang biasanya juga membawa serbuksari;
Menggunakan kaca mata berpenutup total untuk mengurangi kontak dengan alergen di udara terbuka. Pemakaian lensa kontak justru harus dihindari karena lensa kontak akan membantu retensi allergen;
Kompres dingin di daerah mata;
Pengganti air mata (artifisial). Selain bermanfaat untuk cuci mata juga berfungsi protektif karena membantu menghalau allergen;
Memindahkan pasien ke daerah beriklim dingin yang sering juga disebut sebagai climato-therapy11. Cara ini memang kurang praktis, mengingat tingginya biaya yang dibutuhkan. Namun, efektivitasnya yang cukup dramatis patut diperhitungkan sebagai alternatif bila keadaan memungkinkan;
Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari tangan, karena telah terbukti dapat merangsang pembebasan mekanis dari mediator-mediator sel mast. Di samping itu, juga untuk mencegah superinfeksi yang pada akhirnya berpotensi ikut menunjang terjadinya glaukoma sekunder dan katarak.
2. Terapi Medik

Dalam hal ini, terlebih dahulu perlu dijelaskan kepada pasien dan orangtua pasien tentang sifat kronis serta self limiting dari penyakit ini. Jelaskan juga mengenai keuntungan dan kemungkinan komplikasi yang dapat timbul dari pengobatan yang ada, terutama dalam pemakaian steroid. Salah satu faktor pertimbangan yang penting dalam mengambil langkah untuk memberikan obat-obatan adalah eksudat yang kental dan lengket pada keratokonjungtivitis vernalis, karena merupakan indikator yang sensitif dari aktivitas penyakit, yang pada gilirannya akan memainkan peran penting dalam timbulnya gejala. Untuk menghilangkan sekresi mucus, dapat digunakan irigasi saline steril dan mukolitik seperti asetil sistein 10%–20% tetes mata. Dosisnya tergantung pada kuantitas eksudat serta beratnya gejala. Dalam hal ini, larutan 10% lebih dapat ditoleransi daripada larutan 20%. Larutan alkalin seperti 1-2% sodium karbonat monohidrat dapat membantu melarutkan atau mengencerkan musin, sekalipun tidak efektif sepenuhnya4.

Satunya-satunya terapi yang dipandang paling efektif untuk pengobatan KKV adalah kortikosteroid, baik topikal maupun sistemik. Namun, untuk pemakaian dalam dosis besar harus diperhitungkan kemungkinan timbulnya risiko yang tidak diharapkan. Untuk KKV yang berat, bisa diberikan steroid topikal prednisolone fosfat 1%, 6-8 kali sehari selama satu minggu. Kemudian dilanjutkan dengan reduksi dosis sampai ke dosis terendah yang dibutuhkan oleh pasien tersebut. Bila sudah terdapat ulkus kornea maka kombinasi antibiotik steroid terbukti sangat efektif. Pada kasus yang lebih parah, bisa juga digunakan steroid sistemik seperti prednisolone asetat, prednisolone fosfat, atau deksamethason fosfat 2–3 tablet 4 kali sehari selama 1–2 minggu. Satu hal yang perlu diingat dalam kaitan dengan pemakaian preparat steroid adalah “gunakan dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin”10.

Antihistamin, baik lokal maupun sistemik, dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain, karena kemampuannya untuk mengurangi rasa gatal yang dialami pasien. Apabila dikombinasi dengan vasokonstriktor, dapat memberikan kontrol yang memadai pada kasus yang ringan atau memungkinkan reduksi dosis. Bahkan, menangguhkan pemakaian steroid topikal. Suatu hal yang tidak disukai adalah efek samping obat antihistamin, yaitu rasa ngantuk. Pada anak-anak, hal ini dapat menganggu kinerja sehari-hari. Emedastine adalah antihistamin paling poten yang tersedia di pasaran dengan kemampuan mencegah sekresi sitokin. Sementara olopatadine yang dipasarkan sebagai Patanol‚ juga merupakan antihistamin yang juga berfungsi sebagai inhibitor degranulasi sel mast konjungtiva.

Sodium kromolin 4% pada kasus KKV terbukti bermanfaat karena kemampuannya sebagai pengganti steroid bila pasien sudah dapat dikontrol. Ini juga berarti dapat membantu mengurangi kebutuhan akan pemakaian steroid. Sodium kromolin berperan sebagai stabilisator sel mast, mencegah terlepasnya beberapa mediator yang dihasilkan pada reaksi alergi tipe I, namun tidak mampu menghambat pengikatan IgE terhadap sel maupun interaksi sel – IgE dengan antigen spesifik13. Titik tangkapnya, diduga sodium kromolin memblok kanal kalsium pada membran sel serta menghambat pelepasan histamin dari sel mast dengan cara mengatur fosforilasi . Menurut Iwasaki et al, sodium kromolin cukup toleran terhadap pasien pengguna lensa kontak dan tidak terjadi kumulasi pada lensa kontak lunak14.

Lodoksamid 0,l% terbukti bermanfaat karena aktivitas antialergi yang akan mengurangi infiltrat radang, terutama eosinofil dalam konjungtiva. Lodoksamid digolongkan sebagai stabilasator sel mast. Bila dibandingkan, sodium kromolin lodoksamid lebih unggul karena pengikatan terhadap CD4(+) cells lebih kuat15.

Levokabastin tetes mata merupakan suatu H1 antihistamin yang spesifik dan sangat poten terhadap konjungtivitis vernalis. Menurut Richard et al, dengan membandingkan antara lodoksamid dengan levokabastin ternyata khasiatnya cukup seimbang, dan simptom KKV hilang dalam 14 hari16.

Studi klinik dan imunohistokimia telah dilakukan oleh Bayoumi et al, tentang penggunaan siklosporin A2% untuk 30 kasus KKV. Studi ini dibedakan atas 3 kelompok. Kelompok I mendapat siklosporin A 2%; kelompok II mendapat steroid tetes mata; dan kelompok III mendapatkan keduanya. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi steroid dan siklosporin merupakan yang terbaik, terbukti adanya penurunan MHC+ cell, IgA stroma, dan IgG sel plasma17. Disebutkan pula bahwa papil-papil besar mulai menghilang pada minggu ketiga pasca pengobatan dengan siklosporin A topikal.

Pada pasien-pasien yang tidak kooperatif, perlu dilakukan injeksi steroid supratarsal 0,5 ml triamsinolon asetonid (40 mg/ml)13. Hal tersebut untuk menjaga kesinambungan pengobatan. Injeksi steroid ini dapat berefek dalam l bulan.

3. Terapi Pembedahan

Ulkus kornea yang terjadi pada KKV biasanya ringan, tetapi apabila tidak sembuh dengan antibiotik dan steroid topikal maupun terapi konservatif lainnya bisa dicoba dilakukan transplantasi membran amnion. Membran amnion mampu memacu epitelisasi kornea. Transplantasi membran amnion dianjurkan pada kasus-kasus ulkus kornea yang berat18. Beberapa kasus steroid glaukoma pada penderita KKV yang tidak membaik dengan penghentian steroid maupun dengan terapi medikasi sebaiknya dilakukan trabekulektomi.

Berbagai terapi pembedahan, krioterapi, dan diatermi pada papil raksasa konjungtiva tarsal kini sudah ditinggalkan mengingat banyaknya efek samping dan terbukti tidak efektif, karena dalam waktu dekat akan tumbuh lagi. Apabila segala bentuk pengobatan telah dicoba dan tidak memuaskan, maka metode dengan tandur alih membran mukosa pada kasus KKV tipe palpebra yang parah perlu dipertimbangkan8. Akhirnya, sekali lagi perlu ditekankan bahwa KKV biasanya berlangsung selama 4-6 tahun dan bisa sembuh sendiri apabila anak sudah dewasa.

Kesimpulan

Penatalaksanaan KKV tergantung pada berat ringanya gejala klinik. Pada kasus ringan sampai sedang, cukup diberikan anti histamin topikal dan dapat ditambahkan vaso kontriktor, kemudian dilanjutkan dengan stabilasator sel mast. Pada kasus yang berat, perlu diawali dengan pemberian steroid topikal yang sering. Apabila sudah membaik, dalam waktu l minggu harus diganti dengan stabilisator sel mast. Pada kasus yang berat bisa dikombinasi steroid topikal, nonsteroid topikal, dan antihistamin. Mengingat seringnya timbul kekambuhan, harus dihindari penggunaan steroid jangka lama.

Perlu diberi pengertian kepada orangtua pasien bahwa penyakit KKV itu tidak berbahaya, dan bisa sembuh sendiri apabila telah berumur 20 tahun. Pemeriksaan secara rutin setiap 6 bulan diperlukan guna mengetahui kemungkinan adanya komplikasi penyakit atau mungkin adanya efek samping pengobatan. Pemeriksaan tekanan intraokuler pada penderita KKV perlu dilakukan secara rutin, mengingat banyaknya kasus steroid glaukoma pada penderita KKV.

Daftar Pustaka
Smolin G, and O`Connor GR, Ocular Immunology, 2nd ed., Little Brown Co, Boston, l986.
Bloomfield S and Theodore F, The conjunctivitis in Clinical Immunology of the Eye , William Wilkins, Baltimore, l983.
Abilson B and Albert DM , Allergic and Toxic Reaction in Jacobiec FA(ed): Principles and Practice of Ophthalmology Vol 5, first ed.,WB Saunders Co, Philadelphia, l994.
Smith JS , Eye diseases in hot climate, 2nd ed, Butterworth and Co, London, l990.
Lambiase J, Boriani S, Increased plasma level of Substance p in Vernal Keratoconjunctivitis, Invest Ophthalmol and Vis Sci, Sept, l997, 2161-4.
Mendicuale J, Aranzaski C, Topical cyclosporine A 2% in the treatment of VKC, Eye l997(ll):75-8.
Doshler N and Reid TN, Immune histochemical evidence that human pterygia originate from an invasion of Vinentia expressing altered limbal epithelial basal cells, Curr Eye Res l994, l3:473-81.
Bacon AS and McGill JL, Adhesion moleculer and relationship to leucocyte level in allergic eye disease, Invest Vis Sci l998(39):2.
Allansmith MR, The Eye and Immunology, first ed, The CV Mosby Co, Toronto, l982
Wang K, Yang S, Clinicopathology in VKC, Abstract XII Afro-Asian Congress Ophthalmology, E 182, Nov ll-l5, 2000, Guang Zhou, China.
Abu el asrar AM and Tabbara KF, Adhesion Molecules in VKC, Br J Ophthalmol, l997(8l):l099-ll06.
AAO Foundation, External Eye Diseases and Cornea in Basic and Clinical Science Course, American Academy of Ophthalmology, Section 8, l997-l998.
AAO Foundation, External Eye Diseases and Cornea in Basic and Clinical Science Course, American Academy of Ophthalmology, Section 8, 2000-200l.
Iwasaki N, Kosala Y, Momose T, Yasuda T, Absorption of Topical Disodium Cromoglycate and its preservatives by soft contacty lens, CLA Ophthalmol Japan, l998, l4(3):l55-8.
Avunduk AM, Avunduk MC, Kepicioglu Z, Mechanical and Comparison of antialllergic efficacy of topical Lodoxamide and cromolyn sodium in VKC, Ophthalmology, 2000,l07(7):1333-7.
Richard C, Tringuand C, Block-Michel E, Comparison of Topical 0.05% Levocabastine and 0.l% Lodoxamide in patients with Allergic Conjunctivitis, Eur J Ophthalmol, l998, 8(4):207-16.
Bayoumi MY, Bayoumi AY, Eld-Dui MS, El-Din MA, Topical Cyclosporine A in VKC: Clinical and Immune Histochemical Study, Abstract XII Afro-Asian Congress of Ophthalmology, E 56, Nov ll-l5, 2000, Guang Zhou, China.
Kazuomi H, Shimazaki J, Shimmura S, and Tsubota K, Multilayered Amniotic Membrane Transplantation for Severe Ulceration of the Cornea and Sclera, Am J Ophthalmol, 200l,131(3):324-3l.

CARA KERJA PENTONAL

Posted on by diyoyen.
Categories: Science.

CARA KERJA PENTONAL

Pentotal termasuk golongan barbiturat, semua barbiturate untuk keperluan klinik berada dalam bentuk garam sodium (berupa bubuk kuning) dilarutkan dalam air menjadi larutan 2,5% atau 5% dengan PH 10,8.
Larutan pentotal tidak stabil tapi dapat disimpan 24 - 48 jam tanpa membahayakan, asalkan masih tetap jernih. Dianjurkan untuk segera memakai larutan yang telah disiapkan. Untuk menghilangkan efek negatif dari pentotal dianjurkan, memakai larutan 2,5%.
Pentotal merupakan anestetik kuat dan analgesik lemah. Pentotal merupakan anestetik umum yang merupakan yang paling banyak diberikan secara intravena

Metabolisme
Pentotal terutama terjadi hepar hanya sebagian kecil keluar lewat urine tanpa mengalami perubahan. Pentotal 10-15 % dari dalam tubuh akan dimetabolisir tiap jam. Pulih sadar yang cepat setelah pentotal disebabkan oleh pemecahan dalam hepar yang cepat diilusi dalam darah dan di redistribusi ke jaringan tubuh yang lain. Oleh karena itu pentotal termasuk obat dengan daya kerja sangat singkat “Ultra Short Acting Barbiturate” pentotal dalam jumlah kecil masih dapat ditemukan dalam darah 24 jam oleh karena itu dapat membahayakan bagi pasien tanpa mondok yang masih harus mengendarai mobil setelah sadar dari efek pentotal.

FARMAKOLOGI

Susunan syaraf pusat

Pentotal menimbulkan sedasi, hypnosis (tertidur), dan depresi pernapasan, tergantung dosis dan kecepatan pemberian. Efek analgesia sedikit dan terhadap SSP terlihat adanya depresi dan kesadarannya menurut secara progresif. Kontak dengan lingkungan, dengan gerakan-gerakan dan kemampuan menjawab pertanyaan pelan-pelan menghilang.

Pernapasan
Efek utama adalah depresi pusat pernapasan, tergantung besar dosis, dan kecepatan injeksi. Efek ini akan bertambah jelas bila sebelumnya diberikan opiat atau obat depresan lain.

Kardiovaskular
Pentotal mendepresi pusat vasomotor dan kontraktilitas miokard yang mengakibatkan vasodilatasi, sehingga dapat menurunkan curah jantung dan tekanan darah. Efek ini tergantung dosis dan lebih nyata pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.

KOMPLIKASI ANESTESIA DENGAN PENTOTAL

Lokal :

a. Injeksi perivena : akan menimbulkan rasa sakit, bengkak, kemerahan dan nekrosis. Untuk mengurangi rasa sakit disuntik Procain 1 % kurang lebih 1 cc ditempat tersebut.
b. Injeksi Intra Arteri : akan memberi rasa terbakar, terjadi spasme, arteri dan kemungkinan trombosis

Umum :

a. Depresi pernapasan, karena pemberian terlalu banyak atau terlalu cepat
b. Hipotensi (Syok), karena overdosis relative, terjadi vasodilatasi dan depresi miokard.
c. Pasca Operasi : vertigo, disorientasi
d. Reaksi anafilaksis

Dosis
Untuk hypnosis sangat sulit ditemukan; bersifat individual, tetapi pada umumnya untuk orang dewasa sehat, dosis hipnosis berkisar antara 3-5 mg/kg. biasanya untuk menghindarkan efek negatif dari pentotal tadi diberikan dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien.

Keuntungan
1. Induksi mudah dan cepat
2. Delirium tidak ada
3. Cepat pulih sadar
4. Iritasi mukosa jalan nafas tidak ada

Kekurangan
1. Depresi pernapasan
2. Depresi kardiovaskuler
3. Cenderung terjadi spasme laring
4. Relaksasi otot perut kurang
5. Bukan analgetika

Indikasi Pemakaian

1. Induksi pada anesthesia umum
2. Operasi / tindakan yang singkat
- Reposisi fraktur, insisi, jahit luka
- Tindakan ginekologi kecil (dilatasi dan kuret)
3. Sedasi pada analgesia regional
4. Mengatasi kejang-kejang eklamsia, epilepsi, tetanus

Kontraindikasi

Kontra Indikasi Absolut :
1. Status Asmatikus
2. Porfiria

Kontra Indikasi Relatif :
1. Syok
2. Anemia, uremia, disfungsi hepar, dosis harus dikurangi
3. Dispnoe berat
4. Asma bronchial
5. Versi Ekstraksi
6. Miastenia gravis
7. Vena yang sulit ditemukan (pada anak 4 tahun)
8. Riwayat alergi terhadap pentotal

Daftar Pustaka :

1. www.en.wikipedia.org/wiki/sodiumpenthotal.html
2. Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. (1989). Anestesiologi. FKUI ; Jakarta.

LEUKORREA

Posted on by diyoyen.
Categories: Obstetric and gynecology.

Pendahuluan
Salah satu keluhan yang agak sering dijumpai dalam klinik dan KIA adalah keputihan/leukorea, 16% penderita keputihan adalah akseptur KB dan ibu hamil. Dalam penelitian ini dilakuakan pengambilan usapan vagina akseptor KB dan ibu hamil yang menderita keputihan. Penelitian positif dilakukan secara langsung dengan menggunakan media SDA (untuk contoh). Sedangkan untuk bakteri dilakukan penelitian dengan cara pewarnaan gram.
Dari 162 penderita leukorea didapatkan infeksi candididasis 53,7%, infeksi tri chomoniasis 3,1%, infeksi gabungan candidiasis dan trichomoniasis 3,1% dan infeksi bakteri 40,1 %. Infeksi candidiasis pada kelompok ibu hamil, kelompok KB maupun kelompok non KB tinggi (61,1%, 53,4%, 50%) dan secara statistic tidak berbeda bermakna. Infeksi candidiasis merupakan infeksi yang umum ditemukan pada penderita leukorea dan tidak menunjukan adanya pengaruh KB maupun kehamilan
Keseimbangan dinamic dipengaruhi oleh:
?.Epithelium.
? Mikroorganisme usus yang normal ex: Lactobasillus Spp
? Faktor immune dan sekretori sel
? PH Vagina yang seimbang : - asam ( 3,8-4,2 )
- Basa ( > 4,2 )
- menimbulkan untuk perkembangan kuman patogen
Mekanisme Ph yang normal
? Estrogen meningkat
?Lactobacilus memetabolisme Glykogen menjadi asam laktat
?Asam laktat mengatur keasaman Ph.
Flora normal pada vagina :
1. Lactobacilus
- gram (+)
- Hampir 100 % terdapat pada flora normal pada wanita
- Mempengaruhi pertumbuhan epitel cell
- Melindungi terhadap infeksi bakteri
2. Organisme Faculative
- Sterptokokus
- E. Coli
- Mycoplasma Hominis
- Ureoplasma Urcalyticum
-
3. Organisme Anaerob
- Peptostreptococus
- Bacteriodes
- Fusobacterium
- Gardnella ( 40-60 %) normal disekresi

Definisi
Keputihan dalam bahasa medis dikenal sebagai leukorea, fluor albus. Leukorea adalah cairan yang keluar dari alat genital wanita yang tidak berupa darah melainkan berupa keputihan yang banyak dialami wanita usia produktif tapi tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada anak-anak dan usia tua. Hal ini terjadi karena pengaruh hormonal dan tubuh. Keluarnya cairan selain darah ini dapat bersifat normal ataupun tidak normal (patologis). Leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada penderita ginekologik.
Leukorea dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang.
Leukorea fisiologik ditemukan pada:
a. bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari;disini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin;
b. waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; leukorea di sini hilang seniri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya;
c. wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina;
d. waktu disekitar ovulasi; dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer
e. pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion persionis uteri.
Penyebab paling penting dari leukorea patologik adalah infeksi. Disini ditemukan:
- banyak leukosit
- warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau, radang vulva, vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul.
Selanjutnya leukorea diemukan pada neoplasma jinak atau ganas.
Untuk membedakan keputihan yang normal dengan yang tidak normal bisa dengan melihat bentuk fisik dan material dari cairan itu sendiri.
Untuk keputihan yang normal, terdiri atas cairan berupa mukus yang mengandung selaput lendir vagina (epitel) tanpa atau hanya sedikit disetai sel darah putih (leukosit). Sedangkan bentuk fisiknya sendiri lebih cenderung berwarna agak jernih, bening, licin dan tidak berbau. Dari segi jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Kalau warnanya ada yang agak menguning itu karena terkontaminasi udara yang kemudian mengering.
Sedangkan untuk keputihan yang tidak normal, materialnya kurang lebih hampir sama dengan yang normal namun lebih banyak mengandung sel darah putih. Jika dilihat dari bentuk fisik, cairannya lebih berupa getah yang berwana kuning pekat, kehijauan atau kecoklatan jumlahnya sangat banyak dan berbau, tidak jarang disertai rasa nyeri atau panas dan gatal pada vagina.
Keluarnya cairan dikatakan normal jika terjadi sebelum haid, sesudah haid, pada pertengahan siklus atau pada saat ovulasi, serta saat mendapat rangsangan sex. Hal ini normal terjadi pada semua wanita dimasa produksi. Cairan yang keluar dimasa-masa itu akan berupa cairan berbentuk jernih, agak kental, tidak berbau, tidak mengalir dan ph keasamannya antara 3,5 hingga 4,5. Cairan ini biasanya akan hilang dalam beberapa hari tanpa keluhan apapun.

Etiologi
Ada empat hal yang menyebabkan timbulnya keputihan:
1. kondisi tubuh
akibat penyakit kronis yang menahun yang dapat melemahkan daya tahan tubuh orang tersebut sehingga menyebabkan keluarnya cairan keputihan secara berlebihan dan juga bisa terjadi pada wanita yang senantiasa tegang atau stress.
2. kelainan endokrin atau hormon
Disini sebagai contoh pada saat hamil atau terjadi perubahan hormonal, terjadi suasana asam menjadi basa sehingga mengakibatkan banyak ibu hamil mendapat jamur. Apabila ini tidak segera diobati maka akan menyebabkan ketuban pecah dini.
3. Infeksi
Infeksi dapat berasal dari bermacam-macam organ reproduksi, misalkan infeksi vulva, vagina, mulut rahim, selaput lendir rahim dan saluran telur. Semua infeksi ini dapat memberikan gambaran berupa keputihan. Infeksi vulva umumnya disebabkan oleh kuman GO (gonorrhea (gonore)), chlamydia, dan herpes simplex. Infeksi lain disebabkan jamur candida (candidiasis), bakteri (vaginosis) dan parasit tricomonas vaginatis
4. Benda asing
Benda asing ini bermacam-macam seperti kondom, benang IUD yang tertinggal didalam vagina, kelainan fistula akibat persalinan atau tindakan operasi, hubungan antara rektum dengan vagina atau antara kandung kncing dengan vagina, serta tissue pembasuh.

Vulva
Vulva terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut: mons veneris, labia mayora, labia minoro, klitoris, vestibulum dengan orifisium urethra ekternum, glandula Bartholini dan glandula paraurethralis.
Umumnya vulvitis dapat di bagi dalam tiga golongan:
a. yang bersifat lokal
b. yang timbul bersama-sama atau sebagai akibat vaginitis
c. yang merupakan permulaan atau manifestasi dari penyakit umum
Yang termasuk kedalam golongan vulvitis lokal adalah:
1. infeksi pada kulit, termasuk rambut, kelenjar-kelenjar sebasea dan kelenjar-kelenjar keringat. Infeksi ini timbul karena trauma luka atau sebab lain, dan sebagainya dapat menimbulkan folikulitis, furunkulosis, hidradenitis, dan sebagainya
2. infeksi pada orifisium urethra eksternum, glandula paraurethralis . infeksi ini biasanya disebabkan oleh gonorea dan akan dibahas pada bab ini.
3. infeksi pada glandula Batholini
Dalam golongan vulvitis sebagai permulaan atau manifestasi penyakit umum, terdapat antara lain:
1. penyakit-penyakit kelamin, yang dianggap penyakit kelamin klasik ialah gonorrea, sifilis, ulkus molle, limfogranuloma venereum, dan granuloma inguinale. Semuanya akan di bicarakan dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus)
2. tuberkulosis, juga dibicarakan dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus)
3. vulvitis disebabkan oleh infeksi karena virus. Termasuk di sini limfogranuloma venereum, herpes genitalis dan kondiloma akuminatum. limfogranuloma venereum dibahas dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus)
4. vulvitis pada diabetes mellitus

Herpes genitalis
Herpes genitalis disebabkan oleh tipe 2 herpes virus hominis, yang dekat denagn tipe 1 herpes virus simpleks, penyebab herpes labialis. Herpes genitalis umumnya dianggap sebagai akibat hubungan seksual dan terjadi dalam 3 sampai 7 hari sesudah koitus. Jika penyakit timbul, ditengah-tengah daerah dengan radang dan edema tampak sejumlah vesikel yang biasanya berlokasi pada labia minora, bagian dalam labia mayora dan prepusium klitoridis.
Diagnosis herpes genitalis dapat dibuat dengan jalan pembiakan pada luka-luka di vulva, vagina, atau serviks dan dengan tes serologik. Sebagai terapi dapat dilakukan terapi simptomasis dengan obat-obat yang mengurangi rasa nyeri dan gatal, dan yang mengeringkan daerah yang kena infeksi. Akhir-akhir ini ditemukan bahwa virus dapat diberantas dengan aplikasi lokal dari 1% larutan netral-red atau 0,1% larutan proflavine, diikuti dengan penyinaran sinar fluoresensi (20-30 watt) untuk 10-15 menit dengan jarak 15-20 cm
Kondiloma akuminatum
Kondolima akuminatum berbentuk sebagai kembang kubis (cauliflower) dengan ditengahnya jaringan ikat dan ditutup terutama di bagian atas oleh epitel dengan hiperkeratosis. Penyakit terdapat dalam bentuk kecil dan besar, sendirian atau dalam suatu kelompok. Lokasinya ialah pada berbagai bagian vulva, pada perineum, pada daerah parianal, pada vagina dan seviks uteri. Dalam hal-hal yang terakhir ini terdapat leukorea.
Adanya leukorea adalah sebab lain memudahkan tumbuhnya virus dan kondiloma akuminata. Kelainan ini sering ditemukan pada kehamilan karena lebih banyak vaskularisasai dan cairan pada jaringan. Umumnya diagnosis kondiloma akuminata tidak sukar dibuat, dan dapat dibedakan dari kondilomata lata, suatu manifestasi dari sifilis.
Kondiloma akuminatum yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10% podofilin dalam gliserin atau dalam alkohol. Pada waktu pengobatan daerah sekitarnya harus dilindungi dengan vaselin, dan setelah beberapa jam tempat pengobatan harus dicuci dengan air dan sabun.
Vulvitis diabetika
Pada Vulvitis diabetika Vulva merah dan sedikit membengkak. Keluhan terutama rasa gatal, diseratai rasa nyeri. Jaringan pada penderita diabetes mengandung kadar glukosa yang lebih tinggi, dan air kencing dengan glukosuria menjadi penyebab peradangan. Oleh karena itu pada penderita dengan vulvitis yang sebabnya tidak terang, perlu dipikirkan adanya diabetes. Vulvitis diabetika kadang-kadang dapat disertai dengan moniliasis.
Vagina
Umumnya vaginitis nonspesifik dapat disembuhkan dengan antibiotika. Selain itu, terdapat vaginitis karena trikomonas vaginalis, kandida albikans, dan hemofilis vaginalis. Perlu dikemukakan disini bahwa pada masa dewasa vagina lebih tahan terhadap infeksi-infeksi, terutama gonorea, pada masa sebelum pubertas dan setelah menopause vagina lebih peka terhadap infeksi. Vaginitis biasanya disertai oleh vulvitis
Vulvovaginitis
Vulvovaginitis ini disebabkan oleh trikomonas vaginalis. Trikomonas dapat ditemukan dalam jumlah kecil dalam vagina tanpa gejala apapun, akan tetapi dalam beberapa hal yang ada hubungannya dengan perubahan kondisi lingkungan, jumlah dapat bertambah banyak dan menimbulkan radang. Peterson melaporkan bahwa 24,6% dari apusa vagina yang diambil secara rutin pada penderita obstetri dan ginekologi menunjukan adanya trikomonas vaginalis.
Etiologi Vulvovaginitis : 1. Bakteri : Synergistic bacterial infection
(bacterial vaginosis)
2. Jamur : - Candida Vulvovaginitis
- Cyclic Vulvovaginitis
3. Parasit : Trikomoniasis

INSIDEN

Bakteri Vaginosis ? 40 - 50 % pada masa reproduksi
10 – 40 % sisanya
75 % dari wanita pernah mengalami kandidiasis paling tidak minimal satu kali. 24,6 % dari apusan vagina yang diambil secara rutin pada penderita obstetri dan ginekologi menunjukan adanya trikomonas vaginalis.

Symptom Vulvovaginitis
? Bakterial Vaginosis
Sekitar 50 % dari wanita dengan bakterial vaginosis tidak memiliki gejala-gejala utama bakterial vaginosis :
- Discharge ”Fishly Smelling”, yang lebih terasa setelah melakukan hubungan seksual dan menstruasi.
- Discharge berwarna putih susu atau abu-abu, encer, timbul rasa gatal dan terbakar.

? Candida Vulvovaginitis
Gejala : - Gatal
- Rasa perih
- Saat melakukan hubungan seksual terasa sakit
- Discharge vagina kental, putih, berbutir-butir (”like cottage
cheese”).

? Cyclic Vulvovaginitis
Kadang asimptomatis
Vaginal discharge sedikit
Nyeri setelah berhubungan seksual

? Trikomonas
Seperti sexual transmitted disease lainya yang sering terjadi tanpa gejala, trikomonas juga sering tanpa gejala, tapi jika ada gejala biasanya akan muncul hari ke 4 – 20 setelah infeksi.
Gejala : - Disuria
- Dispareunia
- Discharge berwarna kuning kehijauan dan berbuih
- Discharge khas berbau tidak sedap
- Pada beberapa kasus ditemukan adanya pendarahan pada vagina

? Atrofik Vaginitis
Gejala : - Dispareunia
- Kering
- Perih dan gatal
- Flek
- Jika terkena selaput lendir uretra menyebabkan disuria dan
hematuria.
- Mukosa vagina pucat41
- Rugae vagina menghilang, kering dan saat pemeriksaan inspekulo
terasa perih.

? Allergic Vaginitis / Irritan
Gejala : - Vulva pruritus
- Erythema
- Oedem
Pada umumnya symptom vulvovaginitis :
- Fluor albus
- Gatal
- Iritasi
- Bau busuk
- Rasa tidak enak / nyaman di abdomen bawah
- Disuria (jika mengenai endotel uretia)
- Suprapubik tidak nyaman
DIAGNOSA
Diagnosa ditegakkan berdasarkan :
1. Anamnesa : - Riwayat hubungan seksual dengan gejala tertentu
- Umur, jika > 45 tahun ? kemungkinan masalah hormonal
yang disebabkan oleh menopause
- Pekerjaan
2. Pemeriksaan :
a. Dari introitus vagina : - mungkin eritema vulva
- oedem labia
- keputihan ? pasti ada infeksi
- kemerahan ? dapat infeksi, tumor, atau
gangguan hormonal dan kehamilan
b. Spekulum : - Mungkin ada warna kemerahan difus, radang
mukosa vagina dengan sekret vagina kental atau
encer dan berbau
- Atau mungkin terdapat sekret kental, putih dan
”chessy” serta rasa yang sangat gatal pada
vulva ? khas candidiasis
c. Preparat langsung : Swab vagina yang langsung dipoleskan pada objek glass.
- terlihat gambaran hifa tipis ? candida
- terlihat gambaran flagel ? trikomonas
Swab cervix atau uretra ? untuk kultur N. gonorrhoe.
Swab endocervix ? untuk chlamydia.
d. Kertas indikator pH
e. Pemeriksaan bimanual
f. Pemeriksaan urine

? Bakterial vaginosis
Dipakai “Amsel’s criteria” untuk menegakkan diagnosa bakterial vaginosis :
- Discharge tipis, keputihan seperti susu, lengket ke vagina
- Terdapat bau amis
- pH > 4,5
- Terdapat clue cells
? Candida vulvovaginitis
Diagnosa berdasarkan : - pH : 4 – 4,5 (pH vagina normal)
- Terdapat sel-sel jamur

? Trikomonas
Diagnosa berdasarkan : - Labia oedem sehingga menutup, merah, gatal, terdapat iritasi (bekas garukan)
- Discharge dapat kental atau encer dan berbau
- Mikroskopik ? ditemukan parasit berflagel
kadang-kadang candidiasis dan trikomonas dapat ditegakkan pada pemeriksaan papsmear.

PENGOBATAN
? Bakterial vaginosis
Wanita dengan gejala diobati dengan metronidazol atau dengan clyndamycin. Obat tersebut dapat berbentuk pil per oral atau gel, cream untuk topikal. Wanita hamil dengan gejala harus diobati, karena jika radang tidak diobati akan menular ke atas ? terjadi amnionitis ? ketuban pecah dini. Jika sudah diobati tapi tidak ada penyembuhan ? periksa pasangannya.
? Candida vulvovaginitis
Diobati dengan miconazole cream / gel / suppositoria atau dengan clotrimazole 200 mg vaginal suppositoria selama 3 hari dimasukkan ke dalam vagina.
Oral : - Fluconazole - Miconazole
- Butoconazole - Ticonazole
- Clotrimazole
Kebanyakan dipakai 1 sampai dengan beberapa hari ? sudah efektif
Pada wanita hamil beri ½ dosis oral atau 2 kali dosis topikal dan clotrimazole.

? Recurrent vaginal candidiasis
Wanita yang mengalami ini diobati selama beberapa minggu, dilanjutkan dengan terapi pencegahan. Untuk itu obat yang diberikan ? anti fungi :
- Butoconazole
- Terconazole ? sebanyak 5 gram dalam bentuk krim pada aplikator, dipakai 4 kali sehari selama 3 – 7 hari.
Untuk mengembalikan ekosistem vagina menjadi normal, maka wanita tersebut diberi edukasi untuk menjaga hygiene yang baik dan mencegah/menghindari kelembapan.
Kontrol dan hindari stress.
? Trikomonas
Diobati dengan dosis tinggi dan dosis tunggal dari metronidazol 2000 mg (cukup 1 x) atau dengan dosis kecil 500 mg (2x sehari selama 7 hari).
Pada trimester I kehamilan, maka diberikan obat dalam bentuk clotrimazole (lebih aman daripada metronodazole) 100 mg vaginal suppositoria selama seminggu.
? Cyclic vulvovaginitis
- Tercanozole/clotrimazole cream
Selama 10 hari, 4 x sehari.
Dimasukkan ½ krim ke dalam aplikator untuk 2 – 4 bulan.
- Fluconazole 150 mg
Tiap seminggu selama 2 bulan atau sebulan 2 x selama 2 – 4 bulan.
- Calcium citrat oral 200 mg 2 x sehari.

? Atrofik vaginitis
Lokal : estrogen krim dimasukkan ke vagina setiap 2 hari. Bagi wanita yang tidak bisa menerima estrogen, maka dilakukan lubrikas pada vagina dalam bentuk jell.
? Allergic vaginitis / Irritan
- Hindari/singkirkan allergen.
- Kortikosteroid.
? Modifikasi diet dan suplemen nutrisi
Diet dengan balance yang baik antara lemak dan gula.
L. Acidophillus dapat diberi secara oral dalam bentuk yogurt atau kapsul.
? Pencegahan
Hindari douching (berendam susu, madu di bath tube)
Keringkan vagina sesudah mandi
Sesudah defekasi bersihkan dari arah depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman intestinal ke vagina.
Aplikator spermisid, diafragma, cervical caps harus selalu dibersihkan.
Jika ragu-ragu, maka pasangan dianjurkan memakai kondom untuk mencegah sexual transmitted disease.
? Komplikasi
Bakterial vaginosis :
- Persalinan prematur
- Infeksi naik ke atas ? terjadi amnionis ? ketuban pecah dini ? partus prematur.
Trikomoniasis :
- Dapat menyebabkan prematuritas.
- Meningkatkan resiko transmisi HIV.
? Pragnosis
- Sympton ringan ? pragnosis baik jika segera diobati.
- Jika telat diobati ? keadaan memberat, dapat menyebabkan pelvic inflamatori disease, atau penyebaran infeksi HIV.

Kandidiasis
Kandidiasis disebabkan oleh infeksi dengan kandida albikans, suatu jenis jamur gram positif yang mempunyai benang-benang pseudomiselia yang terbagi-bagi dalam kelompok blastopores. Jamur ini tumbuh baik dalam suasana asam (pH 5.0 – 6.5) yang mengandung glikogen; ia dapat ditemukan dalam mulut, daerah-daerah perianal dan vagina tanpa menimbulkan gejala. Ia dapat tumbuh dengan cepat dan menyebabkan vaginitis pada wanita hamil, wanita yang minum pil kontrasepsi hormonal, wanita yang diberi terapi antibiotika berspektrum luas, wanita dengan diabetes, dan wanita dengan kesehatan yang mundur.vulvovagninitis karena infeksi dengan kandida albikans menyebabkan leukorea berwarna keputih-putihan dan perasaan sangat gatal. Faktor lain yang dapat menyebabkan kandidiasis termasuk : diabetes,kehamilan,penggunaan Antihistamin(obat yang biasa dipakai untuk mencegah alergi dan gatal)dan besi,asam folat ,vitamin B12,atau kekurangan Zinc.Faktor yang dapat melemahkan sistem imun dari kemoterapi karsinoma sampai stress dan depresi dapat juga sebabkan kandidiasis.Celana ketat dan reaksi terhadap bahan kimia pembuat sabun dan detergent dapat juga menyebabkan kandidiasis vagina.
Pada pemeriksaan ditemukan radang vulva dan vagina, pada dinding sering juga terdapat membran-membran kecil berwarna putih, yang jika diangkat meninggalkan bekas yang agak berdarah.
Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti trikomonas vaginalis; pada sediaan tampak Namun di tengah-tengah leukosit. Dapat pula usapan di atas gelas objek dengan cara Gram.

Terapi
NAMA OBAT
DOSIS KETERANGAN

TOPIKAL
Butoconazole 2% cream 5 gr selama 3 hari Dapat diperoleh ditoko obat.Dapat merusak latex kondom & diafragma
Clotrimazole(Lotrimin) 1% cream 5 gr selama 7-14 hari Dapat diperoleh ditoko obat.Dapat merusak latex kondom & diafragma
Clotrimazole(Mycelex) 100mg vaginal tablet 1×100mg selama 7hari atau 2×100mg selama 3hari
Clotrimazole(Mycelex) 500mg vaginal tablet Single dose
Miconazole(Monistat) 2% cream 5gr selama 7 hari Dapat diperoleh ditoko obat.Dapat merusak latex kondom & diafragma
Miconazole(Monistat) 200mg vaginal suppositoria 1x/hr selama 3hari Dapat diperoleh ditoko
Miconazole(Monistat) 100mg vaginal suppositoria 1x/hr selama 7hari Dapat diperoleh ditoko
Miconazole(Monistat) 1200mg vaginal suppositoria Single dose
Tioconazole(Vagistat) 300mg, salep A Single dose Dapat diperoleh ditoko
Terconazole(Terazole 7) 0,4% cream 5gr selama 7 hari Dapat merusak latex kondom & diafragma
Terconazole(Terazole 3) 0,8% cream 5gr selama 3 hari Dapat merusak latex kondom & diafragma
Terconazole(Terazole 3) 80mg vaginal suppositoria 1x/hr selama 3hari
TERAPI ORAL
Fluconazole(Diflucan) 150mg 1x Tidak direkomendasikan untuk wanita hamil;kadang- kadang digunakan perminggu sebagai pencegahan.
TERAPI LAIN
Nystatin vaginal tablet (Mycostatin)
Dipakai pada daerah yang sakit 2x/hr selama 3 hari Dapat diperoleh ditoko.Dapat digunakan untuk infeksi yang rekuren (digunakan tiap 7hari selama 1 bulan); Penggunaan yang tidak teratur dapat menyebabkan radang vagina; Jangan melakukan hubungan seks atau pakai kondom.

Pengobatan dengan gentian violet 5-1% Semarang tidak banyak dilakukan oleh karena mewarnai pakaian. Obat yang memberi hasil baik ialah Nystatin, suatu antibiotika dihasilkan oleh Streptomises moursei (formula C46 – H 77 No.19). Yang banyak dipakai ialah tablet vaginal Mycostatin (10.000 unit) dimasukan dalam vagina 1 sampai 2 tablet selama 14 hari. Pemakaian Mycostatin per os untuk kandida yang masih bersarang dalam traktus sigestivus. Untuk minggu sebelum haid selama beberapa bulan
Hemofilus vaginalis vaginitis
Sembilan puluh persen dari kasus-kasus yang dahulu disebut vaginitis nonspesifik kini ternyata disebabkan oleh hemofilus vaginalis , suatu basil kecil yang gram negatif. Gejala vaginitis ialah leukorea yang berwarna putih bersemu kelabu, kadang-kadang kekuning-kuningan dengan bau yang kurang sedap. Vaginitis ini menimbulkan pula perasaan sangat gatal. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual.
Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti yang digambarkan pada pemeriksaan trikomonas vaginalis.

SERVIKS UTERI
Serviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman ke dalam genitalia interna. Dalam hubungan ini pada seorang nullipara dalam keadaan normal kanalis servikalis bebas kuman, pada seorang multipara dengan ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka, batas ke atas dari daerah bebas kuman ialah ostium uteri internum.
Radang pada serviks uteri bisa terdapat pada porsio uteri di luar ostium uteri eksternum dan/atau pada endoserviks uteri.
Pada beberapa penyakit kelamin, seperti gonorea, sifilis, ulkus molle dan granuloma inguinale, dan pada tuberkulosis, dapat ditemukan radang pada serviks.
Servisitis akuta
Servisitis akuta dalam pengertian yang lazim ialah infeksi yang diawali di endoserviks dan ditemukan pada gonorea, dan pada infeksi post abortum atau post partum, yang disebabkan oleh streptokokus, stafilokokus dan lain-lain. Dalam hal ini serviks merah dan membengkak dengan mengeluarkan cairan mukopurulen. Akan tetapi gejala-gejala pada serviks biasanya tidak seberapa tampak di tengah gejala-gejala lain dari infeksi yang bersangkutan.
Pengobatan dilakukan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau menjadi servisitis kronika.
Servisitis kronika
Penyakit ini dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil atau besar pada serviks karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman ke dalam endoserviks dan kelenjar-kelenjarnya, lalu menyebabkan infeksi menahun.

Beberapa gambaran patotogis dapat ditemukan.
1. Serviks kelihatan normal; hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma endoserviks. Servisitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran sekret yang agak putih-kuning.
2. Di sini pada porsio uteri & sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel porsio di sekitarnya, sekret yang dikeluarkan terdiri atas mukus bercampur nanah.
3. Sobekan pada serviks uteri di sini iebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan dari luar (ekstropion). Mukosa dalam keadaan demikian mudah kena infeksi dari vagina. Karena radang menahun, serviks bisa menjadi hipertrofis dan mengeras; sekret mukopurulen bertambah banyak.
Terapi
Pengobatan lokal dengan obat-obat tinktura jodii, larutan nitras argenti dan sebagainya tidak dapat menyembuhkan servitis kronika, oleh karena tidak dapat mencapai kuman-kuman yang bersarang di dalam kelenjar-kelenjar. Pengobatan yang baik ialah dengan jalan kausteriasasi-radial dengan termokauter, atau dengan krioterapi.
KORPUS UTERI
Uterus, tuba Falloppii, ovarium, pembuluh-pembuluh darah dan limfe, jaringan ikat di sekitarnya, dan peritoneum yang menutupi alat-alat tersebut di atas, merupakan kesatuan fungsional. Radang dapat menyebar dengan cepat dari kavum uteri ke seluruh genitalia interna. Radang endometrium dinamakan endometritis, radang otot-otot uterus miometritis atau metritis, dan radang peritoneum di sekitar uterus perimetritis. Radang uterus yang akut biasanya akibat infeksi gonorea, atau akibat infeksi pada abortus atau infeksi puerpural.

Endometritis akuta
Pada endometritis akuta endometrium mengalami edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi, edema, dan infiltrasi leukosit berinti polimoni yang banyak, serta perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus.
Infeksi gonorea mulai sebagai servisitis akuta, dan radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis akuta. Infeksi gonorea akan dibahas secara khusus, dan oleb sebab itu tidak dibicarakan lebib lanjut di sini.
Infeksi post abortum dan post partum sering terdapat oleh karena luka-luka pada serviks uteri, luka pada dinding uterus bekas tempat plasenta, yang merupakan porte d’entree bagi kuman-kuman patogen. Selain in, alat-alat yang digunakan pada abortus dan partus dan tidak sucihama dapat membawa kuman-kuman ke dalam uterus.
Sebab lain endometritis akuta ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti kerokan, memasukkan radium ke dalam uterus, memasukkan IUD (intra-uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya.
Eadometritis kronika
Eadometritis kronika tidak seberapa sering terdapat, oleh karena infeksi yang tidak dalam masuknya pada miometrium, tidak dapat mempertahankan diri, karena pelepasan lapisan fungsional dan endometrium pada waktu haid. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit. Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium.
Gejala-gejala klinis endometritis kronika ialah, leukorea dan menoragia. Pengobatannya tergantung dari penyebabnya.
Endometritis knonika ditemukan:
a. pada tuberkulosis;
b. jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus;
c. jika terdapat korpus alienum di kavum uteri;
d. pada polip uterus dengan infeksi;
e. pada tumor ganas uterus;
f. pada salpingo-ooforitis dan sellulitis pclvik.
Piometra
Piometra ialah pengumpulan nanah di kavum uteri karena stenosis kanalis servikalis oleh salah satu sebab, seperti karsinoma servisis uteri, amputasi serviks, akibat radiasi, endometritis tuberkulosa, dan penutupan ostium uteri internum karena involusi uterus sesudah menopause. Piometra terdapat lebih banyak pada wanita di sekitar dan sesudah menopause. Karena kekurangan estrogen endoimetrium menipis, dan resistensi yang berkurang terhadap kuman-kuman dari vagina menyebabkan endometritis senilis menahun.
Diagnosis dapat dibuat jika pada pemasukan sonde uterus keluar banyak cairan bernanah.
Metritis
Metritis atau miometritis adalah radang miometrium. Metritis akuta biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut.
Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis, dan kadang-kadang dapat terjadi abses.

Metritis kronika
Metritis kronika adalah diagnosis, yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari biasa, sakit pinggang, dan leukorea. Akan tetapi pembesaran uterus pada seorang multipara umumnya disebabkan oleh penambahan jaringan ikat akibat kehamilan, sedang gejala-gejala yang lain mungkin mempunyai sebab lain.
Perimetritis
Perimetritis ialah radang serosa yang meliputi uterus. Radang ini merupakan bagian dari radang peritoneum pelvik, dan oleh karena itu tidak memerlukan pembahasan tersendiri

ADNEKSA DAN JARINGAN DI SEKITARNYA
Salpingo-ooforitis atau adneksitis
Radang tuba Falloppii dan radang ovarium biasanva terjadi bersamaan. Oleh sebab itu tepatlah nama salpingo-ooforitis atau adneksitis untuk radang tersebut. Radang itu kebanyakan akibat infeksi yang menjalar ke atas walaupun infeksi ini juga bisa datang dari tempat ekstra-vaginal liwat jalan darah, atau menjalar dari jaringan-jaringan di sekitarnya.
Di antara sebab-sebab yang paling banyak terdapat ialah infeksi gonorea dan infeksi puerperal dan postahortum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberkulosis. Selanjutnya bisa timbul radang adneksa sebagai akibat tindakan (kerokan, laparotomi, pemasangan IUD, dan sebagainya) dan perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks.
Salpingo-ooforitis akuta
Salpingo-ooforitis akuta yang disebabkan oleh gonorea sampai ke tuba dari uterus melalui mukosa. Pada endosalping tampak edema serta hiperemi dan infiltrasi leukosit; pada infeksi yang ringan epitel masih utuh, tetapi pada infeksi yang lebih berat kelihatan degenerasi epitel yang kemudian menghilang pada daerah yang agak luas, dan ikut juga terlihat lapisan otot dan serosa. Dalam hal yang akhir ini dijumpai eksudat purulen yang dapat keluar meialui ostium tuba abdominalis dan menyebabkan peradangan di sekitarnya (peritonitis pelvika).
Salpingitis akuta piogenik banyak ditemukan pada infeksi puerpural atau pada abortus septik, akan tetapi dapat disebabkan pula sebagai akibat berbagai tindakan, seperti kerokan. Infeksi dapat disebabkan oleh bermacam-macam kuman, scperti Streptokokus (aerobik dan anaerobik), Stafilokokus, Escheria koli, Klostridium welchii, dan lain-lain. Infeksi ini menjalar dari serviks uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba, dan dapat pula ke peritoneum pelvik.
Gambaran klinik salpingo-ooforitis akuta ialah demam, dan rasa nyeri di sebelah kanan atau kiri uterus; penyakit tersebut tidak jarang terdapat pada kedua adneksa. Setelah liwat beberapa hari dijumpai pula tumor dengan batas yang tidak jelas dan yang nyeri tekan.
Diagnosis diferensial ialah dengan apendisitis akuta, pielitis akuta, torsi adneksa dan kehamilan ektopik yang terganggu. Biasanya lokasi nyeri tekan pada appendisitis akuta (pada titik Mac Burney) lebih tinggi daripada adneksitis akuta, akan tetapi apabila proses agak meluas perbedaan menjadi kurang jelas. Jika terdapat keragu-raguan, perlu diadakan laparotomi percobaan, agar dapat dicegah peritonitis umum karena appendisitis akuta.
Tetapi pada salpingo-ooforitis akuta terdiri atas istirahat baring, perawatan umum, pernberian antibiotika dan analgetika.
Salpingo-ooforitis kronika
Dapat diadakan pembagian antara:
a. hidrosalping;.
b. piosalping;
c. salpingitis interstisialis kronika;
d. kista tubo-ovarial, abses tubo-ovarial;
e. abses ovarial;
f. salpingitis tuberkulosa
Pada hidrosalping terdapat penutupan osnum tuba abdominalis. Sebagian dari epitel mukosa tuba masih berfungsi dan mengeluarkan cairan dengan akibat retensi cairan tersebut dalarn tuba.
Piosalping dalam stadium menahun merupakan kantong dengan dinding tebal yang berisi nanah. Pada piosalping biasanya terdapat perlekatan dengan jaringan di sekitarnya.
Pada salpingitis interstisialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit di tengah-tengah janingan otot. Terdapat pula perlekatan dengan jaringan-jaringan di sekitarnya, seperti ovarium, uterus dan usus. Salah satu jenis ialah salpingitis isthmika nodosa.
Pada kista tubo-ovariaI, hidrosalping bersatu dengan kista folikel ovarium, sedang pada abses tuho-ovarial piosalping bersaru dengan abses ovarium. Abses ovarium yang jarang terdapat sendiri, dari stadium akut dapat memasuki stadium menahun.
Salpingitis tuberkulosa merupakan bagian penting dari tuberkulosis genital. Gejala-gejala salpingo-ooforitis kronika tidak selalu jelas; penyakir bisa didahu!ui o!eh gejala-gejala penyakit akut dengan panas, rasa nyenr cukup kuat di perut bagian bawah, akan tetapi bisa pula dari permulaan sudah subakut atau menahun.
Terapi
Jika penyakitnya masih dalam keadaan subakut, penderita harus diberi terapi dengan antibiotika dengan spektrum luas.
Terapi operatif mempunyai tempat pada salpingo-ooforitis kronika. Indikasi untuk terapi ini ialah:
1. apabila — setelah berulang kali dilakukan terapi dengan diatermi — keluhan tetap ada, dan mengganggu kehidupan sehari-hari;
2. apabila tiap kali timbul reaktivisasi dan proses radang;
3. apabila ada tumor di sebelah uterus, dan setelah dilakukan beberapa seri terapi diatermi tumor tidak mengecil, sehingga timbul dugaan adanya hidrosalping, piosalping, kista tubo-ovarial, dan sebagainya;
4. apabila ada infertilitas yang sebabnya tenletak pada tuba

DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono Prawirohardjo, Prof, dr, DSOG dan Hanifa Wiknjosastro, Prof, dr, DSOG; Ilmu Kandungan, YBP-SP, Edisi ke dua, estacan ke tiga, FKUI, Yakarta; 1999, Hal 271 -27-
2. Robbins L., M.D; Buku Ajar Patologi II, Edisi ke empat, cetakan pertama. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta; 1995, Hal. 372-377.
3. Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti,DR ; Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi ke tiga, cetakan pertama, FKUI, Jakarta ; 1987, Hal. 103-106, 358-364.
4. Winkosastro Hanifa, Prof, dr, DSOG ; Ilmu Kebidanan YBP-SP, Edisi ketiga, cetakan ke enam, FKUI, Jakarta ; 2002. Hal:406-410.
5. Cuningham, Macdonald Gant : William Obstetri, Edisi 18, EGC, Jakarta; 1995, Hal: 1051-1057.
6. http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0304_keputihan.htm
7. http://www.tabloid-akita.cpm/artikel.php3.dedui=02059&rubrik=kecil
8. http://www.google com/leuko

XEROFTALMIA

Posted on by diyoyen.
Categories: Mata.

I. Pendahuluan
Xeroftalmia adalah kelainan pada mata akibat Kurang Vitamin A (KVA). Kata xeroftalmia berarti “mata kering”, karena terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata.
Sejak 10 tahun terakhir kasus xeroftalmia di Indonesia sudah jarang ditemukan, sehingga ketika muncul kembali kasus-kasus xeroftalmia di berbagai daerah, tidak dapat segera terdeteksi karena keterbatasan kemampuan para tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil kunjungan di beberapa provinsi, menunjukkan munculnya kasus xeroftalmia pada penderita gizi buruk. Kasus xeroftalmia ditemukan mulai dari tingkat ringan sampai berat yang dapat menyebabkan kebutaan. Mengingat kasus gizi buruk masih terdapat hampir diseluruh propinsi, dikhawatirkan akan terjadi ledakan kasus xeroftalmia di Indonesia.

II. Anatomi dan Fisiologi Mata
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata dibagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Secara keseluruhan struktur mata terdiri dari bola mata, termasuk otot-otot penggerak bola mata, rongga tempat mata berada, kelopak, dan bulu mata.
Bola mata di bungkus oleh tiga lapis jaringan, yaitu (Vaughan, 2000):
1. Sklera merupakan jaringan ikat kenyal memberikan bentuk pada mata,dan bagian luar yang melindungi bola mata. Bagian depan disebut kornea yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata.
2. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskuler. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa di sebut juga perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea terdiri atas iris, badan sillier dan koroid.
3. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang mempunyai susunan 10 lapis. Retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasi retina.

II.1. KORNEA
Kornea (latin cornum= seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan terdiri atas lapis (Vaughan, 2000);

1. Epitel
? Tebalnya 50µm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih, yaitu sel basal, sel poligonal, sel gepeng.
? Sel basal sering terlihat mitosis sel.
? Sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel poligonal didepannya melalui dermosom dan makula okluden, ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.
? Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
? Epitel berasal dari ektoderm permukaan.
2. Membran Bowman
? Terletak dibawah membrane basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
? Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi

3. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen. Pada permukaan terlihat seperti anyaman yang teratur. Keratosit merupakan sel stroma kornae yang merupakan fibroblast

4. Membrane Descemet
? Merupakan membrane aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea yang dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.
? Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup.

5. Endotel
Berasal dari mesotelium, melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden.
Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquaeus dan air mata. Kornea superfisial juga mendapatkan oksigen sebagian besar dari atmosfer. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari percabangan pertama (oftalmika) dari nervus kranialis V (trigeminus). Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.

Gambar 1. Lapisan Kornea
Sumber : Netter (1995).

II.2. UVEA
Uvea terdiri dari iris, korpus silier dan khoroid. Bagian ini adalah lapisan vascular . tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sclera (Vaughan, 2000);
1. Iris
Merupakan lanjutan dari badan siliar kedepan dan merupakan diafagma yang membagi bola mata menjadi dua segmen anterior dan segmen posterior. Berbentuk sirkular yang ditengah- tengahnya berlubang yang disebut pupil.
Secara histologi iris terdiri dari stroma yang jarang dan diantaranya terdapat lekukan-lekukan yang berjalan radier yang disebut kripta. Di dalam stroma terdapat sel pigmen yang bercabang, banyak pembulluh darah dan serat saraf . dipermukaan anterior ditutup oleh endotel terkecuali kripta, dimana pembuluh darah dalam stroma dapat berhubungan langsung dengan cairan coa, yang memungkinkan cepatnya terjadi pengaliran makanan ke coa dan sebaliknya.
Di bagian posterior dilapisi oleh dua epitel yang mrupakan lanjutan dari epitel pigmen retina. Permukaan depan iris warnanya sangat bervariasi tergantung pada sel pigmen yang bercabang yang terdapat didalam stroma.
Jaringan otot iris tersusun longgar dengan otot polos yang melingkar pupil (m. Sfingter pupil) terletak di dalam stroma dekat pupil dan di atur oleh saraf parasimpatis (N. III) dan yang berjalan radial dari akar iris ke pupil (m. dilatator pupillae) terletak di bagian posterior stroma dan diatur oleh saraf simpatis (Vaughan, 2000).
Iris menipis didekat perlekatannya di badan siliar dan menebal didekat pupil. Pembuluh darah disekitar pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat badan siliar disebut sirkulus mayor. Iris dipersarafi oleh nervus nasosiliar cabang dari saraf cranial III yang bersifat simpatis untuk midriasis dan parasimpatis untuk miosis.
Pupil bekerja sebagai apertura di dalam kamera. Dalam keadaan radang, didapatkan iris menebal dan pupil mengecil. Dalam keadaan normal pupil sentral bulat, isokor (sama kanan dan kiri), reaksi cahaya langsung dan tidak langsung positif. Reaksi pupil ada tiga, yaitu reaksi cahaya langsung dan tidak langsung, reaksi terhadap titik dekat, dan terhadap obat-obatan.
2. Badan Siliar
Berbentuk segitiga terdiri dari dua bagian, yaitu (Vaughan, 2000):
? Pars korona, pada bagian anterior bergerigi panjangnya kira-kira 2mm
? Pars plana, yang posterior tidak bergerigi, panjangnya 4mm
Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid terdiri atas otot siliar dan prosesus siliar. Otot siliar berfungsi untuk akomodasi. Jika otot ini berkontraksi ai menarik prosesus siliar dan koroid kedapan dan ke dalam, mengendorkan zonula zinni sehingga lensa menjadi lebih cembung.
Radang pada badan siliar akan mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di daerah limbus yang akan mengakibatkan mata merah yang merupakan gambaran khas peradangan intraokular.
Prosesus siliar menghasilkan cairan mata yaitu, akueous humour yang mengisi bilik mata depan. Yang berfungsi memberi makanan untuk kornea dan lensa. Pada peradangan akibat hiperemi yang aktif, maka pembentukan cairan mata bertambah sehingga dapat menyebabkan tekanan intraokuler meninggi dan timbullah glukoma sekunder. Bila peradangan hebat dan merusak sebagian badan siliar maka produksi akueous humour berkurang, tekanan berkurang dan berakhir sebagai atrofi bulbi okuli (Sidarta dan Ilyas, 2005).
3. Koroid
Koroid merupakan suatu membran yang berwarna cokelat tua, yang terletak diantara sklera dengan retina terbentang dari ora serata sampai ke papil saraf optik. Koroid terdri dari beberapa lapisan, yaitu;
? Lapisan epitel pigmen
? Membran Bruch (lamina vitrea)
? Koriokapiler
? Pembuluh darah sedang dan pembuluh darah besar
? Suprakoroid
Lapisan suprakoroid terdiri dari lapisan protropoblas yang mengandung nukleus. Membran bruch merupakan membran yang tidak berstruktur. Pembuluh darah besar kebanyakan terdiri dari pembuluh balik yhang kemudian bergabung menjadi empat vena vortikosa, yang keluar dari tiap kuadran posterior bola mata yang menembus sclera (Sidarta dan Ilyas, 2005).
Pembuluh darah arteri berasal dari arteri siliais brevis yang mengandung serat elastis dan khromatofor. Koroid melekat erat pada pinggir N.II dan berakhir di oraserata.

II.3. LENSA
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan hampir transparan sempurna. Tebalnya kira-kira 4mm dan diameternya 9mm. Lensa digantung oleh zonula, yang menghubungkannya dengan korpus silier. Di bagian anterior lensa terdapat humor aquaeus, disebelah posteriornya vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membran yang semi permiabel (sedikit lebih permeabel dari pada dinding kapiler) yang akan memperoleh air dan elektrolit masuk (Sidarta dan Ilyas, 2005).
Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamentum yang dikenal sebagai zonula (zonula zinnii), yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliare dan menyisip ke dalam ekuator lensa.
Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu (Sidarta dan Ilyas, 2005);
? Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung.
? Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan
? Terletak ditempatnya.
Keadaan patologik lensa ini dapat berupa :
? Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia
? Keruh atau apa yang disebut katarak
? Tidak berada ditempat atau subluksasi dan dislokasi.

Gambar 2. Lensa Mata dakam Posisi Horizontal
Sumber : Netter (1995).

II.4. RETINA
Retina adalah selapis lembar tipis jaringan saraf yang semi transparan. Retina merupakan reseptor yang menerima rangsangan cahaya. Retina berbatas dengan koroid dan sel pigmen epitel retina, dan terdiri atas lapisan (Sidarta dan Ilyas, 2005);
? Membrana limitans interna
? Lapisan serat saraf yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju kenervus optikus.
? Lapisan sel ganglion
? Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan-sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar
? Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal
? Lapisan pleskiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungan sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor
? Lapisan inti luar sel fotoreseptor
? Membran limitans eksterna
? Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut
? Epitelium pigmen retina
Warna retina biasanya jingga dan kadang-kadang pucat pada anemia dan iskemia dan merah pada hiperemia.
Pembuluh darah di dalam retina merupakan percabangan arteri oftalmika, arteri retina sentral masuk retina melalui papil saraf optik yang akan memberikan nutrisi pada retina dalam. Lapisan luar retina atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari koroid.

III. XEROFTALMIA
III.1. Definisi
Xeroftalmia adalah kelainan mata akibat kekurang vitamin A. Sebelum terdeteksi menderita xeropthalmia, biasanya penderita akan mengalami buta senja. Gejala xeropthalmia terlihat pada kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata. Kekeringan berlarut-larut menyebabkan konjungtiva menebal, berlipat-lipat, dan berkerut. Selanjutnya pada konjungtiva akan tampak bercak putih seperti busa sabun (bercak Bitot).
Selanjutnya, kornea akan melunak dan terjadi luka (tukak kornea). Jika kornea telah putih atau bola mata mengempis terjadi kebutaan permanen yang tak bisa dipulihkan lagi.
III.2. Etiologi
Xeroftalmia disebabkan oleh kekurangan vitamin A yang dipicu oleh kondisi gizi kurang atau buruk. Kerap terjadi pada bayi lahir berat badan rendah, gangguan akibat kurang yodium (GAKY) serta anemia gizi ibu hamil.
Kelompok rentan xeroftalmia adalah anak dari keluarga miskin, anak di pengungsian, anak di daerah yang pangan sumber vitamin A kurang, anak kurang gizi atau lahir dengan berat badan rendah, anak yang sering menderita penyakit infeksi (campak, diare, tuberkulosis, pneumonia) serta cacingan serta anak yang tidak mendapat imunisasi serta kapsul vitamin A dosis tinggi.
Defisiensi vitamin A awalnya merupakan ancaman yang tidak kelihatan, yang apabila tidak ditangani dapat menyebabkan hilangnya penglihatan seseorang terutama pada anak-anak. Dampak selanjutnya adalah ketika mereka tidak lagi bisa melihat pada cahaya yang suram dan akan menderita penyakit yang disebut night blindness (buta senja) atau xerophthalmia.
Apabila penderitaan terus berlanjut konjangtiva dan cornea mata menjadi kuning) kemudian muncul bercorak pada kornea dan selanjutnya berakibat pada kebutaan yang permanen.
Penyebab utama kekurangan vitamin A adalah asupan zat gizi vitamin A (preformed retinol) atau prekursor vitamin A yang tidak mencakupi peningkatan kebutuhan vitamin A pada kondisi fisiologis dan patologis tertentu, penyerapan yang kurang kehilangan karena diare sering merupakan penyebab kekurangan vitamin A.
Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia adalah:
a. Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung cukup Vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka waktu lama
b. Bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif
c. Gangguan penyerapan vitamin A
d. Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis/diare)

III.3. Patogenesis
Terjadinya defisiensi vitamin A berkaitan dengan berbagai faktor dalam hubungan yang komplek seperti halnya dengan masalah KKP. Makanan yang rendah dalam vitamin A biasanya juga rendah dalam protein, lemak dan hubungannya antar hal-hal ini merupakan faktor penting dalam terjadinya defisiensi vitamin A.
Vitamin A merupakan “body regulators” dan berhubungan erat dengan proses-proses metabolisme. Secara umum fungsi tersebut dapat dibagi dua (i) Yang berhubungan dengan penglihatan dan (ii) Yang tidak berhubungan dengan penglihatan.
Fungsi yang berhubungan dengan penglihatan dijelaskan melalui mekanisme Rods yang ada di retina yang sensitif terhadap cahaya dengan intensitas yang rendah, sedang Cones untuk cahaya dengan intensitas yang tinggi dan untuk menangkap cahaya berwarna. Pigment yang sensitif terhadap cahaya dari Rods disebut sebagai Rhodopsin, yang merupakan kombinasi dari Retinal dan protein opsin.
Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna, makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah bintik kuning hanya ada sel konus saja.
Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap (disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat. Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin yang merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu sel konus akan menyebabkan buta warna.
Gambar 4. Peranan Vitamin A pada Proses Penglihatan

Perubahan dari rhodopsin ke retinene terjadi pada proses penglihatan: Disini mungkin rhodopsin hanya salah satu dari struktur protein yang akan menjadi stabil setelah dikombinasi dengan vitamin A.
Efek lain dari vitamin A pada penglihatan yang berpengaruh secara tidak langsung ialah pada epitel kornea dan konjungtiva. Pada keadaan defisiensi, epitel menjadi kering dan terjadi keratinisasi seperti tampak pada gambaran Xerophthalmia.
Xeroftalmia merupakan mata kering yang terjadi pada selaput lendir (konjungtiva) dan kornea (selaput bening) mata. Xeroftalmia yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kebutaan. Xeroftalmia terjadi akibat kurangnya konsumsi vitamin A pada bayi, anak-anak, ibu hamil, dan menyusui.
Patogenesis xeroftalmia terjadi secara bertahap;
1. Buta senja (XN)
Disebut juga rabun senja. Fungsi fotoreseptor menurun. Tidak terjadi kelainan pada mata (mata terlihat normal), namun penglihatan menjadi menurun saat senja tiba, atau tidak dapat melihat di dalam lingkungan yang kurang cahaya. Untuk mengetahui keadaan ini, penderita sering membentur atau menabrak benda yang berada di depannya. Jika penderita adalah anak yang belum dapat berjalan, agak susah mendeteksinya. Biasanya anak akan diam memojok dan tidak melihat benda di depannya. Dengan pemberian kapsul vitamin A maka pengelihatan akan dapat membaik selama 2 hingga 4 hari. Namun jika dibiarkan, maka akan berkembang ke tahap selanjutnya.

2. Xerosis konjungtiva (X1A)
Selaput lendir atau bagian putih bola mata tampak kering, keriput, dan berpigmentasi pada permukaan sehingga terlihat kasar dan kusam. Mata akan tampak kering atau berubah menjadi kecoklatan.

3. Xerosis konjungtiva dan bercak bitot (X1B)
X1B merupakan tanda-tanda X1A ditambah dengan bercak seperti busa sabun atau keju, terutama di daerah celah mata sisi luar. Mata penderita umumnya tampak bersisik atau timbul busa. Dalam keadaan berat, tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjungtiva (bagian putih mata), konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat, dan berkerut. Dengan pemberian vitamin A yang baik dan pengobatan yang benar, bercak akan membaik selama 2 hingga 3 hari, dan kelainan mata akan menghilang dalam waktu 2 minggu.

4. Xerosis kornea (X2)
Kekeringan pada konjungtiva berlanjut hingga kornea (bagian hitam mata) sehingga tampak kering dan suram, serta permukaan kornea tampak kasar. Umumnya terjadi pada anak yang bergizi buruk, menderita penyakit campak, ISPA, diare, dan sebagainya. Pemberian vitamin A yang benar akan membuat kornea membaik setelah 2 hingga 5 hari, dan kelainan mata akan sembuh selama 2 hingga 3 minggu.

5. Keratomalasia dan ulserasi kornea (X3A/ X3B)
Kornea melunak seperti bubur dan terjadi ulkus kornea atau perlukaan. Tahap X3A bila kelainan mengenai kurang dari 1/3 permukaan kornea. Tahap X3B bila kelainan mengenai sama atau lebih dari 1/3 permukaan kornea. Keadaan umum penderita sangatlah buruk. Pada tahap ini dapat terjadi perforasi kornea (pecahnya kornea). Bila penderita telah ditemukan pada tahap ini maka akan terjadi kebutaan yang tidak dapat disembuhkan.
6. Xeroftalmia Scars (XS)
Disebut juga jaringan kornea. Kornea mata tampak memutih atau bola mata tampak mengempis. Jika penderita ditemukan pada tahap ini, maka kebutaan tidak dapat disembuhkan.

III.4. Diagnosis
Keadaan mata yang kering seperti pada penderita xeroftalmia sering mengeluhkan adanya sensasi gatal atau rasa mata berpasir (sensasi benda asing). Gejala umum lain adalah mata sakit, merah, sensasi terbakar, sekresi mukus berlebihan, tidak mampu menghasilkan air mata, fotosensitif, dan sulit menggerakkan palpebra (Sukirman dkk, 2003).
Ciri histopatologik pada xeroftalmia termasuk timbulnya bintik-bintik kering pada kornea dan epitel konjungtiva, pembentukan filamen, hilangnya sel goblet konjungtiva, pembesaran abnormal sel epitel non goblet, peningkatan stratifikasi sel dan penambahan keratinisasi (Wjitcher and Tears, 1995).
Ciri paling khas pada pemeriksaan slitlamp adalah terputusnya meniskus air mata di tepian palpebra inferior. Benang-benang mukus kental kekuning-kuningan kadang-kadang terlihat dalam forniks konjungtiva inferior. Pada konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal dan mungkin menebal, edema dan hiperemik. Epitel kornea terlihat bertitik halus pada fissura interpalpebra. Sel-sel epitel konjungtiva dan kornea yang rusak terpulas dengan Rose Bengal 1%, dan defek epitel kornea terpulas dengan fluorescein. Pada tahap lanjut akan terlihat satu ujung pada setiap filamen melekat pada epitel kornea dan ujung lain bergerak bebas (Wjitcher and Tears, 1995).
Diagnosis penderita xeroftalmia dapat diperoleh dengan memakai cara diagnostik, seperti(Wjitcher and Tears, 1995):
1. Tes Schirmer
Tes ini dilakukan dengan mengeringkan lapisan air mata dan memasukkan strip Schirmer (kertas saring Whartman No. 41) ke dalam cul de sac konjungtiva inferior pada batas sepertiga tengah dan temporal dari palpebra inferior. Bagian basah yang terpapar diukur lima menit setelah dimasukkan. Panjang bagian basah kurang dari 10 mm tanpa anestesi dianggap abnormal (produksi air mata sedikit/berkurang).
2. Tes Break-up Time
Tes ini berguna untuk menilai stabilitas air mata dan komponen lipid dalam cairan air mata; diukur dengan meletakkan secarik kertas berfluorescein di konjungtiva bulbi dan meminta penderita untuk berkedip. Lapisan air mata kemudian diperiksa dengan bantuan filter cobalt pada slitlamp, sementara penderita diminta tidak berkedip. Selang waktu sampai munculnya titik-titik kering yang pertama dalam lapis fluorescein kornea adalah break-up time. Biasanya lebih dari 15 detik. Selang waktu akan memendek pada mata dengan defisiensi lipid pada air mata.
3. Tes Ferning Mata
Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti komponen musin air mata ; dilakukan dengan mengeringkan kerokan lapisan air mata di atas kaca obyek bersih.
4. Sitologi Impresi
Adalah cara menghitung densitas sel Goblet pada permukaan konjungtiva. Pada orang normal, populasi sel Goblet paling tinggi di kuadran infra nasal.
5. Pemulasan Fluorescein
Dilakukan dengan secarik kertas kering fluorescein untuk melihat derajat basahnya air mata dan melihat meniskus air mata. Fluorescein akan memulas daerah yang tidak tertutup oleh epitel selain defek mikroskopik pada epitel kornea.

6. Pemulasan Rose Bengal
Rose Bengal lebih sensitif daripada fluorescein. Pewarna ini akan memulas semua sel epitel yang tidak tertutup oleh lapisan musin yang mengering dari kornea dan konjungtiva.
7. Pengujian kadar lisozim air mata
Air mata ditampung pada kertas Schirmer dan diuji kadarnya dengan cara spektrofotometri.
8. Osmolalitas air mata
Hiperosmolalitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitis sicca dan pemakai lensa kontak; diduga sebagai akibat berkurangnya sensitifitas kornea. Laporan-laporan penelitian menyebutkan bahwa hiperosmolalitas adalah tes yang paling spesifik bagi kerato- konjungtivitis sicca, karena dapat ditemukan pada pasien dengan tes Schirmer normal dan pemulasan Rose Bengal normal.
9. Laktoferin
Laktoferin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan hiposekresi kelenjar lakrimal.

III.5. Klasifikasi
Untuk mengklasifikasi derajat berat ringannya dan untuk melihat prognosanya, TEN DOESCHATE membagi kelainan-kelainan defisiensi vitamin A pada mata sebagai berikut:

Tabel 1. Pembagian Kelainan Defisiensi Vitamin A pada Mata
X0 Hemeralopia X o s/d X 2 masih merupakan kelainan yang reversible dan memberi respons baik dengan penambahan vitamin
X1 Conjunctivae Xerosis/Bitot spots
X2 Xerosis cornea
X3 Keratomalacia X 3 dan X 4 berbentuk kelainan irreversible meskipun diberi pengobatan dengan massive dose vitamin A
X4 Staphyloma, phthisis bulbi

Pada Report of the international vitamin A consultative group (IVACG) 1976, yang juga digunakan oleh WHO, klasifikasi Xerophthalmia dibagi sebagai berikut :
Tabel 2. Klasifikasi Xerophtalmia menurut WHO,1976
X1 A Conjunctival xerosis
X1 B Bitot’s spot with conjunctival xerosis
X2 Corneal xerosis
X3 A Corneal ulceration with xerosis
X3 B Keratomalacia
XN Night blindness
XF Xerophthalmia fundus
XS Corneal scars
XB Bitot’s spot

Keterangan.
1. Tanda-tanda diatas lebih merupakan diskripsi dari kelainan dan bukan diagnostik. Semua tanda-tanda yang terlihat pada pemeriksaan dicatat.
2. Secara umum dapat dilihat bahwa beratnya tingkat kelainan terdapat pada klasifikasi yang ada di dalam kotak
3. Klasifikasi diatas dapat dipakai baik pada field survey maupun pada penderita di Rumah Sakit/Poliklinik
4. Pada tabulasi tanda kelainan hanya ditulis satu saja dan ditulis yang paling berat
5. Hanya Bitot’s spot dengan xerosis conjunctive biasanya pada anak 0-5 tahun merupakan gejala defisiensi vitamin A.
6. Tanda-tanda yang ditulis diluar kotak, sering berhubungan dengan gejala defisiensi vitamin A dan sebaiknya ditulis terpisah.

Kriteria untuk menentukan apakah Xerophthalmia dan defisiensi vitamin A secara nyata merupakan problem Public Health adalah sebagai berikut :
(1): X1B 2:0 %
(2). X2 + X3A + X3B 0:01 %
(3). XS 0:1 %
(4). Plasma vitamin A kurang dari 10 ug/100ml
III.5. Pencegahan Dan Pengobatan
Usaha-usaha untuk mencari pemecahan masalah vitamin A sudah dilakukan berbagai pihak dengan cara-cara pendekatan yang berbeda-beda, seperti :
1. Dengan memberikan minyak kelapa sawit ± 4 cc sehari pada anak-anak Balita; terlihat bahwa frekuensi defisiensi vitamin A menurun dan serum vitamin A meningkat dengan nyata.
2. Sejak diperkenalkan pemberian massive oral dose vitamin A pada tahun 1970, maka di Indonesia juga telah dilakukan percobaan-percobaan pemberian massive oral dose vitamin A per oral dan dapat disimpulkan bahwa pemberian 200.000 I.U. massive oral dose vitamin A dalam bentuk oil emulsion dua kali dalam satu tahun pada anak Balita atau 300.000 I.U. sekali dalam satu tahun dapat memberikan perlindungan terhadap kemungkinan defisiensi vitamin A dan juga dapat menghilangkan gejala defisiensi vitamin A.
Pengobatan xeroftalmia adalah sebagai berikut;
a. Berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral atau 100.000 IU Vitamin A injeksi.
b. Hari berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
c. 1 – 2 minggu berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
d. Obati penyakit infeksi yang menyertai
e. Obati kelainan mata, bila terjadi
f. Perbaiki status gizi

Lampiran Gambar

Figure 1: The retina (right) consisting of photoreceptors, second-order horizontal, bipolar and amacrine cells and third- order ganglion cells, lines the back of the eye (left). The axons of the ganglion cells run along the surface of the retina and form the optic nerve which carries the visual message to other parts of the brain. Light, focused by the cornea and lens, passes through the retina to be captured by the photoreceptors.

Figure 2: Scheme of the sequence of events that occurs following the absorption of a quantum of light by the rod visual pigment, rhodopsin. Light initiates the conversion of rhodopsin to retinal and opsin through a series of metarhodopsin intermediates. Metarhodopsin II is the active intermediate leading to excitation of the photoreceptor cell. Eventually, the chromophore of rhodopsin, retinal, separates from the protein opsin and is reduced to vitamin A (retinol). For the resynthesis of rhodopsin, the shape of vitamin A must be changed (isomerized) from the all-trans to the 11-cis form, and this isomerization takes place in the pigment epithelium overlying the receptors. Vitamin A is replenished in the eye by vitamin A coming from the blood

Figure 3: Summary diagram of the synaptic organization of the primate retina. R, rod; C, cone, FMB, flat midget bipolar cell; IMB, invaginating midget bipolar cell; H, horizontal cell; IDB, invaginating diffuse bipolar cell; RB, rod bipolar cell; I, interplexiform cell; A, amacrine cell; G, ganglion cell; MG, midget ganglion cell.

KEPUSTAKAAN
1. American Academy of Ophthalmology : Detached and Torn Retina, San Francisco, http://www.healthnewflash.com/.
2. Ilyas, Sidarta : Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005, Jakarta : 183-6.
3. Vaughan, Daniel G, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva : Oftalmologi Umum (General Ophthalmology), Edisi 14, Widya Medika, 2000, Jakarta : 25-6, 28, 207-8.
4. Ilyas, Sidarta, dkk : Ilmu Penyakit Mata, Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, Edisi 2, Sagung Seto, 2002, Jakarta : 4, 8-9, 189.
5. Bennett & Bloom Eye Centers, 2007, http://www.eyescenters.com/.
6. Ilyas, Sidarta : Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005, Jakarta : 103-5, 173.
7. Kanski, Jack J : Clinical Ophthalmology A Systematic Approach, Third edition, Butterworth-Heinemann, 1994, Oxford-Boston : 323-6, 332-5.
8. The Eyecare Revolution : Retinal Detachment, Last Update : 03/05/2006, http://www.eyemdlink.com/.

CEREBRAL PALSY

Posted on by diyoyen.
Categories: Syaraf.

DEFINISI

Cerebral Palsy (CP, Kelumpuhan Otak Besar) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya.

Cerebral palsy (CP) merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif. Penyebabnya karena suatu kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh atau belum selesai pertumbuhannya. CP biasanya muncul sebelum anak lahir atau ketika anak berumur 3-5 tahun.
CP terbagi 4 tipe :
1. CP spastic – menyebabkan kesulitan dan kekakuan gerak
2. CP athetoid – mengacu pada gerakan yang dilakukan di luar kesadaran dan kontrol
3. CP ataxic – menyebabkan terganggunya saraf keseimbangan dan persepsi
Empat Tipe
Secara umum CP dikelompokkan dalam empat tipe, yaitu spastic, athetoid, hypotonic, dan tipe kombinasi. Pada tipe spastic atau kaku-kaku, penderita bisa terlalu lemah atau terlalu kaku. Tipe spastic adalah tipe yang paling sering muncul, sekitar 65 persen penderita CP masuk dalam tipe ini.
Athetoid untuk tipe penderita yang tidak bisa mengontrol gerak ototnya, biasanya mereka punya gerakan atau posisi tubuh yang aneh. Kombinasi adalah campuran spastic dan athetoid.
Sedangkan hypotonic untuk anak-anak dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya berkembang jadi spastic atau athetoid. CP juga bisa berkombinasi dengan gangguan epilepsi, mental, belajar, penglihatan, pendengaran, maupun bicara.
Penyebab CP belum diketahui secara jelas, tapi kemungkinan dikarenakan infeksi, masalah saat sang ibu hamil, atau kurangnya suplai oksigen ke otak janin.
Meskipun CP belum bisa disembuhkan tapi bisa dicegah dan dilakukan seragkaian terapi yang dapat mengurangi gangguan yang muncul. Selain itu CP juga bisa dideteksi dengan dilakukan pemantauan secara dini. Pada bayi yang dicurigai CP , dokter akan melihat adakah keterlambatan perkembangan sesuai tahapan perkembangan normal, seperti bila pada umur 4 bulan bayi belum bisa meraih mainan atau bayi berusia 7 bulan belum juga bisa duduk maka segera tanyakan ke dokter.

CP bukan merupakan penyakit dan tidak bersifat progresif (semakin memburuk).
Pada bayi dan bayi prematur, bagian otak yang mengendalikan pergerakan otot sangat rentan terhadap cedera
CP terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi, tetapi 10 kali lebih sering ditemukan pada bayi prematur dan lebih sering ditemukan pada bayi yang sangat kecil.

PENYEBAB

CP bisa disebabkan oleh cedera otak yang terjadi pada saat:
- bayi masih berada dalam kandungan
- proses persalinan berlangsung
- bayi baru lahir
- anak berumur kurang dari 5 tahun.
Tetapi kebanyakkan penyebabnya tidak diketahui.

10-15% kasus terjadi akibat cedera lahir dan berkurangnya aliran darah ke otak sebelum, selama dan segera setelah bayi lahir.
Bayi prematur sangat rentan terhadap CP, kemungkinan karena pembuluh darah ke otak belum berkembang secara sempurna dan mudah mengalami perdarahan atau karena tidak dapat mengalirkan oksigen dalam jumlah yang memadai ke otak.

Cedera otak bisa disebabkan oleh:
# Kadar bilirubin yang tinggi di dalam darah (sering ditemukan pada bayi baru lahir), bisa menyebabkan kernikterus dan kerusakan otak
# Penyakit berat pada tahun pertama kehidupan bayi (misalnya ensefalitis, meningitis, sepsis, trauma dan dehidrasi berat)
# Cedera kepala karena hematom subdural
# Cedera pembuluh darah.

GEJALA

Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang berat, bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan.
Gejalanya bervariasi, mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang berat, yang menyebabkan perubahan bentuk lengan dan tungkai sehingga anak harus memakai kursi roda.

CP dibagi menjadi 4 kelompok:

1. Tipe Spastik (50% dari semua kasus CP), otot-otot menjadi kaku dan lemah.
Kekakuan yang terjadi bisa berupa:
- Kuadriplegia (kedua lengan dan kedua tungkai)
- Diplegia (kedua tungkai)
- Hemiplegia (lengan dan tungkai pada satu sisi tubuh)

2. Tipe Diskinetik (Koreoatetoid, 20% dari semua kasus CP), otot lengan, tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan, menggeliat dan tak terkendali; tetapi bisa juga timbul gerakan yang kasar dan mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan semakin memburuk, gerakan akan menghilang jika anak tidur

3. Tipe Ataksik, (10% dari semua kasus CP), terdiri dari tremor, langkah yang goyah dengan kedua tungkai terpisah jauh, gangguan koordinasi dan gerakan abnormal.

4. Tipe Campuran (20% dari semua kasus CP), merupakan gabungan dari 2 jenis diatas, yang sering ditemukan adalah gabungan dari tipe spastik dan koreoatetoid.

Gejala lain yang juga bisa ditemukan pada CP:
- Kecerdasan di bawah normal
- Keterbelakangan mental
- Kejang/epilepsi (terutama pada tipe spastik)
- Gangguan menghisap atau makan
- Pernafasan yang tidak teratur
- Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya menggapai sesuatu, duduk, berguling, merangkak, berjalan)
- Gangguan berbicara (disartria)
- Gangguan penglihatan
- Gangguan pendengaran
- Kontraktur persendian
- Gerakan menjadi terbatas.

DIAGNOSA

Pada pemeriksaan akan ditemukan tertundanya perkembangan kemampuan motorik.
Refleks infantil (misalnya menghisap dan terkejut) tetap ada meskipun seharusnya sudah menghilang.
Tremor otot atau kekakuan tampak dengan jelas, dan anak cenderung melipat lengannya ke arah samping, tungkainya bergerak seperti gunting atau gerakan abnormal lainnya.

Berbagai pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lainnya:
# MRI kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan bawaan
# CT scan kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan bawaan
# Pemeriksaan pendengaran (untuk menentukan status fungsi pendengaran)
# Pemeriksaan penglihatan (untuk menentukan status fungsi penglihatan)
# EEG
# Biopsi otot.

PENGOBATAN

CP tidak dapat disembuhkan dan merupakan kelainan yang berlangsung seumur hidup. Tetapi banyak hal yang dapat dilakukan agar anak bisa hidup semandiri mungkin.

Pengobatan yang dilakukan biasanya tergantung kepada gejala dan bisa berupa:
- terapi fisik
- braces (penyangga)
- kaca mata
- alat bantu dengar
- pendidikan dan sekolah khusus
- obat anti-kejang
- obat pengendur otot (untuk mengurangi tremor dan kekakuan)
- terapi okupasional
- bedah ortopedik
- terapi wicara bisa memperjelas pembicaraan anak dan membantu mengatasi masalah makan
- perawatan (untuk kasus yang berat).

Jika tidak terdapat gangguan fisik dan kecerdasan yang berat, banyak anak dengan CP yang tumbuh secara normal dan masuk ke sekolah biasa.
Anak lainnya memerlukan terapi fisik yang luas, pendidikan khusus dan selalu memerlukan bantuan dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Pada beberapa kasus, untuk membebaskan kontraktur persendian yang semakin memburuk akibat kekakuan otot, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan untuk mengendalikan refluks gastroesofageal.

Pengobatan CP yang dilakukan dokter dan terapis bertujuan mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal dan potensial. Serangkaian terapi fisik akan diberikan. Tambahan, pengobatan dan tindakan pembedahan mungkin akan diperlukan dalam memperbaiki dislokasi tulang panggul dan tulang belakang.

PROGNOSIS

Prognosis biasanya tergantung kepada jenis dan beratnya CP.
Lebih dari 90% anak dengan CP bisa bertahan hidup sampai dewasa.

PENCEGAHAN
• Sebelum hamil, persiapkan kesehatan ibu dengan baik- pola makan maupun masalah kesehatan.
• Pastikan keamanan di rumah sehingga bayi terjaga.
• Jangan menggendong dan menimang bayi dengan ayunan berlebihan.
• Pastikan keamanan bayi saat berkendara.

Klasifikasi CP berdasarkan kerusakan gerakan:
1.CP Spastik
Otot mengalami kekakuan dan secara permanent akan menjadi kontraktur.
CP Spastik berdasarkan bagian yang mengalami kekakuan:
a.Monoplegia
Mengenai satu ekstremitas biasanya lengan
b.Diplegia
Keempat ekstremitas kena, tetapi kedua kaki lebih berat daripada kedua lengan
c.Triplegia
Mengenai 3 ekstremitas, yang paling banyak mengenai dua lengan dan 1 kaki

d.Quadriplegia
Keempat ekstremitas kena dengan derajat yang sama
e.Hemiplegia
Mengenai salah satu sisi tubuh dan lengan terkena lebih berat
2.CP Atetoid
Mempunyai gerakan dan abnormal dan tidak terkontrol.
3.CP Ataksid
Jarang dijumpai, mengenai keseimbangan.
4.CP Campuran
Sering ditemukan satu penderita terkena lebih dari satu gejala CP.
Gejala penyerta dari CP ini adalah gangguan pada penglihatan, pendengaran, wicara dan kejang,
selain itu juga penderita CP mengalami kesulitan mengunyah dan menelan makanan.

Ciri-ciri
Gejala CP sudah bisa diketahui saat bayi berusia 3-6 bulan, yakni saat bayi mengalami keterlambatan perkembangan. Menurut Dwi, ciri umum dari anak CP adalah perkembangan motorik yang terlambat, refleks yang seharusnya menghilang tapi masih ada (refleks menggenggam hilang saat bayi berusia 3 bulan), bayi yang berjalan jinjit atau merangkak dengan satu kaki diseret.
“Begitu ada petunjuk keterlambatan, misalnya bayi belum bisa tengkurap atau berguling, segeralah bawa ke dokter untuk pemeriksaan,” ujarnya. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter mendeteksi CP pada umumnya melakukan CT-Scan dan MRI untuk mengukur lingkar otak, serta melakukan tes lab untuk menelusuri apakah si ibu memiliki riwayat infeksi seperti toksoplasma atau rubella.
Terapi
Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan CP. Namun tetap ada harapan untuk mengoptimalkan kemampuan anak CP dan membuatnya mandiri. “Berbeda dengan cedera otak yang lain, ciri khas dari CP adalah kelainannya bersifat permanen non progresif, artinya akan berubah ke arah perbaikan, meski perkembangannya lambat,” katanya.
Terapi yang diberikan pada penderita CP akan disesuaikan dengan usia anak, berat ringan penyakit, serta tergantung pada area otak mana yang rusak. “Meski ada bagian otak yang rusak, namun sel-sel yang bagus akan meng-cover sel-sel yang rusak. Untuk mengoptimalkan bagian otak yang sehat tersebut, perlu diberikan stimulasi agar otak anak berkembang baik,” katanya.
Stimulasi otak secara intensif bisa dilakukan melalui panca indera untuk merangsang perimbangan penyebaran dendrit, yang dikenal dengan istilah compensatory dendrite sprouting. Beberapa orangtua yang memiliki anak penderita CP mengaku berhasil mengoptimalkan kemampuan anaknya lewat metode glenn doman.

Metode glenn doman untuk anak dengan cedera otak berupa patterning (pola) untuk melatih gerakan kaki dan tangan, merayap, merangkak, hingga masking (menghirup oksigen), untuk melatih paru-paru agar membesar. Sejak tahun 1998, lebih dari 1700 anak cedera otak mengalami perbaikan cukup berarti setelah melakukan terapi ini.

PEMERIKSAAN DAN TERAPI MORBUS HANSEN

Posted on May 18, 2009 by diyoyen.
Categories: Kulit Kelamin.

LAPORAN KASUS

SMF PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

I.IDENTITAS PENDERITA

Nama: Tn. M

Umur: 26 tahun

Alamat: A, Jember

Jenis Kelamin: Laki-laki

Pekerjaan: Wiraswasta

Status: Menikah

Suku: Jawa

Agama: Islam

II.ANAMNESIS

  1. Keluhan Utama

Bercak kemerahan pada pipi dan tidak terasa raba

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 2 tahun yang lalu, penderita mengeluh munculnya bercak kemerahan pada punggung, timbul mendadak dan terasa gatal. Karena dianggap sebagai panu, penderita membiarkannya. Tidak lama kemudian muncul bercak yang sama di bagian dada dan tangan. Gatal namun tidak terasa nyeri. Selain itu muncul benjolan pada cuping telinga kiri. Lama-kelamaan bercak menajdi semakin banyak dan penderita mengeluh tidak dapat merasakan apa-apa ketika bercak tersebut disentuh. Penderita kemudian berobat ke RSUD Balung dan dibilang sakit kulit. Penderita diberi obat kapsul 3 macam dan pil 2 macam. Penderita lupa nama obatnya. Setelah minum obat tersebut, penderita merasa sakitnya berkurang. Karena merasa sudah sembuh, penderita menghentikan minum obat dan tidak kontrol. Sekitar 1 bulan yang lalu muncul bercak kemerahan di leher dan bercak putih di kaki disertai dengan bengkak pada punggung kaki kanan. Kemudian Pasien berobat ke Puskesmas Lojejer dan diberi obat satu grenjeng warna putih dan coklat diminum 1x perhari. Semakin lama bercak menjadi semakin banyak dan pasien mengeluh kulitnya terasa tebal. Karena merasa takut, penderita akhirnya berobat ke RSUD dr. SOEBANDI Jember.

  1. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.

  1. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga yang tinggal bersama pasien saat ini tidak ada yang menderita penyakit seperti ini.

  1. Riwayat Pengobatan

Pernah berobat ke RSUD Balung dan Puskesmas namun pasien tidak tahu nama obatnya.

  1. Riwayat Alergi

Pasien tidak punya riwayat alergi obat maupun makanan, dan pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan alergi sebelumnya.

III.PEMERIKSAAN FISIK

  1. Status Generalis

Kesadaran: komposmentis

Keadaan Umum: baik

Kepala/Leher: dalam batas normal

Thorak

Cor: S1S2 tunggal, lain-lain dalam batas normal

Pulmo: Vesikuler, Rh-/-, Wh -/-, lain-lain dalam batas normal

Abdomen: Soepel, bising usus (+), lain-lain dalam batas normal

Ekstremitas: dalam batas normal

Genitalia: dalam batas normal

  1. Status Lokalis

Regio

Effloresensi

Fasialis

Makula hiperpigmentasi dengan hipoanestesi, batas tegas, plakat, permukaan halus

Auricularis

Cuping telinga menebal, iktiosis, simetris bilateral

Torakalis

Makula hiperpigmentasi, numular, batas tegas, menyebar, hipoanestesi

Amtebrachii dextra/sinistra et dosrum manus

Makula hiperpigmentasi dengan hipoanestesi, numular sampai plakat, batas tegas, iktiosis, skuama kasar

Cruris

Oedema, eritematus, hangat pada perabaan, iktiosis

Dorsum et plantar pedis

Oedema eritematus, iktiosis, ulserasi

Pemeriksaan Tambahan

Pemeriksaan saraf tepi

N. Auricularis magnus: menebal D/S (+), nyeri D/S (-)

N. Ulnaris: menebal D/S (-), nyeri D/S (-)

N. Peroneus lateralis: menebal D/S (-), nyeri D/S (-)

Fungsi saraf tepi

a.Sensorik

Sensasi raba: terganggu di dalam lesi dan tidak di luar lesi

Sensasi nyeri: terganggu pada lesi

Sensasi suhu: terganggu di dalam lesi

b.Motorik

Mata: lagoftalmus (+)

Ekstremitas superior: tahanan sedang

Ekstremitas inferior: tahanan sedang

c.Otonom

Kulit tampak kering dan retak-retak (fisura), ekstremitas inferior tampak oedema

Pemeriksaan komplikasi

R. Fasialis: Fascies leonina (-), madarosis (-), saddle nose (-), lagoftalmus (+)

Pemeriksaan bakteriologis

BI = +2,MI= -

IV.RESUME

Sejak 2 tahun yang lalu pasien mengeluh bercak kemerahan, berawal dari punggung yang kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Pasien merasa pada bercak tersebut terasa menebal dan tidak terasa apa-apa ketika disentuh. Kaki bengkak berwarna merah kehitaman, terasa nyeri pada punggung kaki dan pada telapak kaki terasa tebal. Pada pemeriksaan di regio pedis didapatkan oedema eritematus pada dorsum pedis dan ulserasi pada plantar pedis. Pada seluruh tubuh didapatkan makula hiperpigmentasi, batas tegas, sentral healing (-), tepi sedikit meninggi, iktiosis dan terdapat penebalan cuping telinga bilateral. Pada pemeriksaan tambahan didapatkan tes sensibilitas (-) penebalan N. Aurikularis magnus. Bakteriologi indeks +2 dan morfologi indeks (-).

V.DIAGNOSIS BANDING

  1. Ptiriasis alba
  2. Ptiriasis rosea

VI.DIAGNOSIS KERJA

Morbus Hansen tipe Multibasiler

VII.PENATALAKSANAAN

  1. Nonmedikamentosa

a.Menjelaskan pada pasien bahwa penyakit ini bisa disembuhkan, tetapi pengobatan akan berlangsung lama, antara 12-18 bulan, untuk itu pasien harus rajin mengambil obat di puskesmas dan tidak boleh putus obat.

b.Jika dalam masa pengobatan, tiba-tiba badan pasien menjadi demam, nyeri di seluruh tubuh, disertai bercak-bercak kemerahan, maka harus segera mencari pertolongan ke saranan pelayanan kesehatan.

c.Penyakit ini mengganggu syaraf sehingga mungkin akan terjadi kecacatan jika tidak ada tindakan pencegahan. Pencegahan

oCuci tangan dan kaki setiap sesudah bekerja dengan sabun, terutama yang banyak mengandung pelembab, bukan detergen.

oRendam jari kaki/tangan sekitar 20 menit dengan air dingin. Apabila kulit sudah lembut, gosok kaki dengan busa agar kulit kering terkelupas.

oUntuk menambah kelembaban dapat diolesin minyak (baby oil).

oSecara teratur periksa kaki, apakah ada luka, kemerahan atau nyeri dan segera mencari pertolongan medis.

oProteksi jari tangan dan kaki, misalnya memakai sepatu, hindari berjalan jauh atau menghindari bersentuhan dengan benda-benda tajam

  1. Medikamentosa

Terapi MDT-MB (Rifampisin, Lampren, dan DDS) selama 12-18 bulan.

VIII.PROGNOSIS

Pada umumnya baik, hanya jika pasien mampu mengikuti program secara teratur..

REFLEKSI KASUS

PEMERIKSAAN DAN TERAPI MORBUS HANSEN

I.SINONIM

Morbus Hansen juga dikenal dengan nama lepra, penyakit kusta, leprosy, Hansen’s disease, dan Hanseniasis.

II.DEFINISI

Penyakit kusta (Penyakit Hansen) adalah infeksi granulomatuosa kronik pada manusia yang menyerang jaringan superfisial, terutama kulit dan saraf perifer (Fauci, 2008). Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen (Zulkifli, 2:2003).

Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya sering dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara dalam pemberian pelayanan kesehatan yang baik dan memadai kepada masyarakat. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang ditimbulkannya (Hiswani, 1:2001).

III.ETIOLOGI

Mikobakteriae merupakan kelompok bakteri berbentuk basil, bersifat aerob yang tidak membentuk spora. Meskipun mereka tidak terwarnai dengan baik, segera setelah diwarnai mereka mempertahankan dekolorisasi oleh asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan basil “cepat asam” (Brooks, 453:2005). Mycobacterium leprae merupakan agen causal pada lepra. Kuman ini berbentuk batang tahan asam yang termasuk familia Mycobacteriaeceae atas dasar morfologik, biokimia, antigenik, dan kemiripan genetik dengan mikobakterium lainnya (Isselbacher, 808:1999).

Bentuk bentuk kusta yang dapat kita lihat dibawah mikroskop adalah bentuk utuh, bentuk pecah – pecah ( fragmented ), bentuk granular ( granulated ), bentuk globus dan bentuk clumps. Bentuk utuh , diman dinding selnya masih utuh, mengambil zat warna merata, dan panjangnya biasanya empat kali lebarnya. Bentuk pecah – pecah, dimana dinding selnya terputus sebagian atau seluruhnya dan pengambilan zat warna tidak merata. Bentuk granular, dimana kelihatan seperti titik – titik tersusun seperti garis lurus atau berkelompok. Bentuk globus, dimana beberapa bentuk utuh atau fragmented atau granulated mengandung ikatan atau berkelompok – kelompok. Kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri dari 40 – 60 BTA sedangkan kelompok besar adalah kelompok yang terdiri dari 200 – 300 BTA. Bentuk clumps, dimana beberapa bentuk granular membentuk pulau – pulau tersendiri dan biasanya lebih dari 500 BTA (Wahyuni, 4-5:2009).

IV.EPIDEMIOLOGI

4.1 Distribusi Menurut Geografi

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar kasus lepra terjadi pada wilayah dengan iklim tropis.

Berdasarkan data yang diperoleh dari WHO pada akhir tahun 2006 didapatkan jumlah pasien kusta yang teregistrasi sebanyak 224.727 penderita. Dari data tersebut didapatkan jumlah pasien terbanyak dari benua Asia dengan jumlah pasien yang terdaftar sebanyak 116.663 dan dari data didapatkan India merupakan negara dengan jumlah penduduk terkena kusta terbanyak dengan jumlah 82.901 penderita. Namun Micronesia F. S merupakan negara dengan jumlah rata-rata prevalensi per 10.000 penduduk terbanyak di dunia, yaitu dengan 9,64 per 10.000 jumlah penduduk. Sementara Indonesia pada 2006 tercatat memiliki jumlah penderita sebanyak 22.175 (WHO). Pada Poli Kulit dan Kelamin RSUD dr. SOEBANDI, Jember dari tahun 1999 sampai tahun 2001 didapatkan jumlah pasien sebanyak 140 penderita, dengan 74 pasien dengan tipe multibasiler dan 66 kasus dengan tipe pausibasiler (Erlan. J.S. et all, 21:2003).

4.2 Distribusi Menurut Waktu

Seperti terlihat pada tabel di bawah, ada 17 negara yang melaporkan 1.000 atau lebih kasus baru selama tahun 2005. Tujuh belas negara ini memiliki kontribusi 94% dari seluruh kasus baru di dunia (Depkes, 7:2006).

Dari tabel terlihat bahwa secara global terjadi penurunan penemuan kasus baru, akan tetapi sejak tahun 2002 pada berbagai negara terjadi peningkatan kasus baru seperti di Republik Demokrasi Kongo, Indonesia, dan Filipina (Depkes RI, 7:2006)

Tabel Penemuan kasus baru di 17 negara dengan jumlah pasien kusta terbanyak

No.

Negara

Jumlah kasus baru ditemukan

1993

2002

2003

2004

2005

1

Angola

339

4.727

2.933

2.109

1.877

2

Bangladesh

6.943

9.844

8.712

8.242

7.882

3

Brazil

34.235

38.365

49.206

49.384

38.410

4

China

3.755

1.646

1.404

1.499

1.658

5

D. R. Congo

3.927

5.037

7.165

11.781

10.737

6

Egypt

1.042

1.318

1.412

1.216

1.134

7

Ethiopati

4.090

4.632

5.193

4.787

4.698

8

India

456.000

473.658

367.143

260.063

161.457

9

Indonesia

12.638.740

12.377

14.641

16.549

19.695

10

Madagascar

740

5.482

5.104

3.710

2.709

11

Mozambique

1.930

5.830

5.907

4.266

5.371

12

Myanmar

12.018

7.386

3.808

3.748

3.571

13

Nepal

6.152

13.830

8.046

6.958

6.150

14

Nigeria

4.381

5.078

4.799

5.276

5.024

15

Philippines

3.442

2.479

2.397

2.254

3.130

16

Sri Lanka

944

2.214

1.952

1.995

1.924

17

U.R.Of Tanzania

2.731

6.497

5.279

5.190

4.237

Jumlah

555.307

(94%)

599.945

(97%)

495.074

(96%)

389.027

(95%)

279.664

(94%)

Jumlah Global

590.933

620.638

514.718

407.791

296.499

.

4.3 Distribusi Menurut Faktor Manusia

a. Etnik atau Suku

Kejadian penyakit kusta menunjukkan adanya perbedaan distribusi dapat dilihat karena faktor geografi. Namun jika diamati dalam satu negara atau wilayah yang sama kondisi lingkungannya ternyata perbedaan distribusi dapat terjadi karena faktor etnik.

Di Myanmar kejadian kusta lepromatosa lebih sering terjadi pada etnik Burma dibandingkan dengan etnik India. Situasi di Malaysia juga mengindikasikan hal yang sama: kejadian kusta lepromatosa lebih banyak pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau India. Demikian pula dengan kejadian di Indonesia etnik Madura dan Bugis lebih banyak menderita kusta dibandingkan etnik Jawa atau Melayu (Depkes RI, 8:2006).

b. Faktor Sosial Ekonomi

Sudah diketahui bahwa faktor sosial ekonomi berperan penting dalam kejadian kusta. Hal ini terbukti pada negara-negara di Eropa. Dengan adanya peningkatan sosial ekonomi, maka kejadian kusta sangat cepat menurun, bahkan hilang. Kasus kusta imor pada negara tersebut ternyata tidak menularkan kepada orang yang sosial ekonomi tinggi. Kegagalan kasus kusta impor untuk menularkan pada kasus kedua di Eropa juga disebabkan karena tingkat sosial ekonomi yang tinggi (Depkes RI, 8:2006).

c. Distribusi Menurut Umur

Kebanyakan penelitian melaporkan distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden, kaena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui. Dengn kata lain kejadian penyakit sering terkait pada umur pada saat timbulnya penyakit. Pada penyakit kronik seperti kusta, informasi berdasarkan data prevalensi dan data umur pada saat timbulnya penyakit mungkin tidak menggambarkan resiko spesifik umur. Kusta diketahui terjadi pada semua umur berkisar antara bayi sampai umur tua (3 minggu sampai lebih dari 70 tahun). Namun yang terbanyak adalah pada usia muda dan produktif (Depkes RI, 8:2006).

d. Distribusi Menurut Jenis Kelamin

Kusta dapat mengenai laki-laki dan perempuan. Menurut catatan sebagian besar negara di dunia kecuali di beberapa negara di Afrika menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak terserang dibandingkan wanita. Relatif rendahnya kejadian kusta pada perempuan kemungkinan karena faktor lingkungan atau faktor biologi. Seperti kebanyakan penyakit menular lainnya, laki-laki lebih banyak terpapar dengan faktor resiko akibat gaya hidupnya (Depkes RI, 8:2006).

4.4 Faktor-faktor yang Menentukan Terjadinya Penyakit Kusta

a. Sumber Penularan

Hanya manusia satu-satunya sampai saat ini yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada armadillo, simpanse, dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar thymus (Depkes RI, 9:2006).

b. Cara Keluar dari Pejamu (Host)

Mukosa hidung telah lama dikenal sebagai sumber dari kuman. Suatu kerokan hidung dari penderita tipe Lepromatous yang tidak diobati menunjukkan jumlah kuman sebesar 10-10. Dan telah terbukti bahwa saluran napas bagian atas dari penderita tipe Lepromatous merupakan sumber kuman yang terpenting dalam lingkungan (Depkes RI, 9:2006).

c. Cara Penularan

Kuman kusta mempunyai masa inkubasi selama 2-5 tahun, akan tetapi dapat juga bertahun-tahun. Penularan terjadi apabila M. leprae yang utuh (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang lama dengan penderita. Penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain (Depkes RI, 10:2006).

d. Cara Masuk ke Pejamu

Tempat masuk kuman kusta ke dalam tubuh pejamu sampai saat ini belum dapat dipastikan. Diperirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernapasan bagian atas dan melalui kontak kulit yang tidak utuh (Depkes RI, 10:2006).

e. Pejamu

Hanya sedikit orang yang akan terjangkit kusta setelah kontak dengan penderita, hal ini disebabkan karena adanya imunitas. M. leprae termasuk kuman obligat intraseluler dan sistem kekebalan yang efektif adalah sistem kekebalan seluler. Faktor fisiologik seperti pubertas, menopause, kehamilan, serta faktor infeksi dan malnutrisi dapat meningkatkan perubahan klinis penyakit kusta. Dari studi keluarga kembar didapatkan bahwa faktor genetik mempengaruhi tipe penyakit yang berkembang setelah infeksi (Depkes RI, 10:2009).

Sebagian besar (95%) manusia kebal terhadap kusta, hampir sebagian kecil (5%) dapat ditulari. Dari 5% yang tertular tersebut, sekitar 70% dapat sembuh sendiri dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit (Depkes RI, 10:2006).

V.PATOGENESIS

Masuknya M.Leprae ke dalam tubuh akan ditangkap oleh APC (Antigen Presenting Cell) dan melalui dua signal yaitu signal pertama dan signal kedua. Signal pertama adalah tergantung pada TCR- terkait antigen (TCR = T cell receptor) yang dipresentasikan oleh molekul MHC pada permukaan APC sedangkan signal kedua adalah produksi sitokin dan ekspresinya pada permukaan dari molekul kostimulator APC yang berinteraksi dengan ligan sel T melalui CD28. Adanya kedua signal ini akan mengaktivasi To sehingga To akan berdifferensiasi menjadi Th1 dan Th2. Adanya TNF α dan IL 12 akan membantu differensiasi To menjadi Th1 (Wahyuni, 6:2009).

Th 1 akan menghasilkan IL 2 dan IFN γ yang akan meningkatkan fagositosis makrofag( fenolat glikolipid I yang merupakan lemak dari M.leprae akan berikatan dengan C3 melalui reseptor CR1,CR3,CR4 pada permukaannya lalu akan difagositosis) dan proliferasi sel B. Selain itu, IL 2 juga akan mengaktifkan CTL lalu CD8+.Di dalam fagosit, fenolat glikolipid I akan melindungi bakteri dari penghancuran oksidatif oleh anion superoksida dan radikal hidroksil yang dapat menghancurkan secara kimiawi. Karena gagal membunuh antigen maka sitokin dan growth factors akan terus dihasilkan dan akan merusak jaringan akibatnya makrofag akan terus diaktifkan dan lama kelamaan sitoplasma dan organella dari makrofag akan membesar, sekarang makrofag seudah disebut dengan sel epiteloid dan penyatuan sel epitelioid ini akan membentuk granuloma (Wahyuni, 6-7:2009).

Th2 akan menghasilkan IL 4, IL 10, IL 5, IL 13. IL 5 akan mengaktifasi dari eosinofil. IL 4 dan IL 10 akan mengaktifasi dari makrofag. IL 4akan mengaktifasi sel B untuk menghasilkan IgG4 dan IgE. IL 4 , IL10, dan IL 13 akan mengaktifasi sel mast (Wahyuni, 7:2009).

Signal I tanpa adanya signal II akan menginduksi adanya sel T anergi dan tidak teraktivasinya APC secara lengkap akan menyebabkan respon ke arah Th2. Pada Tuberkoloid Leprosy, kita akan melihat bahwa Th 1 akan lebih tinggi dibandingkan denganTh2 sedangkan pada Lepromatous leprosy, Th2 akan lebih tinggi dibandingkan dengan Th1(Wahyuni, 7:2009).

APC pada kulit adalah sel dendritik dimana sel ini berasal dari sum – sum tulang dan melalui darah didistribusikan ke jaringan non limfoid. Sel dendritik merupakan APC yang paling efektif karena letaknya yang strategis yaitu di tempat – tempat mikroba dan antigen asing masuk tubuh serta organ – organ yang mungkin dikolonisasi mikroba. Sel denritik dalam hal untuk bekerja harus terlebih dulu diaktifkan dari IDC menjadi DC. Idc akan diaktifkan oleh adanya peptida dari MHC pada permukaan sel, selain itu dengan adanya molekul kostimulator CD86/B72, CD80/B7.1, CD38 dan CD40. Setelah DC matang, DC akan pindah dari jaringan yang inflamasi ke sirkulasi limfatik karena adanya ekspresi dari CCR7 ( reseptor kemokin satu – satunya yang diekspresikan oleh DC matang). M. Leprae mengaktivasi DC melalui TLR 2 – TLR 1 heterodimer dan diasumsikan melalui triacylated lipoprotein seperti 19 kda lipoprotein. TLR 2 polimorfisme dikaitkan dengan meningkatnya kerentanan terhadap leprosy (Wahyuni, 8:2009).

5.1 Patogenesis Kerusakan Saraf pada Pasien Kusta

M.Leprae memiliki bagian G domain of extracellular matriks protein laminin 2 yang akan berikatan dengansel schwaan melalui reseptor dystroglikan lalu akan mengaktifkan MHC kelas II setelah itu mengaktifkan CD4+. CD4+ akan mengaktifkan Th1 dan Th2 dimana Th1 dan Th2 akan mengaktifkan makrofag. Makrofag gagal memakan M. Leprae akibat adanya fenolat glikolipid I yang melindunginya di dalam makrofag. Ketidakmampuan makrofag akan merangsang dia bekerja terus – menerus untuk menghasilkan sitokin dan GF yang lebih banyak lagi. Sitokin dan GF tidak mengenelai bagian self atau nonself sehingga akan merusak saraf dan saraf yang rusak akan diganti dengan jaringan fibrous sehingga terjadilah penebalan saraf tepi. Sel schwann merupakan APC non professional (Wahyuni, 8:2009).

5.2 Patogenesis reaksi Kusta

Reaksi kusta adalah suatu episode akut dalam perjalan kronis penyakit kusta yang dianggap sebagai suatu kelaziman atau bagian dari komplikasi penyakit kusta. Ada dua tipe reaksi dari kusta yaitu reaksi kusta tipe I dan reaksi kusta tipe II. Reaksi kusta tipe I sering disebut reaksi lepra non nodular merupakan reaksi hipersensitifitas tipe IV ( Delayed Type Hipersensitivity Reaction ). Reaksi tipe I sering kita jumpai pada BT dan BL. M. Leprae akan berinteraksi dengan limfosit T dan akan mengakibatkan perubahan sistem imunitas selluler yang cepat. Hasil dari reaksi ini ada dua yaitu upgrading reaction / reversal reaction , dimana terjadi pergeseran ke arah tuberkoloid ( peningkatan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pada respon terhadap terapi, dan downgrading, dimana terjadi pergeseran ke arah lepromatous ( penurunan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pada awal terapi (Wahyuni, 8:2009).

Reaksi kusta tipe II adalah hipersensitivitas humoraltepatnya hipersensitivitas tipe III. Reaksi tipe dua sering juga disebut eritema nodosum lepromatous. Reaksi ini sering terjadi pada pasien LL. M. Lepraeakan berinteraksi dengan antibodi membentuk kompleks imun dan mengendap pada pembuluh darah. Komplemen akan berikatan pada komples imun dan merangsang netrofil untuk menghasilkan enzim lisosom. Enzim lisosom akan melisis sel (Wahyuni, 8:2009).

VI.Gambaran Klinis

Keluhan utama biasanya sebagai akibat kelainan saraf tepi, yang dalam hal ini dapat berupa bercak pada kulit yang mati rasa, rasa tebal, kesemutan, kelemahan otot-otot dan kulit kering akibat gangguan pengeluaran kelenjar keringat. Gejala klinis yang terjadi dapat berupa kelainan pada saraf tepi, kulit, rambut, otot, tulang, mata, dan testis.

Klasifikasi kusta menurut Ridley dan Jopling:

1. Tipe Tuberkuloid (TT)

Lesi ini mengenai baik kulit maupun syaraf, jumlah lesi bisa satu atau beberapa, dapat berupa makula atau plakat yang berbatas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau central healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi, bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsinata. Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot, dan sedikit rasa gatal. Tidak adanya kuman merupakan tanda terdapatnya respon imun pejamu yang adekuat terhadap kuman kusta.

2. Tipe Borderline Tuberkuloid (BT)

Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plakat yang sering disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa, tetapi gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas tipe TT. Adanya gangguan saraf tidak seberat tipe TT dan biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan terletak dekat saraf perifer yang menebal.

3. Tipe Mid Borderline (BB)

Merupakan tipe yang paling tidak stabil, disebut juga sebagai bentuk dismorfik dan jarang dijumpai. Lesi sangat bervariasi, dapat berbentuk makula infiltratif, permukaan lesi dapat mengkilap dan batas lesi kurang jelas. Ciri khasnya adalah lesi punched out, yaitu, suatu lesi hipopigmentasi dengan bagian tengah oval dan berbatas jelas.

4. Tipe Borderline Lepromatosus (BL)

Secara klasik lesi dimulai dengan makula, awalnya sedikit dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan. Walaupun masih kecil, papul dan nodul lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan beberapa nodul nampaknya melekuk pada bagian tengah. Lesi bagian tengah sering tampak normal dengan infiltrasi di pinggir dan beberapa tampak seperti punched out. Tanda-tanda kerusakan saraf lebih cepat muncul dibandingkan dengan tipe LL.

5. Tipe Lepromatous Leprosy

Jumlah lesi pada tipe ini sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematus, berkilap, berbatas tidak tegas, dan pada stadium dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis. Distribusi lesi khas, yakni di daerah wajah, mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga; sedangkan di badan mengenai bagian badan yang dingin, seperti lengan, punggung tangan, dan ekstensor tungkai. Pada stadium lanjut, tampak penebalan kulit yang progresif, cuping telinga menebal, facies leonina, madarosis, iritis, keratitis, deformitas pada hidung, pembesaran kelenjar limfe, dan orkitis yang selanjutnya dapat menjadi atrofi testis.Kerusakan saraf yang luas menyebabkan gejala stocking and glove anesthesia dan pada stadium lanjut serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anastesi dan pengecilan otot tangan dan kaki.

Klasifikasi menurut Ridley dan Jopling

Sifat

Lepromatous Leprosy (LL)

Borderline Lepromatous (BL)

Mid Borderline (BB)

Lesi

Bentuk

Makula, Infiltrat Difus, Papul, Nodul

Makula, Plakat, Papul

Plakat, Dome Shaped (Kubah), Punched Out

Jumlah

Tidak terhitung, praktis tidak ada kulit sehat

Sukar dihitung, masih ada kulit sehat

Dapat dihitung, kulit sehat jelas ada

Distribusi

Simetris

Hampir Simetris

Asimetris

Permukaan

Halus Berkilat

Halus Berkilat

Agak Kasar/berkilat

Batas

Tidak Jelas

Agak Jelas

Agak Jelas

Anastesia

Biasanya Tak Jelas

Tak Jelas

Lebih Jelas

BTA

Lesi Kulit

Banyak (ada globus)

Banyak

Agak Banyak

Sekret Hidung

Banyak (ada globus)

Biasanya Negatif

Negatif

Tes Lepromin

Negatif

Negatif

Biasanya Negatif

Namun ada juga tipe kusta yang tidak termasuk dalam klasifikasi Ridley dan Jopling, tetapi diterima secara luas oleh para ahli kusta, yaitu tipe Intermediate (I). Lesi biasanya berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit disekitarnya normal. Lokasi biasanya di bagian ekstensor ekstremitas, bokong atau muka, kadang-kadang dapat ditemukan makula hipostesia atau sedikit penebalan saraf.

Deformitas dapat terjadi pada kusta. Pada kusta sesuai patofisiologinya ada dua yaitu primer dan sekunder. Deformitas primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagai reaksi terhadap M.leprae, yang mendesak dan merusak jaringan disekitarnya, yaitu kulit, mukosa traktus respiratorius atas, tulang – tulang jari, dan wajah. Deformitas sekunder terjadi sebagai akibat kerusakan saraf, umumnya deformitas diakibatkan keduanya, tetapi terutama karena kerusakan saraf.

Gejala kerusakan saraf pada nervus ulnaris adalah anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis, clawing kelingking dan jari manis, dan atrofi hipotenar dan otot interoseus serta kedua otot lumbrikalis medial. Pada N.medianus adalah anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, tidak mampu aduksi ibu jari, clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, ibu jari kontraktur, dan juga atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral. Pada N.radialis adalah anestesi dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk, tangan gantung (wrist drop) dan tak mampu ekstensi jari – jari atau pergelangan tangan. Pada N. Poplitea lateralis adalah anestesi tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis, kaki gantung (foot drop) dan kelemahan otot peroneus. Pada N.tibialis posterior adalah anestesi telapak kaki, claw toes , dan paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis. Pada N. Fasialis adalah cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus dan cabang bukal, mandibular serta servikal menyebabkan kehilangan ekspresi wajah dan kegagalan mengatupkan bibir. Pada N.trigeminus adalah anestesi kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata.

Kerusakan mata pada kusta dapat primer dan sekunder. Primer mengakibatkan alopesia pada alis mata dan bulu mata, juga dapat mendesak jaringan mata lainnya. Sekunder disebabkan oleh rusaknya N.fasialis yang dapat membuat paralisis N.orbitkularis palpebrarum sebagian atau seluruhnya, mengakibatkan lagoftalmus yang selanjutnya, menyebabkan kerusakan bagian – bagian mata lainnya. Secara sendirian atau bersama – sama akan menyebabkan kebutaan.

Infiltrasi granuloma ke dalam adneksa kulit yang terdiri atas jaringan keringat, kelenjar palit, dan folikel rambut dapat mengakibatkan kulit kering dan alopesia. Pada tipe lepromatous dapat timbul ginekomastia akibat gangguan keseimbangan hormonal dan oleh karena infiltrasi granuloma pada tubulus seminiferus testis.

Kusta histioid, merupakan variasi lesi pada tipe lepromatous yang titandai dengan adanya nodus yang berbatas tegas, dapat juga berbentuk nodus yang berbatas tegas, dapat juga berbentuk plak. Bakterioskopik positif tinggi. Umumnya timbul sebagai kasus relapse sensitive atau relape resistent. Relapse sensitive terjadi, bila penyakit kambuh setelah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Dapat terjadi oleh karena kuman yang dorman aktif kembali atau pengobatan yang diselesaikan tisak adekuat, baik dosis maupun lama pemberiannya.

Gejala pada reaksi kusta tipe I adalah perubahan lesi kulit, demam yang tidak begitu tinggi, gangguan konstitusi, gangguan saraf tepi, multiple small satellite skin makulopapular skin lesion dan nyeri pada tekan saraf. Reaksi kusta tipe I dapat dibedakan atas reaksi ringan dan berat.

Pada reaksi kusta tipe II adalah neuritis, gangguan konstitusi, dan komplikasi organ tubuh. Reaksi kusta tipe II juga dapat dibedakan atas reaksi ringan dan berat.

Fenomena lucio berupa plak atau infiltrat difus, merah muda, bentuk tidak teratur, dan nyeri. Lesi lebih berat tampak lebih eritematosa, purpura, bula, terjadi nekrosis dan ulserasi yang nyeri. Lesi lambat sembuh dan terbentuk jaringan parut. Dari hasil histopatologi ditemukan nekrosis epidermal iskemik, odem, proliferasi endotelial pembuluh darah dan banyak basil M.leprae di endotel kapiler.

Eritema nodosum lepromatous (ENL), timbul nodul subkutan yang nyeri tekann dan meradang, biasanya dalam kumpulan. Setiap nodul bertahan selama satua atau dua minggu tetapi bisa timbul kumpulan nodul baru. Dapat terjadi demam, limfadenopati, dan athralgia.

VII.Pemeriksaan Pasien

Inspeksi pasien dapat dilakukan dengan penerangan yang baik, lesi kulit juga harus diperhatikan dan juga dilihat kerusakan kulit. Palpasi dan pemeriksaan dengan menggunakan alat – alat sederhana yaitu jarum untuk rasa nyeri, kapas untuk rasa raba, tabung reaksi masing – masing dengan air panas dan es, pensil tinta Gunawan (tanda Gunawan) untuk melihat ada tidaknya dehidrasi di daerah lesi yang dapat jelas dan dapat pula tidak dan sebagainya. Cara menggoresnya mulai dari tengah lesi, yang kadang – kadang dapat membantu, tetapi bagi penderita yang memiliki kulit berambut sedikit, sangat sukar untuk menentukannya.

7.1 Pemeriksaan Saraf Tepi

Untuk saraf perifer, perlu diperhatikan pembesaran, konsistensi dan nyeri atau tidak. Hanya beberapa saraf yang diperiksa yaitu N.fasialis, N.aurikularis magnus, N.radialis, N. Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea lateralis, N. Tibialis posterior. Pada pemeriksaan saraf tepi dapat dibandingkan saraf bagian kiri dan kanan, adanya pembesaran atau tidak, pembesaran reguler/irreguler, perabaan keras/kenyal, dan yang terakhir dapat dicari adanya nyeri atau tidak (Daili, 21:2003). Pada tipe lepromatous biasanya kelainan sarafnya billateral dan menyeluruh sedangkan tipe tuberkoloid terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.

Untuk mendapat kesan saraf mana yang mulai menebal atau sudah menebal dan saraf mana yang masih normal, diperlukan pengalaman yang banyak (Daili, 21:2003).

Cara pemeriksaan saraf tepi

d.N. Aurukularis magnus

Pasien disuruh menoleh ke samping semaksimal mungkin, maka saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot di bawahnya sehingga acapkali sudah bisa terlihat bila saraf membesar. Dua jari pemeriksa diletakkan di atas persilangan jalannya saraf tersebut dengan arah otot. Bila ada penebalan, maka pada perabaan secara seksama akan menemukan jaringan seperti kabel atau kawat. Jangan lupa membandingkan antara yang kiri dan yang kanan (Daili, 21:2003).

e.N. Ulnaris

Tangan yang diperiksa harus santai, sedikit fleksi dan sebaiknya diletakkan di atas satu tangan pemeriksa. Tangan pemeriksa yang lain meraba lekukan di bawah siku (sulkus nervi ulnaris) dan merasakan, apakah ada penebalan atau tidak. Perlu dibandingkan antara yang kanan dan yang kiri untuk melihat adanya perbeedaan atau tidak (Daili, 22:2003).

f.N. Paroneus lateralis

Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di sebelah lateral dari capitulum fibulae, biasanya sedikit ke posterior (Daili, 22:2003).

7.2 Tes Fungsi Saraf

a. Tes Sensoris

Gunakan kapas, jarum, serta tabung reaksi berisi air hangat dan dingin.

-. Rasa Raba

Sepotong kapas yang dilancipkan ujungnya digunakan untuk memeriksa perasaan rangsang raba dengan menyinggungkannya pada kulit. Pasien yang diperiksa harus duduk pada waktu dilakukan pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa bilamana merasa disinggung bagian tubuhnya dengan kapas, ia harus menunjukkan kulit yang disinggung dengan jari telunjuknya dan dikerjakan dengan mata terbuka. Bilamana hal ini telah jelas, maka ia diminta menutup matanya, kalau perlu matanya ditutup dengan sepotong kain. Selain diperiksa pada lesi di kulit sebaiknya juga diperiksa pada kulit yang sehat. Bercak pada kulit harus diperiksa pada bagian tengahnya (Daili, 22:2003).

-. Rasa Nyeri

Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum yang tajam dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul dan pasien harus mengatakan tusukan mana yang tajam dan mana yang tumpul (Daili, 22:2003).

-. Rasa Suhu

Dilakukan dengan menggunakan 2 tabung reaksi, yang satu berisi air panas (sebaiknya 400C), yang lainnya air dingin (sebaiknya sekitar 200C). Mata pasien ditutup atau menoleh ke tempat lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. Sebelumnya dilakukan kontrol pada kulit yang sehat. Bila pada daerah tersebut pasien salah menyebutkan sensasi suhu, maka dapat disebutkan sensasi suhu di daerah tersebut terganggu (Daili, 22:2003).

b. Tes Otonom

Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi pada penyakit kusta, pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan tes anhidrosis.

  1. Tes dengan pensil tinta

Pensil tinta digariskan mulai dari bagian tengah lesi yang dicurigai terus sampai ke daerah kulit normal.

  1. Tes pilokarpin

Daerah kulit pada makula dan perbatasannya disuntik dengan pilokarpin subkutan. Setelah beberapa menit tampak daerah kulit normal berkeringat, sedangkan daerah lesi tetap kering.

c. Tes Motoris (Voluntary muscle test)

Cara memeriksa:

Mula-mula periksa gerakan dari motorik yang akan diperiksa:

-. Periksa fungsi saraf ulnaris dengan merapatkan jari kelingking pasien. Peganglah jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis pasien, lalu mintalah pasien untuk merapatkan jari kelingkingnya. Jika pasien dapat merapatkan jari kelingkingnya, taruhlah kertas diantara jari kelingking dan jari manis, mintalah pasien untuk menahan kertas tersebut. Bila pasien mampu menahan coba tarik kertas tersebut perlahan untuk mengetahui ketahanan ototnya.

-. Periksa fungsi saraf medianus dengan meluruskan ibu jari ke atas. Minta pasien mengangkat ibu jarinya ke atas. Perhatikan ibu jari apakah benar-benar bergerak ke atas dan jempolnya lurus. Jika pasien dapat melakukannya, kemudian tekan atau dorong ibu jari pada bagian telapaknya.

-. Periksa fungsi saraf radialis dengan meminta pasien untuk menggerakkna pergelangan tangan ke belakang. Uji kekuatan otot dengan mencoba menahan gerakan tersebut.

-. Periksa fungsi saraf eroneus communis dengan meminta pasien melakukan gerakan fleksi pada pergelangan kaki dan minta juga pasien untuk melakukan gerakan ke lateral, lalu nilai kekuatan ototnya dengan mencoba untuk menahan gerakan tersebut.

7.3 Pemeriksaan Bakterioskopis

Pemeriksaaan bakterioskopik, sediaan dari kerokan jaringan kulit atau usapan mukosa hidung yang diwarnai denganpewarnaan BTA ZIEHL NEELSON. Pertama – tama harus ditentukan lesi di kulit yang diharapkan paling padat oleh basil setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tepat yang diambil. Untuk riset dapat diperiksa 10 tempat dan untuk rutin sebaiknya minimal 4 – 6 tempat yaitu kedua cuping telinga bagian bawah dan 2 -4lesi lain yang paling aktif berarti yang paling eritematosa dan paling infiltratif. Pemilihan cuping telinga tanpa mengiraukan ada atau tidaknya lesi di tempat tersebut oleh karena pengalaman, pada cuping telinga didapati banyak M.leprae.

Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada sebuah sediaan dinyatakan dengan indeks bakteri ( I.B) dengan nilai 0 sampai 6+ menurut Ridley. 0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang (LP).

1 + Bila 1 – 10 BTA dalam 100 LP

2+Bila 1 – 10 BTA dalam 10 LP

3+Bila 1 – 10 BTA rata – rata dalam 1 LP

4+Bila 11 – 100 BTA rata – rata dalam 1 LP

5+Bila 101 – 1000BTA rata – rata dalam 1 LP

6+Bila> 1000 BTA rata – rata dalam 1 LP

Indeks morfologi adalah persentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah solid dan non solid.

IM= Jumlah solidx 100 %

Jumlah solid + Non solid

Syarat perhitungan IM adalah jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA, I.B 1+ tidak perlu dibuat IM karedna untuk mendapatkan 100 BTA harus mencari dalam 1.000 sampai 10.000lapangan, mulai I.B 3+ maksimum harus dicari 100 lapangan.

7.4 Pemeriksaan Histopatologis

Pemeriksaan histopatologi, gambaran histopatologi tipe tuberkoloid adalah tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan non solid. Tipe lepromatosa terdpat kelim sunyi subepidermal ( subepidermal clear zone ) yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis yang jaringannya tidak patologik. Bisa dijumpai sel virchow dengan banyak basil. Pada tipe borderline terdapat campuran unsur – unsur tersebut.

Sel virchow adalah histiosit yang dijadikan M.leprae sebagai tempat berkembangbiak dan sebagai alat pengangkut penyebarluasan.

7.5 Pemeriksaan Serologis

Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman mengakibatkan diagnosis serologis merupakan alternatif yang paling diharapkan. Pemeriksaan serologik, didasarkan terbentuk antibodi pada tubuh seseorang yang terinfeksi oleh M.leprae. Pemeriksaan serologik adalah MLPA (Mycobacterium Leprae Particle Aglutination), uji ELISA dan ML dipstick.

7.6 Pemeriksaan Lepromin

Tes lepromin adalah tes non spesifik untuk klasifikasi dan prognosis lepra tapi tidak untuk diagnosis. Tes ini berguna untuk menunjukkan sistem imun penderita terhadap M.leprae. O,1 ml lepromin dipersiapkan dari ekstrak basil organisme, disuntikkan intradermal. Kemudian dibaca setelah 48 jam/ 2hari ( reaksi Fernandez) atau 3 – 4 minggu ( reaksi Mitsuda). Reaksi Fernandez positif bila terdapat indurasi dan eritemayang menunjukkan kalau penderita bereaksi terhadap M. Leprae yaitu respon imun tipe lambat ini seperti mantoux test ( PPD) pada tuberkolosis.

Reaksi Mitsuda bernilai :

0Papul berdiameter 3 mm atau kurang

+ 1 Papul berdiameter 4 – 6 mm

+ 2Papul berdiameter 7 – 10 mm

+ 3 papul berdiameter lebih dari 10 mm atau papul dengan ulserasi

VIII.Diagnosis

Penyakit kusta disebut juga dengan the greatest immitator karena memberikan gejala yang hampir mirip dengan penyakit lainnya. Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada penemuan tanda kardinal (cardinal sign), yaitu:

1.Bercak kulit yang mati rasa

Pemeriksaan harus di seluruh tubuh untuk menemukan ditempat tubuh yang lain, maka akan didapatkan bercak hipopigmentasi atau eritematus, mendatar (makula) atau meninggi (plak). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, rasa suhu, dan rasa nyeri.

2.Penebalan saraf tepi

Dapat disertairasa nyeri dan dapat juga disertai dengan atau tanpa gangguan fungsi saraf yang terkena, yaitu:

  1. Gangguan fungsi sensoris: hipostesi atau anestesi
  2. Gangguan fungsi motoris: paresis atau paralisis
  3. Gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, edema, pertumbuhan rambut yang terganggu.

3.Ditemukan kuman tahan asam

Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit, cuping telinga, dan lesi kulit pada bagian yang aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsi kulit atau saraf.

Untuk menegakkan diagnosis penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak atau belum dapat ditemukan, maka kita hanya dapat mengatakan tersangka kusta dan pasien perlu diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan sampai diagnosis kusta dapat ditegakkan atau disingkirkan.

IX.Diagnosis Banding

Pada lesi makula, differensial diagnosisnya adalah vitiligo, Ptiriasis versikolor,Ptiriasis alba, Tinea korporis , dll. Pada lesi papul, Granuloma annulare, lichen planus dll. Pada lesi plak, Tinea korporis, Ptiriasis rosea, psoriasis dll. Pada lesi nodul, Acne vulgaris, neurofibromatosis dll. Pada lesi saraf, Amyloidosis, diabetes, trachoma dll.

Vitiligo, makula putih berbatas tegas dan mengenai seluruh tubuh yang mengandung sel melanosit. Vitiligo merupakan hipomelanosis idiopatik yang ditandai dengan makula putih yang dapat meluas. Patogenesis vitiligo ada beberapa yaitu hipotesis autoimun, hipotesis neurohumoral, hipotesis autotoksik dan pajanan terhadap bahan kimia.

Hipotesis autoimun, ada hubungan dengan hipotiroid Hashimoto, anemia pernisiosa dan hipoparatiroid. Hipotesis neurohumeral, karena melanosit terbentuk dari neural crest maka diduga faktor neural berpengaruh. Hasil metabolisme tirosin adalah melanin dan katekol. Kemungkinan ada produk intermediate dari katekol yang mempunyai efek merusak melanosit. Pada beberapa lesi ada gangguan keringat, dan pembuluh darah, terhadap respon transmitter saraf misalnya setilkolin. Hipotesis autotoksik,hasil metabolisme tirosin adalah DOPA lalu akan diubah menjadi dopaquinon. Produk – produk dari DOPA bersifat toksik terhadap melanin. Pajanan terhadap bahan kimia, adanya monobenzil eter hidrokuinon pada sarung tangan dan fenol pada detergen.

Gejala klinis vitiligo adalah terdapat repigmentasi perifolikuler. Daerah yang paling sering terkena adalah bagian ekstensor tulang terutama bagian atas jari, periofisial pada mata, mulut dan hidung, tibialis anterior dan pergelangan tangan bagian fleksor.Lesi bilateral atau simetris. Mukosa jarang terkena, kadang – kadang mengenai genitalia eksterna, puting susu, bibir dan ginggiva.

Vitiligo dapat dibagi atas dua yaitu lokal dan generalisata. Vitiligo lokal dapat dibagi tiga yaitu vitiligo fokal adalah makula satu atau lebih tetapi tidak segmental, vitiligo segmental adalah makula satu atau lebih yang distribusinya sesuai dengan dermatom, dan mukosal yang hanya terdapat pada mukosa. Vitiligo generalisata juga dapat dibagi tiga yaitu vitiligo acrofasial adalah depigmentasi hanya pada bagian distal ekstremitas dan muka serta merupakan stadium awal vitiligo generalisata, vitiligo vulgaris adalah makula yang luas tetapi tidak membentuk satu pola, dan vitiligo campuran adalah makula yang menyeluruh atau hampir menyeluruh merupakan vitiligo total.

Ptiriasis versikolor,disebabkan oleh Malaize furfur. Patogenesisnya adalah terdpat flora normal yang berhubungan denganPtiriasis versikolor yaitu Pitysporum orbiculare bulat atau Pitysporum oval. Malaize furfur merupakan fase spora dan miselium. Faktor predisposisi ada dua yaitu faktor eksogen dan faktor endogen. Faktor endogen adalah akibat rendahnya imun penderita dsedangkan faktor eksogen adalah suhu, kelembapan udara dan keringat. Hipopigmentasi dapat disebabkan oleh terjadinya asam dekarbosilat yang diprosuksi oleh Malaize furfur yang bersifat inhibitor kompetitif terhadap enzim tirosinase dan mempunyai efek sitotoksik terhadap melanin.

Gejala klinis Ptiriasis versikolor, kelainannya sangat superfisialis, bercak berwarna – warni, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus, fluoresensi dengan menggunakan lampu wood akan berwarna kuning muda, papulovesikular dapat ada tetapi jarang, dan gatal ringan. Secara mikroskopik akan kita peroleh hifa dan spora ( spaghetti and meat ball).

Tinea korporis, dermatiofitosis pada kulit tubuh tidak berambut (glabrous skin) . Gejala klinisnya adalah lesi bulat atau lonjong, eritema, skuama, kadang papul dan vesikel di pinggir, daerah lebih terang, terkadang erosi dan krusta karena kerokan, lesi umumnya bercak – bercak terpisah satu dengan yang lain, dapat polisiklik, dan ada center healing.

Lichen Planus, ditandai dengan adanya papul – papul yang mempunyai warna dan konfigurasi yang khas. Papul –papul berwarna merah, biru, berskuama, dan berbentuk siku – siku. Lokasinya diekstremitas bagian fleksor, selaput lendir, dan alat kelamin. Rasanya sangat gatal, umumnya membaik 1 – 2 tahun. Hipotesis mengatakan liken planus merupakan infeksi virus.

Psoriasis, penyebabnya autoimun bersifat kronik dan residitif. Ditandai dengaadanya bercak – bercak eritema berbatas tegas dengan skuama kasar, berlapis – lapis dan transparan disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, Koebner. Gejala klinisnya adalah tidak ada pengaru terhadap keadaan umum, gatal ringan, kelainan pada kulit terdiri bercak – bercak eritema yang meninggi atau plak dengan skuama diatasnya, eritema sirkumskrip dan merata tapi pada akhir di bagian tengah tidak merata. Kelainan bervariasi yaitu numuler, plakat, lentikulerdan dapat konfluen.

Akne Vulgaris, penyakit peradangan menahun folikel pilosebaseayang umumnya pada remaja dan dapat sembuh sendiri. Gejala klinisnya adalah sering polimorf yang terdiri dari berbagai kelainan kulit, berupa komedo, papul, pustul, nodus dan jaringan parut akibat aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotropik maupun yang hipertopik.

Neuropatik pada diabetes, gejalanyatergantung pada jenis neuropatik dan saraf yang terkena. Beberapa orang dengan kerusakan saraf tidak menunjukkan gejala apapun. Gejala ringan muncul lebih awal dan kerusakan saraf terjadi setelah beberapa tahun. Gejala kerusakan saraf dapat berupa kebas atau nyeri pada kaki, tangan , pergelangan tangan, dan jari – jari tangan, maldigestion, diare, konstipasi, masalah pada urinasi, lemas, disfungsi ereksi dll.

Defisiensi vitamin B6,gejala klinis termasuk seboroik dermatitis, cheilotis, glossitis, mual, muntah, dan lemah. Pemeriksaan neurologis menunjukka penurunan propiosepsi dan vibrasi dengan rasa sakit dan sensasi temperatur, refleks achilles menurun atau tidak ada.

Defisiensi folat, gejala klinisnya tidak dapat dipisahkan dengan defisiensi kobalamin ( vitamin B12) walaupun demensia lebih dominan. Pasien mengalami sensorimotor poly neuropathy dan demensia.

X.Pengobatan

Tujuan utama yaitu memutuskan mata rantai penularan untuk menurunkan insiden penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit, untuk mencapai tujuan tersebut, srategi pokok yg dilakukan didasarkan atas deteksi dini dan pengobatan penderita.

Dapson, diamino difenil sulfon bersifat bakteriostatik yaitu mengahalangi atau menghambat pertumbuhan bakteri. Dapson merupakan antagonis kompetitif dari para-aminobezoic acid (PABA) dan mencegah penggunaan PABA untuk sintesis folat oleh bakteri. Efek samping dari dapson adlah anemia hemolitik, skin rash, anoreksia, nausea, muntah, sakit kepala, dan vertigo.

Lamprene atauClofazimin, merupakan bakteriostatik dan dapat menekan reaksi kusta. Clofazimin bekerja dengan menghambat siklus sel dan transpor dari NA/K ATPase.Efek sampingnya adalah warna kulit bisa menjadi berwarna ungu kehitaman,warna kulit akan kembali normal bila obat tersebut dihentikan, diare, nyeri lambung.

Rifampicin, bakteriosid yaitu membunuh kuman. Rifampicin bekerja dengan cara menghambat DNA- dependent RNA polymerase pada sel bakteri dengan berikatan pada subunit beta. Efek sampingnya adalah hepatotoksik, dan nefrotoksik.

Prednison, untuk penanganan dan pengobatan reaksi kusta. Sulfas Ferrosus untuk penderita kusta dgn anemia berat. VitaminA, untuk penderita kusta dgn kekeringan kulit dan bersisisk (ichtyosis). Ofloxacin dan Minosiklin untuk penderita kusta tipe PB I.

Regimen pengobatan kusta disesuaikan dengan yang direkomendasikan oleh WHO/DEPKES RI (1981). Untuk itu klasifikasi kusta disederhanakan menjadi:

1. Pausi Basiler (PB)

2. Multi Basiler (MB)

Dengan memakai regimen pengobatan MDT/= multi drug treatment.Kegunaan MDT untuk mengatasi resistensi Dapson yang semakin meningkat, mengatasi ketidakteraturan penderita dalam berobat, menurunkan angka putus obat pada pemakaian monoterapi Dapson, dan dapat mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.

Regimen Pengobatan Kusta tersebut (WHO/DEPKES RI).PB dengan lesi tunggal diberikan ROM (Rifampicin Ofloxacin Minocyclin). Pemberian obat sekali saja langsung RFT/=Release From Treatment. Obat diminum di depan petugas. Anak-anak Ibu hamil tidak di berikan ROM. Bila obat ROM belum tersedia di Puskesmas diobati dengan regimen pengobatan PB lesi (2-5).Bila lesi tunggal dgn pembesaran saraf diberikan: regimen pengobatan PB lesi (2-5).

Rifampicin

Ofloxacin

Minocyclin

Dewasa

(50-70 kg)

600 mg

400 mg

100 mg

Anak

(5-14 th)

300 mg

200 mg

50 mg

PB dengan lesi 2 – 5.Lama pengobatan 6 dosis ini bisa diselesaikan selama (6-9) bulan. Setelah minum 6 dosis ini dinyatakan RFT (Release From Treatment) yaitu berhenti minum obat.

Rifampicin

Dapson

Dewasa

600 mg/bulan

Diminum di depan petugas kesehatan

100 mg/hr diminum di rumah

Anak-anak

(10-14 th)

450 mg/bulan

Diminum di depan petugas kesehatan

50 mg/hari diminum di rumah

MB dengan lesi > 5.Lama pengobatan 12 dosis ini bisa diselesaikan selama 12-18 bulan. Setelah selesai minum 12 dosis obat ini, dinyatakan RFT/=Realease From Treatment yaitu berhenti minum obat. Masa pengamatan setelah RFT dilakukan secara pasif untuktipe PB selama 2 tahun dan tipe MB selama 5 tahun.

Rifampicin

Dapson

Lamprene

Dewasa

600 mg/bulan diminum di depan petugas kesehatan

100 mg/hari diminum di rumah

300 mg/bulan diminum di depan petugas kesehatan dilanjutkan dgn 50 mg/hari diminum di rumah

Anak-anak

(10-14 th)

450 mg/bulan diminum di depan petugas

50 mg/hari diminum di rumah

150 mg/bulan diminum di depan petugas kesehatan dilanjutkan dg 50 mg selang sehari diminum di rumah

Pengobatan reaksi kusta. Bila reaksi tidak ditangani dengan cepat dan tepat maka dapat timbul kecacatan berupa kelumpuhan yang permanen seperticlaw hand , drop foot , claw toes , dan kontraktur. Untuk mengatasi hal-hal tersebut diatas dilakukan pengobatan à “Prinsip pengobatan Reaksi Kusta “ yaitu immobilisasi / istirahat, pemberian analgesik dan sedatif, pemberian obat-obat anti reaksi, MDT diteruskan dengan dosis yang tidak diubah.

Pada reaksi ringan, istirahat di rumah, berobat jalan, pemberian analgetik dan obat-obat penenang bila perlu, dapat diberikan Chloroquine 150 mg 3×1 selama 3-5 hari, dan MDT (obat kusta) diteruskan dengan dosis yang tidak diubah.

Reaksi berat, immobilisasi, rawat inap di rumah sakit, pemberian analgesik dan sedative, MDT (obat kusta) diteruskan dengan dosis tidak diubah, pemberian obat-obat anti reaksi dan pemberian obat-obat kortikosteroid misalnya prednison.Obat-obat anti reaksi,Aspirin dengan dosis 600-1200 mg setiap 4 jam (4 – 6x/hari ) , Klorokuin dengan dosis 3 x 150 mg/hari, Antimon yaitu stibophen (8,5 mg antimon per ml ) yang diberikan 2-3 ml secara selang-seling dan dosis total tidak melebihi 30 ml. Antimon jarang dipakai oleh karena toksik. Thalidomide juga jarang dipakai,terutama padawanita (teratogenik ).Dosis 400 mg/hari kemudian diturunkan sampai mencapai 50 mg/hari.

Pemberian Kortikosteroid,dimulai dengan dosis tinggi atau sedang.Digunakan prednison atau prednisolon.Gunakan sebagai dosis tunggal pada pagi hari lebih baik walaupun dapat juga diberikan dosis berbagi. Dosis diturunkan perlahan-lahan (tapering off) setelah terjadi respon maksimal.

XI.Pengobatan Kusta Untuk Situasi Khusus

Jika MDT-WHO tidak dapat dilaksanakan karena berbagai alasan, WHO expert committe pada tahun 1997 mempunyai regimen untuk situasi khusus, yaitu:

a.Penderita tidak dapat diobati dengan rifampisin

Penyebabnya mungkin alergi, gangguan pada fungsi hepar, ada penyakit penyerta atau resisten terhadap obat ini. Regimen untuk penderita ini, adalah:

Lama Pengobatan

Jenis Obat

Dosis

6 Bulan

Klofazimin

Ofloksasin

Minosiklin

50 mg/hari

400 mg/hari

100 mg.hari

Diikuti dengan 18 bulan

Klofazimin dengan Ofloksasin atau

Minosiklin

50 mg/hari

400 mg/hari

100 mg/hari

Pada tahun 1994 WHO Study Group on Chemotherapy of Leprosy menyatakan klaritromisisn 500 mg/hari dapat menggantikan ofloksasin atau minosiklin pada regimen di atas.

b.Penderita yang menolak kofazimin

Biasanya penderita menolak obat ini karena adanya pewarnaan kulit. Untuk itu klofazimin pada MDT_MB dapat diganti dengan ofloksasin 400 mg/hari selama 12 bulan atau minosiklin 100 mg/hari selama 12 bulan.

Pada tahun 1997, WHO Expert of Committe on Leprosy merekomendasikan juga regimen MDT-MB alternatis selama 24 bulan:

-. Rifampisin 600 mg/bulan selama 24 bulan,

-. Ofloksasin 400 mg/bulan selama 24 bulan, dan

-. Minosiklin 100 mg/bulan selama 24 bulan

c.Penderita yang tidak dapat diobati dengan DDS

Bila DDS menyebabkan terjadinya efek samping berat pada penderita PB maupun MB, obat ini harus dihentikan.

Regimen pengganti DDS berikut diberikan selama 6 bulan dengan cara:

Rifampisin

Klofazimin

Dewasa

600 mg/bln

50 mg/hari dan 300 mg/bulan

Anak-anak

450 mg/bln

50 mg/hari dan 150 mg/bulan

XII.Komplikasi

Di dunia, lepra mungkin penyebab tersering kerusakan tangan. Trauma dan infeksi kronik sekunderdapat menyebabkan hilangnya jari jemari ataupun ekstremitas bagian distal. Juga sering terjadi kebutaan. Fenomena lucio yang ditandai dengan artitis, terbatas pada pasien lepromatosus difus, infiltratif dan non noduler. Kasus klinik yang berat lainnya adalah vaskulitis nekrotikus dan menyebabkan meningkatnya mortalitas. Amiloidos sekunder merupakan penyulit pada penyakit leprosa berat terutama ENL kronik.

XIII.Prognosis

Setelah program terapi obat biasanya prognosis baik, yang paling sulit adalah manajemen dari gejala neurologis, kontraktur dan perubahan pada tangan dan kaki. Ini membutuhkan tenaga ahli seperti neurologis, ortopedik, ahli bedah, prodratis, oftalmologis, physical medicine, dan rehabilitasi. Yang tidak umum adalah secondary amyloidosis dengan gagal ginjal dapat mejadi komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, et all. 2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology). Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Daili, et all. 2003. Kusta. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Departemen Kesehatan RI. 2006. Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Jakarta: Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Nasional.

Erlan, J.E, et all, 2003. Penderita Lepra Rawat Jalan di RSUD dr. SOEBANDI Jember. Dalam Jurnal Biomedis. Jember: Penerbit FK UNEJ.

Fauci, A. 2008. 17th edition, Harrison’s Prinsiples of Internal Medicine. USA: Mc. Graw-Hill Companies, Inc.

Hiswani, 2001. Kusta Salah Satu Penyakit Menular yang Masih Dijumpai di Indonesia. Medan: USU Digital Library.

Isselbacher, et all. 1999. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 13. Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lerner, K, et all. 2003. World of Mikrobiology and Immunology. USA: Gale and Design TM and Thomson Learning TM.

Wahyuni, S. 2009. Dermatomuskular Sistem Dengan Kusta. Medan: USU Digital Library.

WHO. 2002. Definitions and Technical Guidelines for Leprosy Case Holding In The Frame of The Leprosy Elimination Strategy. Regional Office for Africa Division of prevention and control of communicable diseases Regional Leprosy Elimination Programme.

Zulkifli. 2003. Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya. Medan: USU Digital Library.

IMPETIGO: TERAPI DAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TOPIKAL BERDASARKAN EVIDENCE BASED MEDICINE

Posted on by diyoyen.
Categories: Kulit Kelamin.

LAPORAN KASUS

SMF PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

I.IDENTITAS PENDERITA

Nama: An R. M. R

Jenis Kelamin: Laki-laki

Umur: 16 bulan

Suku: Jawa

Agama: Islam

Pekerjaan: -

Alamat:S, Jember

II.HETEROANAMNESIS

Heteroanamnesis dilakukan pada Mbah pasien yang mengantarkan pasien berobat ke RSUD dr. SOEBANDI Jember

  1. Keluhan Utama

Luka garukan di regio lumbal posterior dekstra

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

Menurut Mbah pasien mulai 10 hari yang lalu pasien mengeluhkan gatal pada regio lumbal posterior dekstra, tanpa adanya keluhan gatal di daerah lain.

Awalnya muncul vesikel, karena gatal, lalu digaruk oleh pasien kemudian vesikel pecah dan menimbulkan kerak. Vesikel-vesikel semakin lama semakin bertambah banyak dan menyebar. Pasien sudah dibawa berobat ke dokter, diberi salep dan tablet namun keluhan tidak berkurang. Akhirnya pasien berobat ke RSUD dr. SOEBANDI Jember.

  1. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

  1. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga yang tinggal bersama pasien saat ini tidak ada yang menderita penyakit seperti ini.

  1. Riwayat Pengobatan

Pernah berobat ke dokter umum, lalu diberi salep dan tablet, namun keluhan tidak berkurang.

  1. Riwayat Alergi

Pasien tidak punya riwayat alergi obat maupun makanan, dan pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan alergi sebelumnya.

III.PEMERIKSAAN FISIK

  1. Status Generalis

Kesadaran: komposmentis

Keadaan Umum: baik

Kepala/Leher: dalam batas normal

Thorak

Cor: S1S2 tunggal, lain-lain dalam batas normal

Pulmo: Vesikuler, Rh-/-, Wh -/-, lain-lain dalam batas normal

Abdomen: Soepel, bising usus (+), lain-lain dalam batas normal

Ekstremitas: dalam batas normal

Genitalia: dalam batas normal

  1. Status Lokalis

Lokasi : regio lumbal dekstra bagian posterior

Efloresensi : Pada pemeriksaan didapatkan lesi kulit berupa papula berisi cairan keruh, tidak dikelilingi daerah eritematus, selain itu juga ditemukan bekas bula yang pecah berupa kulit yang eritematus dengan krusta tipis kecoklatan pada bagian tepi.

IV.RESUME

Seorang anak laki-laki 16 bulan, dating dengan keluhan utama adanya luka garukan di regio lumbal dekstra bagian posterior.

Awalnya muncul vesikel, karena gatal, lalu digaruk oleh pasien kemudian vesikel pecah dan menimbulkan kerak. Vesikel-vesikel semakin lama semakin bertambah banyak dan menyebar. Pasien sudah dibawa berobat ke dokter, diberi salep dan tablet namun keluhan tidak berkurang. Akhirnya pasien berobat ke RSUD dr. SOEBANDI Jember.

Pada pemeriksaan fisik status lokalis di region lumbal dekstra bagian posterior, didapatkan lesi kulit berupa papula berisi cairan keruh, tidak dikelilingi daerah eritematus, selain itu juga ditemukan bekas bula yang pecah berupa kulit yang eritematus dengan krusta tipis kecoklatan pada bagian tepi.

V.DIAGNOSIS BANDING

  1. Dermatitis kontak
  2. Varicella
  3. Karbunkel
  4. Furunkel

VI.DIAGNOSIS KERJA

Impetigo Bulosa

VII.USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

Bila diperlukan dapat melakukan pemeriksaan isi vesikel dengan pengecatan gram, lalu bias dilakukan uji katalase.

VIII.PENATALAKSANAAN

  1. Nonmedikamentosa

Menjaga kebersihan, yaitu dengan :

-. Mandi teratur dengan sabun mandi

-. Pakaian, handuk, sprei, sering diganti dan dicuci air panas

-. Pakaian, handuk, sebaiknya hanya digunakan oleh satu orang (tidak untuk digunakan beramai-ramai)

-. Kontrol setelah 5-7 hari

  1. Medikamentosa

Sistemik : Eritromisin sirup 250 mg, 3 DD I ct

Topikal : Asam Fusidat

IX.PROGNOSIS

Pada umumnya baik, pada pasien ini 5-7 hari kemudian tidak kontrol mungkin saja sudah tejadi perbaikan sehingga menurut keluarga pasien tidak perlu kontrol.

REFLEKSI KASUS

IMPETIGO: TERAPI DAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TOPIKAL

BERDASARKAN EVIDENCE BASED MEDICINE

I.DEFINISI

Impetigo adalah salah satu contoh pioderma, yang menyerang lapisan epidermis kulit (Djuanda, 56:2005). Impetigo biasanya juga mengikuti trauma superficial dengan robekan kulit dan paling sering merupakan penyakit penyerta (secondary infection) dari Pediculosis, Skabies, Infeksi jamur, dan pada insect bites (Beheshti, 2:2007).

II.SINONIM

Impetigo krustosa juga dikenal sebagai impetigo kontangiosa, impetigo vulgaris, atau impetigo Tillbury Fox. Impetigo bulosa juga dikenal sebagai impetigo vesikulo-bulosa atau cacar monyet (Djuanda, 56-57:2005).

III.ETIOLOGI

Impetigo disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Group A Beta Hemolitik Streptococcus (Streptococcus pyogenes). Staphylococcus merupakan pathogen primer pada impetigo bulosa dan ecthyma (Beheshti, 2:2007).

Staphylococcus merupakan bakteri sel gram positif dengan ukuran 1 µm, berbentuk bulat, biasanya tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur, kokus tunggal, berpasangan, tetrad, dan berbentuk rantai juga bisa didapatkan. Staphylococcus dapat menyebabkan penyakit berkat kemampuannya mengadakan pembelahan dan menyebar luas ke dalam jaringan dan melalui produksi beberapa bahan ekstraseluler. Beberapa dari bahan tersebut adalah enzim dan yang lain berupa toksin meskipun fungsinya adalah sebagai enzim. Staphylococcus dapat menghasilkan katalase, koagulase, hyaluronidase, eksotoksin, lekosidin, toksin eksfoliatif, toksik sindrom syok toksik, dan enterotoksin. (Brooks, 317:2005).

Streptococcus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat, yang mempunyai karakteristik dapat berbentuk pasangan atau rantai selama pertumbuhannya. Lebih dari 20 produk ekstraseluler yang antigenic termasuk dalam grup A, (Streptococcus pyogenes) diantaranya adalah Streptokinase, streptodornase, hyaluronidase, eksotoksin pirogenik, disphosphopyridine nucleotidase, dan hemolisin (Brooks, 332:2005).

IV.EPIDEMIOLOGI

Impetigo terjadi di seluruh Negara di dunia dan angka kejadiannya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Di Amerika Serikat Impetigo merupakan 10% dari masalah kulit yang dijumpai pada klinik anak dan terbanyak pada daerah yang jauh lebih hangat, yaitu pada daerah tenggara Amerika (Provider synergies, 2:2007). Di Inggris kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan 1,6% pada anak usia 5-15 tahun. Sekitar 70% merupakan impetigo krustosa (Cole, 1:2007).

Pasien dapat lebih jauh menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali menyebar dengan cepat pada sekolah atau tempat penitipan anak atau juga pada tempat dengan hygiene buruk atau tempat tinggal yang padat penduduk (Cole, 1:2007).

V.FAKTOR PREDISPOSISI

  • Kontak langsung dengan pasien impetigo
  • Kontak tidak langsung melalui handuk, selimut, atau pakaian pasien impetigo
  • Cuaca panas maupun kondisi lingkungan yang lembab
  • Kegiatan/olahraga dengan kontak langsung antar kulit seperti gulat
  • Pasien dengan dermatitis, terutama dermatitis atopik

(Sumber Beheshta, 2:2007).

VI.MANIFESTASI KLINIK

1)Impetigo Krustosa

Tempat predileksi tersering pada impetigo krustosa adalah di wajah, terutama sekitar lubang hidung dan mulut, karena dianggap sumber infeksi dari daerah tersebut. Tempat lain yang mungkin terkena, yaitu anggota gerak (kecuali telapak tangan dan kaki), dan badan, tetapi umumnya terbatas, walaupun penyebaran luas dapat terjadi (Boediardja, 2005; Djuanda, 2005).

Biasanya mengenai anak yang belum sekolah. Gatal dan rasa tidak nyaman dapat terjadi, tetapi tidak disertai gejala konstitusi. Pembesaran kelenjar limfe regional lebih sering disebabkan oleh Streptococcus.

Kelainan kulit didahului oleh makula eritematus kecil, sekitar 1-2 mm. Kemudian segera terbentuk vesikel atau pustule yang mudah pecah dan meninggalkan erosi. Cairan serosa dan purulen akan membentuk krusta tebal berwarna kekuningan yang memberi gambaran karakteristik seperti madu (honey colour). Lesi akan melebar sampai 1-2 cm, disertai lesi satelit disekitarnya. Lesi tersebut akan bergabung membentuk daerah krustasi yang lebar. Eksudat dengan mudah menyebar secara autoinokulasi (Boediardja, 2005).

2). Impetigo Bulosa

Tempat predileksi tersering pada impetigo bulosa adalah di ketiak, dada, punggung. Sering bersama-sama dengan miliaria. Terdapat pada anak dan dewasa. Kelainan kulit berupa vesikel (gelembung berisi cairan dengan diameter 0,5cm) kurang dari 1 cm pada kulit yang utuh, dengan kulit sekitar normal atau kemerahan. Pada awalnya vesikel berisi cairan yang jernih yang berubah menjadi berwarna keruh. Atap dari bulla pecah dan meninggalkan gambaran “collarette” pada pinggirnya. Krusta “varnishlike” terbentuk pada bagian tengah yang jika disingkirkan memperlihatkan dasar yang merah dan basah. Bulla yang utuh jarang ditemukan karena sangat rapuh (Yayasan Orang Tua Peduli, 1:2008).

Bila impetigo menyertai kelainan kulit lainnya maka, kelainan itu dapat menyertai dermatitis atopi, varisela, gigitan binatang dan lain-lain. Lesi dapat lokal atau tersebar, seringkali di wajah atau tempat lain, seperti tempat yang lembab, lipatan kulit, ketiak atau lipatan leher. Tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening di dekat lesi. (Yayasan Orang Tua Peduli, 1:2008).

Pada bayi, lesi yang luas dapat disertai dengan gejala demam, lemah, diare. Jarang sekali disetai dengan radang paru, infeksi sendi atau tulang. (Yayasan Orang Tua Peduli, 1:2008).

VII.PEMERIKSAAN PENUNJANG

Bila diperlukan dapat memeriksa isi vesikel dengan pengecatan gram untuk menyingkirkan diagnosis banding dengan gangguan infeksi gram negative. Bisa dilanjutkan dengan tes katalase dan koagulase untuk membedakan antara Staphylococcus dan Streptococcus (Brooks, 332:2005).

VIII.DIAGNOSIS BANDING

  1. Dermatitis atopi: keluhan gatal yang berulang atau berlangsung lama (kronik) dan kulit kering; penebalan pada lipatan kulit terutama pada dewasa (likenifikasi); pada anak seringkali melibatkan daerah wajah atau tangan bagian dalam.
  2. Candidiasis (infeksi jamur candida): papul merah, basah; umumnya di daerah selaput lender atau daerah lipatan.
  3. Dermatitis kontak: gatal pada daerah sensitive yang kontak dengan zat-zat yang mengiritasi.
  4. Diskoid lupus eritematus: lesi datar(plak), batas tegas yang mengenai sampai folikel rambut.
  5. Ektima: lesi berkrusta yang menutupi daerah ulkus (luka dengan dasar dan dinding) dapat menetap selama beberapa minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila infeksi sampai jaringan kulit dalam (dermis).
  6. Herpes simpleks: vesikel berkelompok dengan dasar kemerahan yang pecah menjadi lecet tertutupi oleh krusta, biasanya pada bibir dan kulit.
  7. Gigitan serangga: Terdapat papul pada daerah gigitan, dapat nyeri.
  8. Skabies: Papula yang kecil dan menyebar, terdapat terowongan pada sela-sela jari, gatal pada malam hari.
  9. Varisela: Vesikel pada dasar kemerahan bermula di badan dan menyebar ke tangan, kaki, dan wajah; vesikel pecah dan membentuk krusta; lesi terdapat pada beberapa tahap (vesikel, krusta) pada saat yang sama (Cole, 3:2007).

IX.KOMPLIKASI

Impetigo biasanya sembuh tanpa penyulit dalam 2 minggu walaupun tidak diobati. Komplikasi berupa radang ginjal pasca infeksi Streptococcus terjadi pada 1-5% pasien terutama usia 2-6 tahun dan hal ini tidak dipengaruhi oleh pengobatan antibiotic. Gejala berupa bengkak dan kenaikan tekanan darah, pada sepertiga terdapat urine seperti warna the. Keadaan ini umumnya sembuh secara spontan walaupun gejala-gejala tadi muncul (Yayasan Orang Tua Peduli, 4:2008).

Komplikasi lainnya yang jarang terjadi adalah infeksi tulang (osteomielitis), radang paru-paru (pneumonia), selulitis, psoriasis, Staphylococcal scalded skin syndrome, radang pembuluh limfe atau kelenjar getah bening (Yayasan Orang Tua Peduli, 4:2008).

X.PENATALAKSANAAN

1.Terapi nonmedikamentosa

oMenghilangkan krusta dengan cara mandikan anak selama 20-30 menit, disertai mengelupaskan krusta dengan handuk basah

oMencegah anak untuk menggaruk daerah lecet. Dapat dengan menutup daerah yang lecet dengan perban tahan air dan memotong kuku anak

oLanjutkan pengobatan sampai semua luka lecet sembuh

oLakukan drainase pada bula dan pustule secara aseptic dengan jarum suntik untuk mencegah penyebaran local

oDapat dilakukan kompres dengan menggunakan larutan NaCl 0,9% pada impetigo krustosa.

oLakukan pencegahan seperti yang disebutkan pada point XI di bawah.

2.Terapi medikamentosa

a.Terapi topikal

Pengobatan topikal sebelum memberikan salep antibiotik sebaiknya krusta sedikit dilepaskan baru kemudian diberi salep antibiotik. Pada pengobatan topikal impetigo bulosa bisa dilakukan dengan pemberian antiseptik atau salap antibiotik (Djuanda, 57:2005).

1). Antiseptik

Antiseptik yang dapat dijadikan pertimbangan dalam pengobatan impetigo terutama yang telah dilakukan penelitian di Indonesia khususnya Jember dengan menggunakan Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah triklosan 2%. Pada hasil penelitian didapatkan jumlah koloni yang dapat tumbuh setelah kontak dengan triklosan 2% selama 30”, 60”, 90”, dan 120” adalah sebanyak 0 koloni (Suswati, 6:2003).

Sehingga dapat dikatakan bahwa triklosan 2%mampu untuk mengendalikan penyebaran penyakit akibat infeksi Staphylococcus aureus (Suswati, 6:2003).

2). Antibiotik Topikal

oMupirocin

Mupirocin topikal merupakan salah satu antibiotik yang sudah mulai digunakan sejak tahun 1980an. Mupirocin ini bekerja dengan menghambat sintesis RNA dan protein dari bakteri. Pada salah satu penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan mupirocin topikal yang dibandingkan dengan pemberian eritromisin oral pada pasien impetigo yang dilakukan di Ohio didapatkan hasil sebagai berikut:

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa penggunaan mupirocin topikal jauh lebih unggul dalam mempercepat penyembuhan pasien impetigo, meskipun pada awal kunjungan diketahui lebih baik penggunaan eritromisin oral, namun pada akhir terapi dan pada evaluasi diketahui jauh lebih baik mupirocin topikal dibandingkan dengan eritromisin oral dan penggunaan mupirocin topikal memiliki sedikit failure (Goldfarb, 1-3).

Untuk penggunaan mupirocin topikal dapat dilihat pada tabel berikut:

oFusidic Acid

Tahun 2002 telah dilakukan penelitian terhadap fusidic acid yang dibandingkan dengan plasebo pada praktek dokter umum yang diberikan pada pasien impetigo dan didapatkan hasil sebagai berikut:

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa penggunaan plasebo jauh lebih baik dibandingkan dengan menggunakan fassidic acid.

oRatapamulin

Pada tanggal 17 April 2007 ratapamulin telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk digunakan sebagai pengobatan impetigo. Namun bukan untuk yang disebabkan oleh metisilin resisten ataupun vankomisin resisten. Ratapamulin berikatan dengan subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat dengan peptidil transferase yang pada akhirnya akan menghambat protein sintesis dari bakteri (Buck, 1:2007).

Pada salah satu penelitian yang telah dilakukan pada 210 pasien impetigo yang berusia diantara 9 sampai 73 tahun dengan luas lesi tidak lebih dari 100 cm2 atau >2% luas dari total luas badan. Kultur yang telah dilakukan pada pasien tersebut didapatkan 82% dengan infeksi Staphylococcus aureus. Pada pasien-pasien tersebut diberi ratapamulin sebanyak 2 kali sehari selama 5 hari terapi. Evaluasi dilakukan mulai hari ke dua setelah hari terakhir terapi, dan didapatkan luas lesi berkurang, lesi telah mengering, dan lesi benar-benar telah membaik tanpa penggunaan terapi tambahan. Pada 85,6% pasien dengan menggunakan ratapamulin didapatkan perbaikan klinis dan hanya hanya 52,1% pasien mengalami perbaikan klinis yang menggunakan plasebo (Buck, 1:2007).

oDicloxacillin

Penggunaan dicloxacillin merupaka First line untuk pengobatan impetigo, namun akhir-akhir ini penggunaan dicloxacillin mulai tergeser oleh penggunaan ratapamulin topikal karena diketahui ratapamulin memiliki lebih sedikit efek samping bila dibandingkan dengan dicloxacillin. Penggunaan dicloxacillin sebagai terapi topical pada impetigo sebagai berikut:

(Sumber: Primary Clinical Care Manual 2007)

b.Terapi sistemik

1)Penisilin dan semisintetiknya (pilih salah satu)

a.Penicillin G procaine injeksi

Dosis: 0,6-1,2 juta IU im 1-2 x sehari

Anak: 25.000-50.000 IU im 1-2 x sehari

b.Ampicillin

Dosis: 250-500 mg per dosis 4 x sehari

Anak: 7,5-25 mg/Kg/dosis4x sehari ac

c.Amoksicillin

Dosis: 250-500 mg / dosis 3 x sehari

Anak: 7,5-25 mg/Kg/dosis 3 x sehari ac

d.Cloxacillin (untuk Staphylococcus yang kebal penicillin)

Dosis: 250-500 mg/ dosis, 4 x sehari ac

Anak: 10-25 mg/Kg/dosis 4 x sehari ac

e.Phenoxymethyl penicillin (penicillin V)

Dosis: 250-500 mg/dosis, 4 x sehari ac

Anak: 7,5-12,5 mg/Kg/dosis, 4 x sehari ac

2)Eritromisin (bila alergi penisilin)

Dosis: 250-500 mg/dosis, 4 x sehari pc

Anak: 12,5-50 mg/Kg/dosis, 4 x sehari pc

3)Clindamisin (alergi penisilin dan menderita saluran cerna)

Dosis: 150-300 mg/dosis, 3-4 x sehari

Anak > 1 bulan 8-20 mg/Kg/hari, 3-4 x sehari

4)Penggunaan terapi antibiotik sistemik lainnya

Pada penggunaan sistemik antibiotik lainnya yang dapat dipertimbangkan adalah, sebagai berikut:

XI.PENCEGAHAN

Tindakan yang bisa dilakukan guna pencegahan impetigo diantaranya

  1. Cuci tangan segera dengan menggunakan air mengalir bila habis kontak dengan pasien, terutama apabila terkena luka.
  2. Jangan menggunakan pakaian yang sama dengan penderita
  3. Bersihkan dan lakukan desinfektan pada mainan yang mungkin bisa menularkan pada orang lain, setelah digunakan pasien
  4. Mandi teratur dengan sabun dan air (sabun antiseptik dapat digunakan, namun dapat mengiritasi pada sebagian kulit orang yang kulit sensitif)
  5. Higiene yang baik, mencakup cuci tangan teratur, menjaga kuku jari tetap pendek dan bersih
  6. Jauhkan diri dari orang dengan impetigo
  7. Cuci pakaian, handuk dan sprei dari anak dengan impetigo terpisah dari yang lainnya. Cuci dengan air panas dan keringkan di bawah sinar matahari atau pengering yang panas. Mainan yang dipakai dapat dicuci dengan disinfektan.
  8. Gunakan sarung tangan saat mengoleskan antibiotik topikal di tempat yang terinfeksi dan cuci tangan setelah itu

(Sumber: Northern Kentucky Health Department, 1:2005).

XII.PROGNOSIS

Pada umumnya baik.

DAFTAR PUSTAKA

Beheshti, 2007, Impetigo, a brief review, Fasa-Iran: Fasa Medical School.

Buck, 2007, Ratapamulin: A New Option of Impetigo, Virginia USA: University of Virginia Children’s Hospital.

Cole, 2007, Diagnosis and Treatment of Impetigo, Virginia:University of Virginia School of Medicine.

Djuanda, 2005, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Goldfarb,Randomized Clinical Trial of Topical Mupirocin Versus Oral Eyitromycin for Impetigo, Ohio: University School of Medicine.

NN, 2007, Primary Clinical Care Manual 2007,

Northern Kentucky Health Department, 2005, Impetigo, Kentucky: Epidemiology Services, Northern Kentucky Health Department.

Provider synergies, 2007, Impetigo Agents, Topical Review, Ohio: Intellectual Property Department Provider Synergies LLC.

Suswati. E, 2003, Efek Hambatan Triklosan 2% Terhadap Pertumbuhan Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), Jember: Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

Yayasan Peduli Orang Tua, 2007, Impetigo, Jakarta Selatan: Yayasan Peduli Orang Tua.